Meningkatkan Nalar Kritis Pemuda Berbasis Filantropi Melalui Lembaga Bimbingan Belajar di Era Masyarakat 5.0

 

Kegiatan Belajar Mengajar di SMPN 9 Jember

Suatu diskursif menarik ketika Bangsa Indonesia dihadapkan pada realitas gelombang globalisasi dan modernisasi dalam dunia yang terbuka, dan transparansi di segala bidang/sektor produktif, maka orang mulai bertanya dan mengkomparasikan kualitas kehidupan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Tujuannya sebagai reflektif-autokritik perbaikan di segala bidang, salah satunya di bidang pendidikan. Kemajuan dan perkembangan pendidikan menjadi faktor keberhasilan suatu bangsa. Apabila terjadi ketidakstabilan di suatu negara, maka penyebab utamanya adalah ketimpangan pendidikan.

Pendidikan hari ini adalah cerminan tentang wajah Bangsa Indonesia di masa depan. Upaya serius setiap elemen bangsa dalam memperhatikan pendidikan generasi mudanya, kelak akan menyelamatkan bangsa tersebut dari dinamika pergeseran zaman yang sarat tantangan dan sangat kompetitif. Masyarakat yang rendah kualitas pendidikannya akan semakin jauh tertinggal dan hanya akan menjadi sasaran kolonialisme bangsa-bangsa lain yang lebih maju mutu pendidikannya. Awal dari mata rantai kemiskinan adalah kebodohan, kemudian dampaknya adalah perpecahan dan terjadinya tindak kriminalitas. Oleh karena itu, merumuskan paradigma dan sistem pendidikan merupakan suatu hal yang diidealkan di tengah perkembangan zaman.

Jepang telah menggagas masyarakat 5.0 yang lebih mengedepankan sisi kemanusiaan berbasis teknologi. Society 5.0 atau Masyarakat 5.0 adalah konsep teknologi masyarakat yang berpusat pada manusia dan berkolaborasi dengan teknologi (AI dan IoT) untuk menyelesaikan masalah sosial yang terintegrasi pada ruang dunia maya dan nyata. Sebelum Society 5.0 terdapat versi sebelumnya yaitu Society 1.0 (Masyarakat berburu), Society 2.0 (Masyarakat bertani), Society 3.0 (Masyarakat Industri) dan Society 4.0 (Masyarakat Informasi). Jadi pada dasarnya Society 5.0 merupakan era baru dalam kehidupan bermasyarakat yang sudah terintegrasi dengan sistem teknologi berupa IoT(Internet Of Things) dan AI (Kecerdasan buatan) yang dapat memproses big data dan menganalisa data tersebut.

Dalam dokumen “Realizing Society 5.0Powered by NewsPicks Brand Design dinyatakan “This is Society 5.0, a super-smart society. Japan will take the lead to realize this ahead of the rest of the world”. Konsep Revolusi Industri 4.0 yang mengedepankan teknologi dan informasi sudah dirasa berjalan maksimal. Menurut Merit L Smith dalam buku dilema dari sebuah determinisme teknologi di Massachusetts Institute of Technologi (MIT), bahwa Determinisme Teknologi beranggapan struktur yang ada di dalam masyarakat bergantung pada perkembangan teknologi dan beriringan dengan perkembangannya. Konsepsi inilah yang terjadi pada revolusi industri 4.0 bahwa dominasi teknologi lebih besar dari kemanusiaan dalam masyarakat sehingga nilai-nilai humanisme universal terpinggirkan. Satu hal yang perlu mendapatkan penekanan perhatian dalam kaitannya dengan pendidikan adalah perlunya meningkatkan nalar kritis guna mengkontruksi pikiran sehingga diskursus berbagai pengetahuan/keilmuan mulai dari teori dan praksis terus dinegosiasikan secara berkelanjutan. Tujuannya kemudian adalah menghasilkan inovasi dari berbagai pengetahuan/keilmuan guna menghadapi segala bentuk kemapanan serta ancaman duniawi pada era society 5.0.

Dewasa ini sudah mulai tumbuh menjamur Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di berbagai daerah Indonesia, terutama di kota-kota besar. Hal ini tidak menutup kemungkinan pendididikan kritis dalam LBB dapat diimplementasikan. Berdirinya LBB dilatarbelakangi dari berbagai perspektif. Pertama, adanya LBB dapat dimaknai sebagai tambahan jam belajar diluar KBM sekolah disertai dengan stimulus materi pelajaran yang lebih mapan. Kedua, seorang pelajar beranggapan dengan mengikuti LBB dapat meningkatkan kualitas keilmuan yang belum dipahami dan diharapkan bisa menghadapi berbagai soal ujian tes PTN, POLRI, TNI dsb. Ketiga, LBB dimaknai sebagai tempat seorang guru yang baru lulus PTN untuk meningkatkan softskill mengajar dan menambah penghasilan sampingan. Lebih jauh dari itu dalam konteks kekinian, Setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan memiliki kewajiban untuk melanjutkan tonggat estafet kesinambungan ilmu. Sehingga dapat dikatakan bahwa menjamin pemerataan pendidikan menjadi amanah besar setiap warga negara. Pendidikan tidak serta merta tentang meningkatkan fasilitas dan anggaran dana, namun kepedulian untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang dilakukan oleh masyarakat. Paham ini yang akan menanamkan semangat belajar sepanjang hayat yang tercantum dalam pasal 4 UU No. 20 Tahun 2003.

Pendidikan kritis berbasis filantropi merupakan rumusan yang ideal untuk menghadapi segala bentuk tantangan pendidikan. Pendidikan kritis dilaksanakan melalui LBB karena pada saat ini kesejahteraan guru masih tidak jelas nasibnya. LBB menjadi satu-satunya sarana alternatif bagi pendidik untuk meningkatkan kesejahteraanya. Mengapa Filantropi? Karena konsep filantropi mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga diharapkan pendidik saat proses transfer ilmu pengetahuan mengemasnya menjadi suasana yang humanis. Jika nilai kemanusiaan tertanam pada diri setiap pendidik  dan terdidik, maka pendidikan akan bermuara pada kaidah menjaga kesejahteraan universal.

`Cara berpikir yang digunakan pada abad 21 dikenal dengan kemampuan 4C, yaitu critical thinking, creativity, communication, collaboration. Sehingga nantinya peserta didik terbiasa dengan kecakapan hidup abad 21. Muaranya dari pembelajaran abad 21 adalah kreativitas dan inovasi.

Kemampuan bernalar kritis dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas LBB. Yakni, dengan memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Ini dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis. Para pendidik dapat mendesain sedemikian rupa agar siswa mampu mengeksplor segala kecerdasan dan kemampuan yang dimilikinya. Pendidik dapat menyiapkan terlebih dahulu materi, bahan, media dll untuk menunjang siswa bernalar kritis.

Dalam hal ini pendidik berperan sebagai pengantar atau menthor yang mendampingi peserta didik menemukan solusi dari permasalahan yang dipelajari. Muaranya, solusi yang dihasilkan tidak hanya solusi hambar. Namun solusi yang memiliki nilai sesuai konteks yang mampu menghadapi segala bentuk kemapanan zaman. Hal tersebut dimaknai sebagai kreativitas dan inovasi.

Penggunaan telepon genggam, tablet, atau laptop berikut koneksi internet, dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Pencarian bahan ajar sebagai materi diskusi atau pemanfaatan berbagai video pembelajaran yang tersedia gratis di berbagai situs-situs pendidikan seperti Khan Academy, Amazon Education, Ruangguru, Wikipedia, dan lainnya. Yang terpenting adalah bijak menggunakan teknologi sehingga memberi makna positif bagi aktivitas pembelajaran.

Konsep pembelajaran yang baik selalu berangkat dari kenyataan real sebuah zaman dan senantiasa beriorentasi pada pembelajaran bernalar kritis. Di setiap zaman terdapat penanda-penanda yang membedakan suatu zaman dengan zaman lainnya. Penanda tersebut harus mampu dipahami peserta didik, kemudian diolah melalui nalar kritis agar mampu menghadapi segala bentuk kemapanan zaman di abad 21.

Penulis: Zulfa Ihsan

Editor: Lathif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *