
Penggunaan kata Bung, Kawan, Kamerad, dan Zus Adalah sapaan yang seringkali akrab untuk kita dengar. Awalnya banyak dari kita menganggap sapaan ini hanya sebatas sapaan yang akrab digunakan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno, Bung Syahrir dan lain sebagainya. Kemudian jika kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, sapaan kawan sudah mengakar jauh dalam rentetan perjuangan bangsa-bangsa di dunia. Kata kawan juga menjadi sebuah simbol dari penolakan Feodalisme dan Kolonialisme yang terjadi masa itu. Selain penggunaan kata sapaan diatas, penyebutan dalam keberagaman kata, seperti Kamerad juga sering digunakan berbagai bangsa di dunia. Beberapa penjelasan istilah kawan menurut banyak sumber yang ada, menjelaskan bahwa kata “kawan” atau “kamerad” berfungsi sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme. Berbagai istilah sapaan ini dibentuk melalui keinginan untuk menghapuskan hierarki sosial yang kaku dan menciptakan kesetaraan di antara para pejuang kemerdekaan.
Pembentukan istilah “kawan” atau “kamerad” sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme bermula dari keinginan untuk meruntuhkan struktur hierarkis feodal dan kolonial yang sangat menindas. Di Indonesia, sistem feodalisme yang membagi masyarakat secara tajam menjadi kelas Priayi dan wong cilik menciptakan pola kehidupan yang tidak sehat dan melahirkan stigma ketidakadilan bagi demokrasi. Kondisi ini diperparah oleh pemerintah kolonial Belanda yang menambah lapisan strata sosial baru untuk memperkuat kedudukan mereka. Sebagai reaksi, gerakan nasionalis, sosialis, dan komunis di Indonesia mengadopsi istilah “kawan” atau “kamerad” sebagai alternatif egaliter untuk menggantikan sapaan hierarkis seperti “Tuan”, “Mister“, atau gelar kebangsawanan guna menekankan kesetaraan dan solidaritas di antara para revolusioner.
Semangat perlawanan melalui identitas bahasa ini juga bergema secara global, seperti penggunaan istilah camarada oleh gerilyawan Fretilin di Timor Leste untuk melawan pendudukan, serta penggunaan comrade di Afrika Selatan oleh aktivis anti-apartheid untuk menggalang persatuan demi tujuan politik bersama. Dengan demikian, sapaan “kawan” bertransformasi dari sekadar kata benda menjadi pernyataan politik yang kuat untuk menantang penyalahgunaan otoritarianisme dalam menuntut pengakuan martabat kemanusiaan yang setara.
Di kehidupan Kampus, kata kawan menjadi gambaran yang menunjukan rasa persaudaraan tinggi dan semangat perjuangan yang sama. Ini tercermin melalui percontohan sistem keorganisasian UKPM PIJAR FKIP UNEJ. Sapaan kawan Pijar menjadi cerminan kecil bagaimana mahasiswa mencontoh semangat dari tokoh-tokoh besar Republik Indonesia dalam membangun keharmonisan dan kesetaraan. Selain itu, sapaan Kawan Pijar menjadi identitas yang membangun rasa kebersamaan tanpa memandang latar belakang. Hal ini menunjukan bahwa rasa semangat kesetaraan bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti penggunaan diksi di dalam kehidupan sehari-hari.
#JAS MERAH (Jangan Sekali-kali melupakan Sejarah).
#SEMANGAT BERPIJAR
Sumber :
https://encyclopedia.pub/entry/29294 (di akses pada 5 april 23.00 wib).
https://www.historia.id/article/bung-saudara-serevolusi-pn5wv (di akses pada 5 april 23.00 wib).
Nurhayati. (2004). Feodalisme: Sebuah catatan pengalaman bangsa Indonesia. Al-Qānūn: Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, 7(1), 517–528
Tim kepenulisan
Penulis : Kawan Dimas dan Kawan Fachril
Ilustrator : Kawan Ditu
Penyunting : Kawan Ibram














