UKM Teater Tiang sukses menggelar drama perdananya pada kepengurusan tahun 2022 dengan tajuk “Labdawara Abripaya: Aji Semar Mesem” pada Sabtu, (28/5/2022). Sutradara dalam teater “Aji Semar Mesem” adalah Ibam Abimanyu, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2021 yang juga sebagai penulis naskah dari teater yang ditampilkan.

Ketua Umum Teater Tiang, Farisa Nurillah berasal dari program studi Pendidikan Matematika angkatan 2019 menyebutkan bahwa teater ini merupakan teater pertama kali yang menggunakan naskah dari tim CAB (Calon Anggota Baru). Biasanya teater tiang menggunakan teks naskah dari sanduran orang lain.

“Menjadi kebanggaan bagi UKM Tiang karena mampu mementaskan drama dengan naskah yang diproduksi sendiri. Teater yang terlaksana juga terbilang sukses dan banyak menarik antusiame penonton,” ungkapnya.

Farisa berharap dengan digelarnya pementasan teater ini bisa memberikan kobaran api semanagt bagi anggotanya, dan bisa menghasilkan naskah dan karya – karya lainnya. Sehingga dengan terlaksananya pagelaran teater ini seluruh elemen di UKM Tiang semakin kompak.

Terpisah Ibam Abimanyu selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengungkapkan bahwa inspirasi dari idenya dalam dalam “Aji Semar Mesem” karena ia prihatin dengan pemuda-pemudi yang semakin gila terhadap teknologi terutama Handphone. Dengan begitu, ia ingin mengenalkan budaya yang ada sejak dulu pada pemuda-pemudi yaitu benda-benda pusaka seperti keris.

“Tokoh utama dalam cerita ini adalah Adi yang tergambarkan sebagai sosok yang dekil, parasnya kurang menawan, kulitnya gelap, dan tidak wangi. Teater ini juga memberi pelajaran untuk melestarikan benda pusaka tanpa menuhankannya. Tidak menjadikan benda pusaka sebagai alat berbuat musyrik,” ujarnya.

Naskah yang Abimanyu tulis berdasarkan kisah nyata yang dialaminya sendiri, sehingga ia bisa menarasikannya secara tepat. Abimanyu menganggap dilingkungan tempat ia tinggal banyak peninggalan benda – benda pusaka yang masih tersimpan rapi oleh para sesepuh.

Lebih lanjut ia mengatakan “Para pemuda saat ini banyak yang tidak memperdulikan warisan leluhur. Tak ayal jika naskah yang dibuat ini merupakan naskah terbaik yang berhasil ditampilkan pertama kali dalam pementasan teater tiang panggaru XXVIII dengan tema “Labdawa Abipraya”. Suksesnya pementasan ini juga tidak akan berhasil tanpa adanya pemain-pemain yang mampu membawakannya dengan karakter yang begitu sulit dan tata panggung, serta tata rias yang saling bekerja sama,” jelasnya.

Pewarta : Jalis Syarifah

Editor : Dwi Ilma Damayanti