OPINI,

Mahasiswa secara historis memang tak akan pernah lepas dengan Citra sebagai Agent of Change,  suatu Citra yang tak terbantahkan lagi ketika di masa pra-kemerdekaan telah berkalang tanah di ranah organisasi membaur dengan rakyat sipil serta pejuang kemerdekaan untuk mengentaskan harkat bangsa ditangan bangsa penjajah.

Dan juga ketika memasuki masa Orde Baru,  dibawah rezim yang sangat represif justru mahasiswa dipaksa kembali ke kampus,  dilarang berorganisasi dengan beragam dalih semisal membahayakan stabilitas negara hingga tudingan pemberontakan PKI yang disinyalir akan bangkit lagi ketika itu, namun pada akhirnya bersama aktivis dari kalangan rakyat,  mahasiswa berhasil menumbangkan suatu rezim yang sangat represif tersebut,  yakni rezim Orde Baru Presiden Soeharto.

Namun lain zaman lain pula aral yang melintang.  Di era Konsolidasi Demokrasi saat ini justru iklim di ranah Mahasiswa seakan kembali ke Era Orde Baru, dimana Mahasiswa “back to campus”, namun kini motifnya bukan karena tekanan rezim pemerintahan yang represif,  melainkan terlena akan segala kemudahan yang ada saat ini sehingga secara tidak langsung telah membentuk pragmatisme mindset mahasiswa secara tidak langsung untuk “back to campus and reach your goal”. Benang merah dari kesamaan kondisi yang terjadi di iklim Mahasiswa saat ini adalah : Kurangnya kesadaran Mahasiswa akan pentingnya Berorganisasi.  Singkirkan sejenak alibi tentang hak-asasi,  karena disini kita akan berbicara tentang hakikat Mahasiswa yang sebenarnya,  melebihi arti daripada cita-cita pribadi Mahasiswa itu sendiri.

Di kampus manapun seantero nusantara, tentu sudah banyak organisasi mahasiswa intra kampus, sebagai wadah pengembangan potensi non-akademik mahasiswa. Dan juga ada organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek) dimana Di Indonesia sendiri terdapat banyak Ormek-Ormek yang sudah lama hidup dan berjuang mengawal sejarah pergolakan bangsa, dengan beragam Ideologi dan cita-cita yang diusung.

Sebut saja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan juga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lain-lain. Namun satu hal yang sepantasnya kita pahami, bahwa semua Ormek yang ada di kampus-kampus tersebut memiliki cita-cita besar yakni membangun Negara Indonesia menjadi lebih baik lagi, sesuai dengan yang tersemat pada UUD 1945. Melalui kader-kadernya,  sudah banyak lahir para tokoh-tokoh penting bangsa yang dulunya berkalang tanah belajar di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus.

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus sendiri hampir selalu mewarnai konstelasi panggung politik di kampus, melalui perwakilan kader-kadernya untuk duduk di pos-pos Leading Sektor. Hal ini dikarenakan kampus merupakan miniatur kehidupan berbangsa dan bernegara, maka dari situlah Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus tampil sebagai wadah untuk mencetak Mahasiswa yang tidak hanya berkompeten secara Akademik saja, melainkan Multi-Kompeten.  Analoginya,  Mahasiswa seharusnya bisa hidup di Air,  di Gurun,  di Darat dan di Udara.  Artinya,  Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus mendidik Mahasiswa sebagai wadah untuk menempa diri menjadi Insan yang Multi-Kompeten, untuk menginterpretasikan Citra Mahasiswa sebagai Agent of Change..
Namun, kini keberadaan organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus tampak kurang diminati, bahkan keberadaanya dipandang sinis dengan beragam alasan Klise,  terlalu politis! misalnya.

Hal ini bisa kita pahami karena sejalan dengan masifnya pemberitaan di berbagai media cetak maupun elektronik terkait kiprah para politisi yang terjerat berbagai kasus korupsi dan lain sebagainya,  hal tersebut sangat efektif dalam membentuk opini mahasiswa secara umum supaya menjadi antipati terhadap nilai tawar dari proses belajar Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus.

Mahasiswa yang bersikap antipati untuk belajar berorganisasi di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus biasanya disebut sebagai Mahasiswa “Netral”. Suatu sikap yang bisa dipahami sebagai pilihan hak pribadi dan tentu tidak bisa kita salahkan.
Namun yang sangat disayangkan, akhir-akhir ini sepertinya mulai menyebar virus “anti-ormek” yang konon kabarnya dihembuskan oleh para Mahasiswa “Netral” kepada para Mahasiswa Baru dengan menebar isu-isu yang tidak benar tentang Ormek, supaya para Maba enggan untuk berproses di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus. Terlepas dari benar atau tidaknya isu tersebut,  tentu sangat disayangkan jika benar terjadi dan jelas sangat merugikan merugikan bagi setiap Ormek dalam hal Pengkaderan. Jika Ormek dituduh terlalu politis oleh sekelompok mahasiswa “netral anti-politis” maka justru sesungguhnya para mahasiswa itu tengah berpolitik,  supaya tujuannya tercapai,  yakni mempengaruhi mahasiswa untuk tidak berproses di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus. Karena Politik sendiri dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan/kepentingan.  Sama saja kan?
Pada akhirnya, sebagai sesama Mahasiswa yang masih satu warna almamater maka sudah sepantasnya untuk saling menjunjung aspek profesionalitas dalam belajar dan berproses. Tak perlu lah kiranya untuk menjatuhkan ataupun menjegal mahasiswa/i lain untuk berproses di Ormek dengan cara-cara yang kurang baik. Sejatinya,  Ormek juga menghormati Mahasiswa yang memilih untuk tidak beproses di Ormek.  Jadi,  marilah kita saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing.  Karena ketika sudah berada di dalam kampus,  kita semua adalah sama.  Salam Mahasiswa! (RQN)

By Pijar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *