Oleh Erika Nanda

                Supri namanya, lelaki berpakaian lusuh dengan jaring ikan di punggung itu berjalan gontai menuju rumah di mana ia dan istrinya tinggal. Wajahnya tampak lesu syarat akan kesedihan. Hari ini, lagi dan lagi, Supri tak mendapat hasil tangkapan apapun. Ya, Supri adalah seorang nelayan di sebuah desa kecil di pinggir pantai. Memang, akhir-akhir ini cuaca sedang buruk sehingga banyak nelayan yang memutuskan tidak melaut. Namun, Supri tak punya pilihan lain, jika tidak bekerja maka ia dan istrinya tidak bisa makan. Supri dan istrinya hanya tinggal berdua karena mereka belum memiliki anak.

Setelah sampai di rumah, Supri bergegas membersihkan diri di sumur tua belakang rumahnya. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada istrinya bahwa hari ini ia tidak mendapatkan hasil tangkapan seperti hari-hari sebelumnya.

“Mir!” panggil Supri kepada istrinya.

Mirna, istri supri, bergegas menemui sang suami di kamar. Tadi, setelah mandi Supri memutuskan untuk tidur sejenak.

“Iya, Kang?” jawab Mirna.

“Maafkan Kakang, Mir.” dengan wajah sedih Supri mencoba menjelaskan. “Hari ini tidak ada ikan. Terpaksa kita tidak bisa membeli beras dan hanya makan singkong saja.”

Mirna diam, ia bingung harus menjawab seperti apa. Tentu Mirna sangat sedih karena beberapa bulan keuangan mereka sedang susah. Mencoba untuk tersenyum dan saling menguatkan, Mirna genggam tangan Supri.

“Tidak apa-apa, Kang. Mirna mengerti, kan cuaca memang sedang susah.” jawabnya sambil tersenyum.

“Lebih baik sekarang kita makan. Tadi Mirna sudah masak singkong rebus dan sedikit sayur bayam pemberian Budhe Wati kemarin.” ajaknya kepada sang suami.

Selepas makan, mereka berdua berbaring di atas kasur. Menit demi menit berlalu, namun Supri tidak bisa memejamkan matanya. Bahkan Mirna yang ada di sampingnya sudah terlelap sejak mereka berdua merebahkan diri di kasur. Kepala Supri dipenuhi oleh pikiran-pikiran bagaimana mendapatkan uang besok. Ia merasa kasihan kepada Mirna. Pasalnya, sejak dinikahi oleh Supri, Mirna jarang makan enak. Lama berpikir, akhirnya tanpa sadar ia terlelap.

Supri terbangun kala ia mendengar sayup-sayup orang memanggil namanya. Ia berkedip dan menolehkan kepala guna mencari asal suara tersebut. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kegelapan. Mencoba mengabaikan suara yang ia dengar, Supri kembali memejamkan mata. Di tengah tidurnya, Supri bermimpi bertemu dengan wanita cantik berkebaya hijau. Wanita tersebut mengatakan beberapa hal kepada Supri.

“Supri!” panggil wanita tersebut dalam mimpinya.

“Besok pergilah melaut, aku memiliki hadiah untukmu. Dan hadiah itu hanya bisa kau ambil saat kau ada di tengah lautan.” lanjutnya kepada Supri.

Tanpa terasa, hari sudah pagi. Supri bangun dan bersiap pergi melaut. Ia teringat akan mimpinya tadi malam. Dengan rasa penasaran yang besar, ia memutuskan untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh wanita dalam mimpinya semalam. Saat akan mengambil jaringnya, Mirna berteriak memanggil.

“Kang! Mau ke mana?”

“Aku akan pergi melaut dan mencoba peruntungan hari ini, Mir.” jawab Supri.

“Kang jangan!” Mirna melarang. “Ombak sedang tidak bersahabat, Kang. Anginnya juga kencang. Kakang di rumah saja hari ini. Ya, Kang?” Mirna menjelaskan sembari memohon kepada Supri agar ia tidak pergi melaut. Namun, Supri yang sudah kelewat penasaran dengan mimpinya semalam tetap bersikeras untuk pergi.

“Tidak, Mirna. Aku akan tetap pergi. Semalam aku bermimpi akan mendapat sesuatu yang mungkin saja bisa membantu perekonomian keluarga kita. Aku merasa gagal menjadi suami ketika tidak bisa membahagiakanmu. Jadi aku putuskan untuk tetap melaut.” Jelas Supri.

“Kang, Mirna tidak masalah kita hidup seperti ini terus asal tetap bersama Kakang. Mirna tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kang.” Mirna tetap berusaha membujuk Supri agar ia tidak pergi.

“Jangan khawatir, Mir. Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Lagipula hanya angin dan ombak, aku sudah terbiasa dengan itu sejak kecil.”

“Tapi Kang, Mirna hanya-“, ucapannya terpotong kala Supri kembali meyakinkan jika ia akan baik-baik saja.

“Mir, percaya pada Kakang. Setelah ini pasti hidup kita akan berubah. Kau hanya perlu menunggu dan mendoakanku di rumah. Aku berjanji akan pulang saat sudah dapat hasil tangkapan.” ucap Supri

“Baiklah, Kang. Mirna ijinkan Kakang untuk pergi tetapi berjanjilah untuk pulang. Dengan atau tanpa hasil tangkapan sekalipun,” jawab Mirna dengan sedikit tidak rela.

“Tentu,Mir. Aku berjanji padamu.”

Setelah kepergian Supri untuk melaut, Mirna melanjutkan membersihkan rumah. Hatinya sejak tadi tidak tenang. Namun, ia mencoba abai dan tetap bersikap biasa saja.

Menjelang petang, Mirna mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu menunggu kepulangan Supri. Ia menjadi lebih khawatir karena angin yang semakin kencang ditambah hujan turun dengan deras. Mirna takut hal buruk terjadi pada suaminya. Karena lelah menunggu, Mirna jatuh tertidur di kursi ruang tamu.

Pagi harinya, Supri tetap belum kembali. Dengan langkah tergesa Mirna meminta tolong kepada tetangganya untuk membantu mencari keberadaan Supri. Namun, pencarian berhari-hari itu tak membuahkan hasil. Supri seolah hilang ditelan bumi meninggalkan Mirna tanpa ucapan perpisahan. Sampai saat ini, tak seorangpun tau kemana perginya suami Mirna tersebut. Janji yang  Supri ucapkan kala itu untuk pulang ke rumah nyatanya tak bisa ia tepati.

Selepas kepergian Supri, Mirna seperti orang linglung. Kehilangan Supri menjadi pukulan yang besar untuknya. Ia sering berdiri di tepi laut berharap sang suami kembali dan pulang bersamanya. Mirna juga kerap kali menangis sendiri, seperti saat ini, dengan tersedu-sedu iya meminta kepada laut untuk mengembalikan Supri padanya.

“Kang, kau tega berbohong padaku. Kau berjanji untuk pulang. Kembalilah, Kang! Mirna rindu. Mirna tidak bisa hidup tanpamu, Kang.”

“LAUT, TOLONG KEMBALIKAN SUPRI PADAKU. JANGAN AMBIL DIA DARIKU!” teriaknya. Namun, laut seolah tuli akan permohonan Mirna.

TAMAT