Menu

Mode Gelap
 

Uncategorized · 14 Feb 2024 22:58 WIB ·

Antagonisme Politik dalam Persaingan Kekuasaan


 Antagonisme Politik dalam Persaingan Kekuasaan Perbesar

Jika melihat alur hierarki perkembangan politik pada suatu wilayah ada sebuah antagonisme politik yang berkembang di masyarakat. Antagonisme politik tersebut membuat doktrin yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat elitlah yang mampu melaksanakan kekuasaan karena memiliki superioritas alami, sedangkan kelompok masyarakat kelas bawah ditempatkan sebagai roda penggerak peradaban yang berada di bawah kelompok masyarakat elit. Kelompok masyarakat elit pada umumnya melihat bahwa perjuangan politik sama dengan perjuangan ekonomi, hal tersebut tercipta karena sumber daya konsumsi pada suatu wilayah tidak cukup untuk memuaskan permintaan umum. Maka dari itu akan menyebabkan munculnya persaingan antara manusia untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya dan memperalat atau bahkan merugikan manusia lain, dapat dikatakan memegang kekuasaan adalah cara untuk mendapatkan kekayaan.

Dari pemaparan di atas homo politicus tidaklah berbeda dengan homo ecomoicus, karena perjuangan politik yang dilakukan oleh kaum elit pada umunya memiliki motif dengan perjuangan ekonomi untuk meraih kekayaan, dua-duanya merupakan bentuk struggle for life sesuai apa yang dikatakan Darwin. “Perjuangan hidup suatu spesies secara mendasar menempatkan suatu spesies untuk melawan spesies yang lain dan individu dalam spesies tertentu akan melawan yang lain.”

Berikut penyebab antagonisme politik muncul dan menguat:

1. Sebab individual: Di dalam pergolakan politik, perbedaan bakat alami yang dimiliki manusia terutama dalam hal intelektual dan juga retorika telah menciptkan manusia yang lebih berbakat daripada manusia yang lain. Manusia yang berbakat akan memiliki tempat di atas golongan manusia yang kurang berbakat, dengan kata lain manusia yang berbakat akan mudah mendapatkan kekuasaan dan manusia yang kurang berbakat akan didominasi oleh manusia yang berbakat.

2. Sebab kolektif: Antagonisme politik yang melibatkan sebab kolektif dapat timbul dari perbedaan ideologi, persaingan kepentingan, perbedaan identitas, dan kompetisi politik. Pertama, perbedaan ideologi antara kelompok-kelompok politik sering menjadi sumber konflik, di mana pandangan yang berbeda terhadap pemerintahan, kebijakan, dan nilai-nilai masyarakat dapat menciptakan ketegangan. Kedua, persaingan kepentingan ekonomi, sosial, atau budaya antar-kelompok kolektif dapat memicu antagonisme, karena masing-masing berusaha untuk memperoleh dukungan dan kontrol terhadap sumber daya. Ketiga, perbedaan identitas, seperti agama, etnis, atau kelompok sosial, dapat menjadi pemicu pertentangan politik karena adanya perasaan afiliasi yang kuat terhadap kelompok tertentu. Terakhir, kompetisi politik, terutama selama pemilihan atau pertarungan politik, juga dapat memperkuat antagonisme politik antara kelompok-kelompok kolektif yang berbeda. Secara keseluruhan, sebab kolektif dalam antagonisme politik mencerminkan kompleksitas dinamika politik yang melibatkan identitas, ideologi, dan persaingan kepentingan di dalam masyarakat.

Antagonisme politik, sebagaimana diungkapkan dalam pemaparan di atas telah merinci politik sebagai alat kaum elit untuk memperoleh kekayaan, sementara rakyat kecil dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Pada tingkat hierarki politik, muncul sebuah antagonisme yang mengakibatkan doktrin bahwa kelompok elit memiliki superioritas alami dan berhak atas kekuasaan, sedangkan kelompok kelas bawah dianggap sebagai pendorong peradaban yang dikendalikan oleh elit. Pandangan ini menggambarkan politik sebagai refleksi perjuangan ekonomi, karena persaingan untuk sumber daya konsumsi memicu konflik antar manusia, mengakibatkan pemegang kekuasaan dapat mengakses kekayaan. Terlebih lagi, homo politicus dan homo economicus dianggap tidak berbeda, karena perjuangan politik elit sebagian besar didorong oleh motivasi ekonomi untuk mencapai kekayaan. Antagonisme politik kemudian ditemukan memiliki sebab-sebab individu, di mana perbedaan bakat alami, terutama dalam hal intelektual dan retorika, menciptakan hierarki di mana individu yang lebih berbakat mendominasi dan yang kurang berbakat tunduk. Sebab kolektif dalam antagonisme politik melibatkan perbedaan ideologi, persaingan kepentingan, perbedaan identitas, dan kompetisi politik, menciptakan kompleksitas dalam dinamika politik masyarakat.

Penulis: Madjid Fahdul Bahar

Penyunting: Ibram Ulin Nuha

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Civitas Academica Bergerak, Selamatkan Demokrasi Jelang Pemilu 2024

14 Februari 2024 - 10:28 WIB

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, FKIP Universitas Jember Gandeng Thailand dalam Program Asistensi Mengajar

8 Agustus 2023 - 17:27 WIB

Kehidupan Digital Untuk Lingkungan Alam

7 Agustus 2023 - 20:44 WIB

UKM Teater Tiang Sukses Adakan Pementasan Teater “Titik-titik Hitam”

15 Mei 2023 - 12:23 WIB

Eratkan Sinergitas Antar HMP dan UKM, BEM FKIP Gelar Anjangsana Omawa

21 Maret 2023 - 12:28 WIB

TENTANG RASA

9 Maret 2022 - 13:12 WIB

Trending di Uncategorized