https://sl.bing.net/gCZNUvTGf80
Pernah merasa baru buka HP 5 menit tahu-tahu sudah 45 menit berlalu? Niatnya cuma lihat satu video, tapi jempol seperti punya kendali sendiri. Scroll, scroll, scroll. Tiba-tiba kepala terasa penuh, tapi entah penuh dengan apa.
Selamat datang di era yang sering disebut: brain rot.
Istilah ini memang bukan diagnosis medis. Tidak ada dokter yang akan menuliskan resep dengan keterangan, “pasien mengalami brain rot stadium dua akibat reels berlebihan.” Akan tetapi ini adalah sebuah istilah populer, yang menggambarkan suatu fenomena, seperti: fokus makin pendek, membaca makin berat, dan hal-hal yang tidak memberi stimulus cepat terasa membosankan. Fenomena ini tumbuh subur di ladang bernama short-form content yang terdapat di berbagai platform seperti TikTok, YouTube dan Instagram dengan cara mempertahankan perhatian kita selama mungkin. Algoritma mereka dirancang berbasis engagement. Artinya, semakin lama kita bertahan, semakin baik performanya.
Sedangkan otak kita? Ia mencintai sesuatu yang cepat, baru, dan memberi sensasi kecil seperti hadiah. Setiap video 15–30 detik menjadi semacam lotre dopamin. Tidak semuanya menarik, tapi mungkin video berikutnya lebih seru. Alhasil kita scroll lagi.
Secara ilmiah, istilah “brain rot” terlalu dramatis. Namun, terdapat riset yang relevan. Penelitian multitasking media dari peneliti di Stanford University menunjukkan bahwa individu yang sering melakukan multitasking digital berat cenderung lebih sulit menyaring distraksi dan mengelola perhatian (Ophir, Nass, & Wagner, 2009). Ini bukan bukti otak “membusuk”, tetapi menunjukkan fragmentasi kontrol atensi. Publikasi dari American Psychological Association juga banyak membahas bagaimana overstimulasi dan paparan digital terus-menerus dapat memengaruhi regulasi perhatian dan beban kognitif. Namun, hal yang penting untuk dicatat adalah sebagian besar studi bersifat korelasional. Artinya, kita belum bisa dengan yakin mengatakan scrolling menyebabkan penurunan kognitif permanen. Yang ada adalah pola hubungan, bukan vonis final.
Di sinilah kita harus berhati-hati. Mudah sekali terjebak narasi, “generasi sekarang rusak karena HP.” Narasi ini terdengar heroik, tapi lemah secara metodologis. Tidak semua efek digital bersifat negatif. Beberapa penelitian justru menunjukkan peningkatan respons visual cepat dan kemampuan pemrosesan informasi singkat. Otak manusia adaptif. Ia berubah sesuai lingkungannya.
Kita mungkin menjadi lebih cepat untuk memproses sebuah potongan informasi, tapi kita juga kehilangan stamina untuk membaca laporan 20 halaman. Kita mungkin mahir menyerap ringkasan, tapi kesulitan utnuk bertahan dalam argumen yang panjang. Pendidikan dan dunia kerja yang masih menuntut sebuah deep work, tidak sepenuhnya beradaptasi dengan ritme baru ini.
Di sisi lain, menyalahkan individu saja terasa tidak adil. Industri digital adalah mesin ekonomi miliaran dolar yang hidup dari perhatian kita. Dalam ekonomi perhatian, distraksi bukanlah sebuah kecelakaan, tapi ia adalah sebuah produk. Algoritma tidak netral, ia dirancang untuk mempertahankan kita selama mungkin. Maka ketika kita sulit berhenti scrolling, itu bukan semata-mata lemahnya moral pribadi.
Apakah ini berarti kita benar-benar mengalami kemunduran kognitif massal? Data yang ada belum cukup untuk menyimpulkan sejauh itu. Tidak ada bukti kuat bahwa generasi sekarang secara biologis lebih “bodoh.” Yang lebih masuk akal adalah terjadi pergeseran pola atensi dan cara konsumsi informasi.
Jika kita terbiasa dengan stimulus cepat, otak akan menganggap itu standar. Jika kita jarang melatih fokus mendalam, kemampuan itu hanya melemah, bukan hilang, tapi jarang dipakai. Sama seperti otot yang jarang dilatih.
Solusinya? Tidak sesederhana “detoks digital seminggu.” Perubahan individu sangatlah penting untuk membatasi notifikasi, melatih membaca panjang, memberi ruang tanpa layar. Namun tanpa kesadaran sistemik tentang bagaimana algoritma bekerja, usaha ini seperti berenang melawan arus deras.
Barangkali yang lebih realistis adalah keseimbangan. Mengakui bahwa dunia digital memberi manfaat, sambil sadar bahwa perhatian adalah sumber daya terbatas. Dan seperti semua sumber daya, ia bisa habis jika terus dieksploitasi.
Jadi, apakah kita sedang mengalami brain rot?
Penulis: Pramudhita Dyah Karuni Indonesia
Penyunting: Amanda Putri Nathania











