Semua tulisan dari Pijar

1021 Mahasiswa Sempat Dibingungkan, Akhirnya Buku Panduan KKPLP dan Asjar Terbit

0 0
Read Time:2 Minute, 16 Second

Penapijar.com, Berita – Kuliah Kerja dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (KKPLP) dan Asistensi Mengajar (Asjar) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej telah diterjunkan sepekan lalu pada, Jum’at (29/7/2022), di Alun – alun Jember. Namun, buku panduan KKPLP dan Asjar baru saja didistribusikan. Hal ini, sebelumnya menjadi kebingungan mahasiswa dalam melakukan kegiatan di lingkungan sekolah masing-masing. Keterlambatan dalam penyusunan sebelumnya, disinyalir karena ketidaksiapan FKIP dalam merancang konsep KKPLP dan Asjar.

Dari beberapa kejadian yang terjadi diawal sampai saat ini, seperti mundurnya penerjunan KKPLP dan Asjar yang seharusnya dilaksanakan pada 25 Juli, lalu berubah tanggal 28, dan terlaksana pada tanggal 29 Juli 2022. Kondisi tersebut disebabkan karena pelaksanaannya mengikuti jadwal Bupati Jember, Hendy Siswanto. Program KKPLP dan Asjar ini memang sedari awal membingungkan mahasiswa baik secara teori maupun praktik.

Menurut Elok Dwi Yasinta, Mahasiswa yang mengikuti KKPLP, mengatakan KKPLP sangatlah tidak jelas dari awal penerjunan dan sykurnya sekarang telah terbit. Mahasiswa dibuat bingung dengan tidak adanya panduan dalam pelaksanaan KKPLP ini. Pihak fakultas selalu berdalih masih melakukan proses validasi pada tanggal 1 Agustus 2022 kemarin, melalui grup telegram KKPLP. Hingga saat ini terhitung sudah 8 hari baru saja didistribusikan.

”Dari awal penerjunanan KKPLP sudah diundur – undur. Kawan – kawan dibuat bingung dengan kebijakan fakultas yang kian amburadul. Dengan masa KKPLP 45 hari, akan tetapi panduannya baru saja selesai disusun. Hal ini tentunya, mempersulit target tugas dan membuang waktu yang telah berjalan 8 hari setelah kami diterjunkan,” cecarnya.

Lebih lanjut Elok sapaan akrabnya, menyesali kejadian ini. FKIP ia rasa tidak tuntas untuk melaksanakan kegiatan KKPLP dan Asjar 2022. Hal ini diperkuat oleh gelagat fakultas yang menyelesaikan panduan setelah sepekan berakhir. Bahkan koordinasi antara FKIP dengan pihak sekolah dan lembaga baru saja dilaksanakan kemarin.

“Seharusnya pihak fakultas sudah matang mempersiapkan KKPLP dan Asjar 2022 baik dari panduan hingga hal lainnya, tanpa menunda – nunda dan berdalih apapun,” sambungnya.

Sementara, Ketua Laboratorium KKPLP, Dr. Slamet Hariyadi, M.Si, MCE mengungkapkan hal ini disebabkan karena adanya kejar waktu antara keputusan yang diambil oleh pemerintah dengan kebijakan pelaksanaan KKPLP. Sehingga, panduan KKPLP dan Asjar masih dalam tahap setting layout.

“Karena pergantian dari online ke reguler. Dan untuk panduannya itu kan beda – beda. Dulu sebelum pandemi sudah ada panduan KKPLP reguler. Akhirnya pada waktu itu kemudian online, saya membuat panduan khusus online, tidak bisa seperti dulu,” tuturnya pada, Jumat (5/8/2022).

Lebih lanjut, Slamet menjelaskan, pergantian dari offline – online – hingga sekarang offline lagi maka perlu adanya revisi. Perlu adanya proses penggodokan yang lebih matang, karena kemarin pada saat pelepasan KKPLP itu panduannya mengacu pada panduan online.

c“Sekarang kan KKPLP offline, maka tidak sama dengan tahun 2021 kemarin. Tahun lalu boleh dilakukan didomisili masing – masing, kalau sekarang kan beda. Maka hal tersebut harus kita diskusikan bersama lagi,” jelasnya. (dna/ilm)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Sisfo FKIP Unej: Sistem Baru, Problem Baru

0 0
Read Time:2 Minute, 43 Second

Pena Pijar, Berita – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dibuat resah terkait sistem pengajuan kegiatan di fakultas. Beberapa waktu lalu, mayoritas ormawa mengeluhkan Sisfo yang menjadi trobosan baru untuk sistem pengajuan kegiatan di ormawa. Tetapi hal itu justru menghambat pencairan dana kegiatan dengan mekanisme yang berkelit.

Masuknya revolusi industri 5.0 membuat semua sektor kehidupan beralih menuju serba digital. Hal ini rupanya menjadi inspirasi birokrasi organisasi kemahasiswaan (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP Unej) dengan meluncurkan sistem informasi ormawa (sisfo).

Sistem kerja sisfo ini jika dilihat menggunakan kacamata mahasiswa yang awam tentu memiliki tujuan yang baik dan akan memperpendek alur birokrasi jika diimplementasikan dengan baik.

Sebab, setelah mahasiswa melakukan upload berkas pengajuan kegiatan, tim reviewer akan langsung melakukan telaah terhadap berkas tersebut.

Nantinya, jika telah mendapatkan persetujuan dari tim reviewer, pengurus ormawa bisa langsung menghadap ke bagian keuangan fakultas untuk melakukan pencairan anggaran kegiatan seperti yang telah tercantum dalam berkas tersebut.

Sayangnya, ide brilian untuk merapikan sistem pengelolaan kegiatan ormawa ini belum terkoordinasi dengan baik antar komponen yang ada.

Hal ini tampak saat para pengurus ormawa telah mendapat persetujuan sisfo dan melakukan pencairan dana, ternyata masih ada proses review ulang anggaran. Sehingga, tidak sedikit ormawa yang harus balik kanan tanpa membawa anggaran yang seharusnya telah diterima lantaran harus merevisi berkas pendanaan kegiatan.

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) PG PAUD Aufanda Ivan mengatakan, kehadiran sisfo yang seharusnya mempermudah pengajuan kegiatan, justru membuat mahasiswa kelimpungan.

Menurutnya, meski sudah disosialisasikan, implementasi sisfo di lapangan tidak sama dengan apa yang telah disosialisasikan.

“Sisfo ini seharusnya mempermudah, tapi yang kami alami justru sebaliknya, kami terus dihadapkan dengan kesulitan,” kata Ivan (27/6/2022).

Ivan menambahkan, beberapa programnya yang telah berjalan menjadi kurang maksimal dengan adanya sisfo. Sebab, panitia lebih disibukkan dengan urusan administratif dibandingkan memikirkan substansi kegiatan supaya bisa menggenjot kualitas mahasiswa.

Kabarnya, sejak awal sisfo ini disosialisasikan, para pengurus ormawa telah menyatakan penolakannya karena khawatir implementasinya tidak sesuai.

Namun, pihak birokrasi fakultas bersikukuh menjalankan sistem yang belum siap dan belum terintegrasi maksimal. Kini, kekhawatiran itu benar terjadi.

Diduga, upaya ngotot pihak birokrasi fakultas membuat sistem tersebut hanya untuk menurunkan anggaran pembuatan sistem dan pembagian honor kepada para reviewer.

Sebab, para reviewer yang ditugaskan ternyata bekerja tidak sesuai keahliannya.

Seperti yang dialami oleh UKPM Pijar Pendidikan. Seorang dosen bahasa Indonesia menjasi reviewer rencana anggaran belanja (RAB) dan bendahara fakultas sebagai penelaah tata tulis rencana kegiatan.

Carut marut keadaan yang serba dipaksakan ini rupanya menjadi pemicu masalah. Pantas saja jika banyak ormawa yang mengeluhkan ada revisi ulang saat melakukan pencairan anggaran.

“Februari sudah ada sosialisasi, tapi saat pencairan dana selalu ada saja masalah padahal sudah jelas sudah disetujui tim reviewer di sisfo, lalu esensi dari adanya sisfo ini apa kok rasanya tambah ribet,” keluh Ivan.

Sementara, Wakil Dekan III FKIP Unej Mohammad Naim saat dikonfirmasi enggan memberikan komentar perihal keluhan mahasiswa tersebut.

Bahkan, Naim tampak sengaja menghindar memberikan keterangan dengan dalih masih menjadi penguji.

Sedangkan, pegawai bagian kemahasiswaa FKIP Unej Didik Eko Julianto memilih irit bicara soal rumitnya sisfo seperti yang dikeluhkan mahasiswa.

Menurutnya, kemahasiswaan tidak ada kaitannya dengan tim reviewer sebagai salah satu objek penting dalam sisfo. Sebab, bagian kemahasiswaan ternyata juga tidak menjadi bagian dalam tim review.

“Pihak kemahasiswaan tidak masuk dalam tim reviewer, disana ada tim sendiri,” kata Didik.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Hiruk Pikuk Pemilu 2024

0 0
Read Time:3 Minute, 7 Second

Pena Pijar, Opini – Beberapa pekan lalu, isu mengenai pemilu 2024 ramai diperbincangkan di berbagai media. Bahkan sampai detik ini beberapa media masih menampilkan isu yang membahas mengenai pemilu 2024. Tak sedikit pula warganet yang mencocokan beberapa pejabat daerah untuk menjadi pasangan politiknya yang nantinya akan naik ke kursi paslon. Mereka berharap bahwasanya pasangan yang maju ke kursi paslon merupakan orang-orang yang berkompeten dan mampu membuat kebijakan yang seharusnya sih mensejahterakan masyarakat.

Pemilu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memilih calon pemimpin negara yang nantinya dapat mengatur jalannya kehidupan negara dari berbagai bidang. Selain itu, pemilu juga dilakukan untuk memilih beberapa dewan perwakilan rakyat. Sebagaimana pernyataan Bettaria (2019:1) bahwa pemilu adalah wujud demokrasi dalam membentuk sistem kepemerintahan yang berdaulat. Dengan begitu, dapat dipertegas lagi bahwa pemilu memang penting untuk dilakukan karena negara membutuhkan adanya perubahan, sehingga dengan berubahnya para pemimpin negara akan membentuk suatu perubahan juga dalam berbagai kebijakan yang baru.

Sementara itu, mengingat berbagai perbincangan mengenai pemilu beberapa waktu yang lalu tak semata-mata diangkat untuk kepentingan politik. Akan tetapi, telah ada landasan yang dijadikan tumpuan dalam pembahasan atau persiapan mengenai pemilu yang dilakukan sejak dini. Dikutip dari detik.com [30/5/2022] Hasyim Asy’ari selaku Ketua KPU RI mengatakan bahwa menurut UU 7/2017 tentang pemilu, tahapan paling lambat dimulai 20 bulan sebelumnya yang terhitung dari pemungutan suara. Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa persiapan pemilu memang perlu dilakukan beberapa waktu sebelumnya, bahkan berbulan-bulan sebelumnya. Hal ini bertujuan agar segala sesuatunya dapat direncakan secara matang dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Namun, memang perlu dipahami bahwa tidak boleh terlalu fokus atau terlalu terpaku pada persiapan Pilpres. Ada beberapa hal di berbagai bidang kehidupan negara yang perlu untuk dipersiapkan dan dipikirkan. Salah satunya dalam bidang perekonomian yang notabenenya baru saja pulih dari keadaan pandemi. Perekonomian perlu dibangkitkan kembali sebagai upaya dalam menjaga keseimbangan negara agar kesejahteraan rakyat tetap terjaga.

Bahkan Presiden RI, Joko Widodo, berpesan agar tidak boleh terburu-buru dalam memproses atau mempersiapkan Pilpres. Dikutip dari detik.com [29/5/2022] Sandiaga Uno atau Menparekraf RI mengungkit soal pernyataan Presiden Jokowi, yaitu “Ojo kesusu”. Dalam hal ini, Sandiaga turut patuh pada pesan presiden yang beberapa pekan lalu disampaikan dihadapan para relawan Projo. Sebenarnya pesan Presiden bertujuan agar para pemangku pemerintahan dan juga berbagai parpol tidak perlu terlalu menyibukkan diri mengenai pilpres 2024 mendatang. Presiden menginginkan agar semuanya fokus pada perekonomian masyarakat agar dapat pulih kembali.

Namun, tak terlepas dari hal tersebut, persiapan pemilu memang perlu dilakukan, hanya saja tidak perlu terlalu difokuskan. Hal ini mengingat masih banyak yang perlu diperhatikan dalam berbagai bidang kehidupan negara. Para pemangku pemerintahan dan tokoh-tokoh politik lainnya, sebaiknya menjalankan tugas dan perannya masing-masing sesuai dengan kadar atau porsinya. Apabila sewaktu-waktu terdapat kesempatan dalam membahas pilpres, maka hal itu perlu untuk dimaksimalkan agar dapat secara cepat tertangani dan selesai dibahas. Hal ini tentunya tidak akan mengganggu peran masing-masing tokoh politik, sehingga tidak ada tugas yang diterlantarkan atau bahkan terlepas dari pengawasan.

Referensi

Bettaria. 2019. Pemidanaan Pelaku yang dengan Sengaja Melakukan Kampanye Pemilu Menggunakan Fasilitas Pemerintah. https://repository.uhn.ac.id/bitstream/handle/123456789/3510/Bettaria.pdf?sequence=1&isAllowed=y. Diakses pada tanggal 31 Mei 2022

Muliawati, Anggi. 2022. Tahapan Pemilu Dimulai 14 Juni 2022, KPU Pastikan Tidak Akan Mundur.https://news.detik.com/berita/d-6102545/tahapan-pemilu-dimulai-14-juni-2022-kpu-pastikan-tidak-akan-mundur?_ga=2.1017265.1628809209.1653957627-966815751.1638072448. Diakses pada tanggal 31 mei 2022

Anggrainy, Cynthia. 2022. Disolek PKS Soal Jodoh 2024, Sandiaga Ungkit Pesan ‘Ojo Kesusu’ Jokowi. https://news.detik.com/berita/d-6100793/dicolek-pks-soal-jodoh-2024-sandiaga-ungkit-pesan-ojo-kesusu-jokowi?_ga=2.202154769.1628809209.1653957627-966815751.1638072448. Diakses pada tanggal 31 Mei 2022

Penulis : Qoriyanto Dwi Wardana

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Bagaimana Menjadi Mahasiswa yang Ideal?

0 0
Read Time:4 Minute, 30 Second

Pena Pijar, Opini – Mahasiswa? Siapa sih mahasiswa itu? Bagi masyarakat luas mendengar kata mahasiswa merupakan hal yang menakjubkan, istimewa, dan seringkali dipandang bisa melakukan berbagai hal, bahkan dianggap paling tinggi IQ-nya. Mahasiswa tuh siapa sih? Tentunya, kita tahu siapa sih mahasiswa. Mahasiswa, maha-nya para siswa, mereka yang menduduki bangku kuliah, mereka yang berada pada pendidikan lanjut setelah mengenyam pendidikan SMA/SMK/MA dan sekolah setaraf dengannya.

Seiring berjalannya waktu dan seiring bergantinya era, masyarakat luas sudah banyak yang memahami pentingnya berpendidikan bahkan untuk prastise sosial dimasyarakat tentang perempuan yang nantinya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, bahkan dilarang untuk berpendidikan tinggi, kini sudah berangsur punah. Pendidikan disama ratakan, perempuan sudah bisa memperjuangkan mimpinya tanpa takut dibatasi lagi ruang geraknya. Meskipun masih ada akan tetapi sudah lebih minim dibandingkan era-era sebelumnya.

Menjadi mahasiswa ada peran dan fungsi yang harus dilakukan. Peran mahasiswa diantaranya adalah menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah, sebagai kontrol politik, dan sebagai penyambung lidah. Sementara fungsi mahasiswa diantaranya adalah sebagai Agent of Change, Social Control, Moral Force, Iron Stock, dan Guardian of Value. Selain itu perguruan tinggi juga mempunyai peranan, peran perguruan tinggi selalu terkoneksi dengan triangle academic. Hal itu tidak boleh dilupakan oleh mahasiswa, triangle academic atau yang sering dikenal dengan sebutan “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yakni, Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Tiga hal yang memang harus dipenuhi semua kalangan akademisi.

Dengan peran yang tidak boleh dilupakan tersebut, pemerintah benar-benar menaruh harapan besar kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk bisa bergerak membawa perubahan. Tidak melihat kecil atau besarnya dampak yang dihasilkan tetapi setidaknya ada satu gerakan yang mampu membawa sedikit perubahan baik di lingkungan masyarakat sekitar, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan dengan harapan mampu membawa perubahan dengan dampak yang bisa dirasakan diseluruh negeri.

Bagaimana pandangan masyarakat terhadap mahasiswa?. Masyarakat sekitar, umumnya masyarakat desa seringkali menuntut mahasiswa untuk serba bisa dan serba tahu tentang berbagai hal. Tidak jarang ketika mahasiswa diminta melakukan sesuatu lalu menjawab “Aduh maaf bu saya tidak tahu” atau “Aduh maaf saya kurang paham”, masyarakat akan langsung menilai “Katanya mahasiswa gitu aja kok nggak bisa” “Katanya mahasiswa kok begitu saja tidak tahu”.

Objek mahasiswa dalam kacamata masyarakat melihat mahasiswa adalah gelar istimewa yang memang tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu. Sehingga saat masyarakat tidak tahu atau tidak bisa, bertanya kepada mahasiswa adalah solusinya. Apa yang tidak masyarakat ketahui mahasiswa harus mengetahui, apa yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat mahasiswa harus bisa melakukannya.

Lalu dengan berbagai harapan dari berbagai pihak, bagaimana sih menjadi mahasiswa yang baik? Apakah kita perlu merealisasikan harapan semua orang?. Seringkali saat peristiwa itu terjadi, mahasiswa menggerutu, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan marah kepada si penanya yang menyepelekan mahasiswa tersebut. Menjadi mahasiswa memang bukan hal sepele.

Seharusnya sebelum kita memutuskan untuk memilih melanjutkan ke perguruan tingga kita harus sudah paham dengan segala konsekuensi yang akan kita dapati. Perlu diingat “Kita memang orang-orang terpelajar, akan tetapi kita juga masih perlu banyak belajar”. Dari kata-kata tersebut kita harus memahami dari segala sisi. Memang benar bisa menjadi mahasiswa adalah hal yang istimewa, masih banyak masyarakat yang menginginkan untuk bisa berada diposisi itu namun belum bisa karena ada faktor-faktor tertentu yang mengahalangi. Menjadi seorang mahasiswa bukan berarti semuanya mempunyai IQ diatas rata-rata, keberagaman hobi, minat, bakat, dan segala bentuk kemampuan menjadikan mahasiswa juga tidak bisa disamaratakan kemampuannya.

Mahasiswa memang tidak harus menguasai banyak hal, tetapi setidaknya mahasiswa harus tau dan bisa membedakan tentang hal-hal mendasar dan hal-hal yang sifatnya universal. Tidak mengapa tak pintar asal kita masih punya kemauan untuk belajar. Yang masih belum hilang seutuhnya adalah pandangan mahasiswa bahwa kuliah hanya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan gelar sarjananya. Pandangan tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan dan dibenarkan karena sebetulnya kesempatan menjadi mahasiswa tak terbatas pada ruang kerja saja.

Mahasiswa bisa melakukan apapun yang ingin mereka lakukan, mahasiswa bisa mengeksplor diri dengan cara menambah relasi, wawasan, pengetahuan, dan semua pengalaman yang didapati dilingkungan kampusnya. Jangan membatasi diri dengan menganggap diri tak bisa melakukan apa-apa. Menganggap diri tak cukup pandai, menganggap bahwa diri ini tak punya kemampuan apapun.

Belajar adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa, tak sebatas pada mata kuliah di ruang kelas tetapi tentang berbagai hal yang juga ditemui dilapangan. Relasi pertemananpun bisa dijadikan tempat untuk belajar. Belajar menambah pengetahuan, belajar melatih emosional, belajar memahami karakter orang. Karena sebetulnya yang dibutuhkan mahasiswa bukan hanya tingginya IQ yang dimiliki tetapi juga keseimbangan antara IQ (Intelligence Quotience/ Kecerdasan Intelektual), EQ (Emotional Quotient/ Kecerdasan Emosional), dan SQ (Spiritual Quotient/ Kecerdasan Spiritual). Kepintaran saja tidak akan cukup untuk hidup dimasyarakat karena harus ada kecerdasan dalam mengelola emosi dan kecerdasan dalam hal keyakinan (spiritual) sehingga saat memnghadapi masyarakat dengan penuh amarah kita bisa meredam bukan malah memperkeruh dengan meluapkan emosi yang sama.

Hal sederhana yang bisa kita aplikasikan adalaha dengan menjadi petunjuk tentang berita yang menyebar dikalangan masyarakat sekitar ditengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kita bisa membantu memberikan pandangan tentang bagaimana caranya mengetahui kebenaran sebuah berita, mengingat sekarang adalah era digital sehingga sudah banyak berita hoax yang masuk dengan mudah di media sosial dan masyarakat pun bisa dengan mudah mendapatkan informasinya.

Sumber Opini :

8 Peran dan Fungsi Mahasiswa bagi Kehidupan Bermasyarakat

Fokus Tri Dharma Perguruan Tinggi Menuju Center of Excellence

Sumber Ilustrasi :

Cara Tepat Menjadi Mahasiswa Ideal

Penulis : Mila Alfiyani

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Mengenal Lebih Jauh Psychosomatic

0 0
Read Time:5 Minute, 0 Second

Pena Pijar, Opini – Dunia terus ber-revolusi, selalu ada inovasi baru yang muncul disetiap masa, zaman, era, dan fase dalam kehidupan. Di era sekarang, semakin banyak istilah gangguan mental yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari bahkan sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini bertanda bahwa banyak masyarakat yang mengalami gangguan mental. Bukan hanya itu, tema dalam webinar dan seminar tentang kesehatan mental pun sudah sangat sering diangkat dengan peminat yang cukup banyak.

Ada gangguan fisik yang seringkali dirasakan oleh banyak orang, seperti sering merasakan sakit kepala secara tiba-tiba, gangguan penyakit maag, nyeri pada bagian tubuh tertentu, atau bahkan merasakan sakit pada tubuh tetapi saat melakukan chek up ke dokter justru tidak ada penyakit apapun. Kejadian ini sering dialami oleh sebagian besar masyarakat. Mereka bertanya-tanya sebenarnya mereka sakit apa sih? Gangguan dari dunia lain? Istilah lain yang sering dijumpai adalah “mendapat kiriman (dikaitkan dengan hal-hal supranatural)”. Perlu dikaji lebih jauh tentang kondisi fisik yang sedang dialami karena mungkin kamu sedang mengalami gangguan Psychosomatic. Apa itu Psychosomatic, berikut penjelasannya.

Psychosomatic berasal dari dua suku kata, yakni “Psycho” yang diartikan sebagai “Pikiran” dan “Soma” artinya “Tubuh”. Sehingga dapat diartikan bahwa Pscyosomatic merupakan salah satu gangguan mental yang sangat erat kaitannya dengan bagaimana pola pikir seseorang, dari pola pikir itulah akhirnya berdampak pada kesehatan mental orang tersebut.

Stress pasti pernah dialami oleh sebagian besar orang dalam menjalani kehidupannya. Akan tetapi, ketika seseorang mampu menyadari stres yang dialami dan memvalidasi setiap yang terjadi pada dirinya maka hal tersebut bisa dikatakan stres yang baik. Sebaliknya jika seseorang mengalami stres akan tetapi tidak mau mengakui hal itu terhadap dirinya sendiri maka bisa berakibat depresi. Kondisi ini merupakan contoh stres yang kurang baik dan bisa memicu terjadinya gangguan psycosomatic.

Franz Alexander dan kawan-kawan dari Institut Psikoanalisis Chicago (1950-1960), menyarankan bahwa ciri-ciri kepribadian tertentu dan konflik tertentu dapat menciptakan penyakit psikosomatik tertentu, tetapi pada umunya diyakini bahwa bentuk gangguan disebabkan oleh kerentanan individu. Sementara Colak, 2014 menyampaikan bahwa berbagai mekanisme psikologis, sosial, patofisiologis, keluarga, dan genetik telah diusulkan untuk menjelaskan asal gangguan psikosomatis.

Adapun dampak yang seringkali terjadi pada seseorang yang mengalami gangguan Psychosomtic adalah dengan ditandai menurunnya kekebalan tubuh. Seseorang jadi mudah sakit, kondisi fisiknya lebih lemah dari sebelumnya. Ciri yang kedua adalah gangguan fungsi pada organ tubuh. Gangguan fungsi pada organ tubuh bisa dilihat dari tekanan darah menjadi tinggi, gula darah naik, gangguan pencernaan seperti sakit maag dan lainnya. Dan ciri ketiga yang biasa dialami dari gangguan psychosomatic adalah masalah kulit. Psoriasis, eksim, dan masalah kulit lainnya ini merupakan salah satu masalah pada kulit yang juga rentan terjadi akibat masalah mental termasuk gangguan psychosomatic.

Dari dampak yang sudah dipaparkan, tidak serta merta saat kita mengalami masalah pada fisik, gangguan pencernaan, dan juga masalah kulit ini bisa langsung dikatakan bahwa kita tengah mengalami gangguan Psychosomatic. Perlu digaris bawahi bahwa gangguan Psychosomatic ini muncul akibat dari stres yang berlebihan dan juga berkepanjangan. Otak kita terlalu banyak tekanan sehingga menimbulkan rasa sakit pada anggota tubuh. Stres yang terus menerus dipendam dan dipelihara ini bukan lagi berakibat pada gangguan kejiwaan akan tetapi juga bisa berdampak pada fisik dan organ tubuh kita.

Adapun cara positif yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres antara lain dengan cara bercerita ke orang terdekat, mempelajari teknik relaksasi, Jujur pada diri sendiri, alokasikan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai, beri jeda jika masalah yang muncul berasal dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari (cuti), pastikan tempat istirahat dibuat senyaman mungkin, tinggalkan pola pikir yang memicu stres, dan terkahir terus melakukan hal baik untuk orang lain. Karena dengan membantu orang lain maka kebahagiaan dan sedikit ketenangan akan kita dapatkan.

Mengenali diri sendiri adalah hal yang sangat kita butuhkan untuk mencegah diri mendapati gangguan psychosomatic, selain itu dengan mengenali diri sendiri kita jauh lebih mudah untuk bisa mengontrol emosi diri sendiri. Saat masalah menutup semua otak dan jalan pikiran kita maka kita perlu menggunakan mata hati untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan masalah terus menerus menetap pada otak dan pikiran, segera selesaikan masalahmu dengan otakmu. Setidaknya saat masalahmu belum juga menemukan solusi, kamu bisa memberi ruang pada diri untuk menjalani hidup dengan ketenangan.

Hidup adalah sebuah perjalanan yang diringi dengan berbagai pesoalan. Kebanyakan dari orang yang mengalami depresi adalah mereka yang merasa sudah hilang kepercayaan pada siapapun, enggan untuk bercerita entah karena malu, takut, atau khawatir atau bahkan mengalami trust isue. Depresi juga dipicu oleh berbagai faktor masalah yang muncul di kehidupan seseorang, akan tetapi saat kamu sudah mampu mengenali dirimu sendiri, mengakui setiap rasa sedih, kecewa, marah, takut, cemas, dan perasaan lain yang memang sedang dirasakan, maka setidaknya ada point plus yang kamu miliki untuk bisa menyelesaikan persoalan yang sedang kamu alami.

Ada paragraf menarik dari sebuah buku “Seni Bersikap Bodoamat (Mark Manson; 36)” Masalah tidak berhenti, mereka hanya datang silih berganti dan/atau meningkat. Jika anda berusaha menghindari masalah anda atau merasa seakan-akan tidak punya masalah apapun, anda akan membuat diri anda sengsara. Jika merasa kalau anda memiliki masalah yang tidak dapat anda selesaikan, sama halnya anda membuat diri sendiri sengsara. Bumbu rahasianya ada dalam kata memecahkan masalah dan bukan pada punya atau tidak punya masalah.

Tetap menjaga diri dengan mengelola stres dan menurunkan kadar emosi negatif, karena penyakit yang muncul bukan hanya dari faktor makanan atau pola olahraga yang tidak teratur, tetapi penyakit juga bisa muncul saat kamu gagal mengelola stres yang kamu alami. Saat masalahmu terlalu berat untuk dijalani sendiri gandenglah orang terdekatmu, ajak dia untuk ikut mendampingimu dalam menyelesaikan masalahmu. Saat semuanya tidak bisa membantumu jangan sungkan untuk pergi ke psikolog. Psikolog bukan tempat untuk orang gila tetapi psikolog adalah tempat untuk kita bisa mengobati luka tanpa kasat mata.

Sumber Referensi :

Apriyani, R. 2018. Faktor-Faktor Penyebab Psikosomatis Pada Orang dengan Kecenderungan Psikosomatis. Psikoborneo. Vol 6(3), 425-430

Editor Enclycopaedia Britannica. Gangguan Psikofiologis. https://www-britannica-com.translate.goog/science/psychosomatic-disorder

Trifiana, A. 2019. Gangguan Psychosomatic (Psikosomatik) Adalah Saat Stres Melampaui Batas. https://www.sehatq.com/artikel/gangguan-psikosomatis-saat-stres-melampaui-batas

 

Penulis : Mila Alfiyani

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Kembali Terulang Kasus Kekerasan Seksual di Unej, Begini Kata PSG 

0 0
Read Time:1 Minute, 4 Second

 

PENAPIJAR.COM – Universitas Jember kembali ramai terhadap kasus kekerasan seksual yang baru – baru ini terjadi. Beredar cuitan Twitter dari korban yang menceritakan peristiwa kelam yang dialaminya pada, Sabtu (4/6/2022) diakun Twitter dengan username @WAdssst.

Menurut Dr. Linda Dwi Eriyanti., S.Sos., M.A menyayangkan kejadian tersebut dikarenakan saat ini pihak kampus sedang mengkampanyekan anti kekerasan seksual. Mengingat RUU TPKS sudah disahkan menjadi UU TPKS. Namun, lagi – lagi kasus kekerasan seksual tak dapat dihindarkan di lingkungan kampus UNEJ.

“Penyebab kasus ini terus terjadi berulang-ulang karna kurangnya pemahaman dan sosialisasi aturan terhadap kekerasan seksual sehingga kekerasan seksual masih dianggap hal biasa dan bisa di tolerir,” ungkapnya.

Ketua PSG Universitas Jember ini berharap agar Universitas Jember segera memproses kasus kekerasan seksual serta membentuk satgas sehingga pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus terstruktur. Sehingga korban tidak merasa kebingungan dalam melaporkan kasusnya dan paham prosedurnya.

“Melihat kasus-kasus seperti ini kami akan berusaha memfasilitasi dan mendampingi korban kekerasan seksual baik dari pendampingan psikologi dan pendampingan hukum,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan sanksi terhadap pelaku nantinya pihak PSG akan melakukan pengajuan rekomendasi ke pihak rektorat karena disini PSG bukan pihak pengambil kebijakan. Maka untuk sanksinya akan ditetapkan oleh universitas. Dan seharusnya sanksi yang diberikan kepada pelaku sesuai dengan perbuatan keji yang sudah dilakukannya. (ilm)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

“Ketika Demokrasi Kampus Dikebiri Organisasi Mahasiswa”

0 0
Read Time:3 Minute, 37 Second

Pena Pijar, OPINI – Mahasasiwa merupakan generasi penentu bagaimana suatu bangsa akan berjalan kedepannya, oleh sebab itu mereka harus mampu memahami demokrasi dalam konsep yang ideal, guna membangun suatu tatanan negara yang harmonis  berhaluan pancasila. Ekosistem kampus menjadi faktor penting dan merupakan wadah yang paling tepat untuk memberikan pengetahuan dan praksis demokrasi bagi mahasiswa. Begitulah seyogyanya fungsi dari lembaga pendidikan tinggi, sebagai laboratorium pencipta generasi bangsa yang kritis akan fenomena sosial disekitarnya.

Kampus adalah tempat melahirkan intelektual dan cendikiawan berpribadi. Para pemimpin indonesia saat ini tidak akan terlepas dari statusnya terdahulu sebagai aktivis kampus. Mungkin mereka dilahirkan dari berbagai kampus, entah itu perguruan tinggi atau swasta, terpenting mereka telah dicetak sebagai intelektual organik pembawa perubahan di masyarakat.

Demokrasi diharapkan mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpolitik berdasarkan keinginan dan kesadaran mahasiswa, yang berpatokan pada akal sehat. Salah satu yang menjadi tolak ukur berjalannya demokrasi di fakultas kita ini adalah sejauh mana antusiasme mahasiswa untuk turut andil dalam mensukseskan ajang kompetisi pemilihan umum di tiap ormawa yang diikutinya.  Najwa shihab pernah berkata “Demokrasi bukan hanya penguasa dan birokrasi yang kuat tapi rakyat yang bebas berserikat.

Namun, di FKIP Unej mahasiswanya hanya mampu memahami demokrasi prosedural, yang tercermin pada ajang regenerasi kepemimpinan di segala sektor yang ada, mulai dari tahap awal sampai dengan terpilihnya seorang pemimpin tersebut. Padahal, mahasiswa perlu menerjemahkan demokrasi substansial, dimana esensi dari demokrasi terletak pada nilai-nilai demokrasi, seperti kebebasan berpendapat, berserikat, musyawarah, dan lain sebagainya.

Menurut Notonagoro nilai demokrasi seharusnya mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman, bahwasannya setiap individu memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama di mata demokrasi. Demokrasi mengutuk keras terhadap deskriminasi golongan, asas kebebasan adalah nilai dasar untuk mewujudkan demokrasi yang sehat di kampus.

Berangkat dari situ, saya sangat prihatin terhadap sekelompok mahasiswa yang secara terang-terangan telah membunuh demokrasi dengan sebilah “tradisi organisasi”.  Tradisi adalah penilaian atau anggapan bahwa cara cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.  Memang, organisasi mahasiswa mempunyai tradisi yang berbeda-beda, tapi apakah harus tetap dipertahankan walaupun itu bertentangan dengan demokrasi?

Terdapat pula problematika yang acap kali muncul di fakultas ini, yaitu ketidaktertarikan mahasiswa akan kehidupan demokrasi di kampus. Asumsi ini muncul karena kita melihat bagaimana kecenderungan mahasiswa dalam melihat politik sebagai suatu hal yang buruk.

Jika kalian bukanlah regu mahasiswa Kupu-kupu mungkin akan menyadari, bahawa banyak HMP yang menjegal para mahasiswanya dengan persyaratan pencalonan yang kurang subtansif. Misalnya “Calon ketua pernah menjadi bagian dari kepengurusan” atau pun “Pernah mengikuti kepanitiaan yang dibentuk HMP”. Jika akal sehat kita masih bisa bekerja, hal tersebut sangat berpotensi menciptakan sebuah paradoks. Artinya, seseorang telah ditolak mendaftar sebagai calon ketua, karena dia pernah ditolak mendaftar sebagai seorang pengurus. Gila, gak tuh.

Pemilihan ketua ormawa sepatutnya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk berpartisipasi menjadi seorang calon ketua. Janganlah kita mengikuti perpolitikan negara Indonesia dengan menerapkan sistem “Presidential Treshold” karena tidak ada gunanya kita berbicara tentang kemerdekaan berfikir kalau hak individu untuk berkompetisi bebas dihalangi dengan persyaratan yang tidak netral.

Terlebih lagi, di fakultas tercinta kita ini masih ada saja Ormawa yang memiliki tradisi memarjinalkan mahasiswa yang memiliki background Organisasi Ekstra (Omek), entah itu GMNI, HMI, PMII,KAMMI, dan sebagainya. Bahkan, konon katanya ada satu ormawa di FKIP yang menyatakan bahwa dalam AD/ART mereka mahasiswa Omek tidak bisa bergabung ke ormawa tersebut. Tentu saja, hal tersebut tidak lah salah ketika dalam produk hukum organisasinya tidak menjadikan pancasila /UUD 1945 sebagai landasannya.

Padahal, berbicara mengenai bergabung dalam organisasi apa itu sah sah saja seharusnya, karena menyangkut kebebasan tiap individu. Aristoteles pun mengatakan apabila seseorang hidup tanpa kebebasan dalam memilih cara hidupnya, maka sama saja seperti budak. Toh, bagi saya setiap organisasi itu baik, selagi menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan dalam bergerak.

Secara tidak langsung mekanisme/regulasi  seperti yang saya sampaikan dari awal membatasi ruang berekspresi mahasiswa bahkan juga telah mengebiri demokrasi itu sendiri. Fakta-fakta tersebutlah yang justru semakin menegaskan bahwa mahasiswa FKIP Unej memang tidak memahami demokrasi yang esensisal.

Hal yang bisa saya perbuat adalah menyampaikan keresahan ini, seraya menunggu para pejabat FKIP membacanya, dan melihat bagaimana responnya. Karena saya memahami betul beliau-beliau ini adalah sosok pemimpin yang dilahirkan dari organisasi ekstra kampus, pastinya akan merasa dilecehkan dengan fenomena yang terjadi di wilayahnya. Jika saya yang menjadi birokrasi kampusnya? Mungkin saya hanya akan sedikit berbicara “Segera revisi regulasi/mekanisme yang mengebiri demokrasi, atau saya bubarkan organisanya”.

Penulis : Anonymous

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Teater Tiang Produksi Sendiri Naskah Drama yang Ditampilkan

0 0
Read Time:1 Minute, 46 Second

UKM Teater Tiang sukses menggelar drama perdananya pada kepengurusan tahun 2022 dengan tajuk “Labdawara Abripaya: Aji Semar Mesem” pada Sabtu, (28/5/2022). Sutradara dalam teater “Aji Semar Mesem” adalah Ibam Abimanyu, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2021 yang juga sebagai penulis naskah dari teater yang ditampilkan.

Ketua Umum Teater Tiang, Farisa Nurillah berasal dari program studi Pendidikan Matematika angkatan 2019 menyebutkan bahwa teater ini merupakan teater pertama kali yang menggunakan naskah dari tim CAB (Calon Anggota Baru). Biasanya teater tiang menggunakan teks naskah dari sanduran orang lain.

“Menjadi kebanggaan bagi UKM Tiang karena mampu mementaskan drama dengan naskah yang diproduksi sendiri. Teater yang terlaksana juga terbilang sukses dan banyak menarik antusiame penonton,” ungkapnya.

Farisa berharap dengan digelarnya pementasan teater ini bisa memberikan kobaran api semanagt bagi anggotanya, dan bisa menghasilkan naskah dan karya – karya lainnya. Sehingga dengan terlaksananya pagelaran teater ini seluruh elemen di UKM Tiang semakin kompak.

Terpisah Ibam Abimanyu selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengungkapkan bahwa inspirasi dari idenya dalam dalam “Aji Semar Mesem” karena ia prihatin dengan pemuda-pemudi yang semakin gila terhadap teknologi terutama Handphone. Dengan begitu, ia ingin mengenalkan budaya yang ada sejak dulu pada pemuda-pemudi yaitu benda-benda pusaka seperti keris.

“Tokoh utama dalam cerita ini adalah Adi yang tergambarkan sebagai sosok yang dekil, parasnya kurang menawan, kulitnya gelap, dan tidak wangi. Teater ini juga memberi pelajaran untuk melestarikan benda pusaka tanpa menuhankannya. Tidak menjadikan benda pusaka sebagai alat berbuat musyrik,” ujarnya.

Naskah yang Abimanyu tulis berdasarkan kisah nyata yang dialaminya sendiri, sehingga ia bisa menarasikannya secara tepat. Abimanyu menganggap dilingkungan tempat ia tinggal banyak peninggalan benda – benda pusaka yang masih tersimpan rapi oleh para sesepuh.

Lebih lanjut ia mengatakan “Para pemuda saat ini banyak yang tidak memperdulikan warisan leluhur. Tak ayal jika naskah yang dibuat ini merupakan naskah terbaik yang berhasil ditampilkan pertama kali dalam pementasan teater tiang panggaru XXVIII dengan tema “Labdawa Abipraya”. Suksesnya pementasan ini juga tidak akan berhasil tanpa adanya pemain-pemain yang mampu membawakannya dengan karakter yang begitu sulit dan tata panggung, serta tata rias yang saling bekerja sama,” jelasnya.

Pewarta : Jalis Syarifah

Editor : Dwi Ilma Damayanti

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Kilas Balik

0 0
Read Time:12 Minute, 13 Second

Pena Pijar, Cerpen– Kala itu, 2030 negaraku sedang mengalami masa deteriorasi tataran kenegaraan. Presiden bukan hanya sebagai eksekutif Negara, melainkan juga menjabat secara fungsional sebagai legislative dan yudikatif Negara. Hal ini menyebabkan peran keduanya hanya sebagai informan atau sebagai moderator antara masyarakat dan presiden. Kedigdayaan partai kancil, penopang presiden semakin menjadi-jadi setelah beberapa partai politik pun merapat berafiliator padanya. Di ranah oposisi, hanya tersisa dua partai politik yang teguh dengan prinsip masing-masing utnuk tidak mengemis pada partai kancil dan tetap bergerak sesuai prinsipnya, yaitu partai nusantara dan partai swalayan. Pastinya melihat gerakan kedua partai politik tersebut yang beroposisi dengannnya, dalam gerak politiknya, partai kancil membuat scenario menggiring arus pemikiran masyarakat untuk menyerang serentak kedua partai, yang menurut partai kancil sok idealis itu. Padahal menurutku, menjadi idealis adalah suatu kebebasan untuk tidak memihak pada siapapun, dan untuk problema ini, aku berada di oposisi partai kancil, tapi aku juga bukan tim afirmasi dari partai nusantara dan partai swalayan. Aku hadir untuk bahu-membahu mengeraskan sirine kebenaran.

Namaku Gie Alfiansyah, biasa dipanggil “Gie” mahasiswa semester muda fakultas sastra di universitas utopia. Pada saat aku baru memasuki kehidupan kampus, kebanyakan orang yang memanggilku “Gie”, mereka menyamakannya dengan salah satu tokoh pemuda peruntuh demokrasi terpimpin kala itu, “Soe Hok Gie”. Aku juga sempat bertanya pada ibuku, kenapa ayah memberi nama Gie untukku, karena menurutku kurang bermakna. Pada waktu itu, Ibu berkata bahwa Almarhum ayahku sangat mengidolakan salah satu pemuda idealis yang sangat berpihak pada masyarakat-masyarakat kecil. Katanya, pemuda itu salah satu pemuda revolusioner peruntuh demokrasi terpimpin, yaitu Soe Hok Gie. Ibu juga menjelaskan bahwa foto-foto pemuda keturunan tionghoa yang ada di ruang tamu, kamarku dan kamar ibuku adalah foto Soe Hok Gie. Sebelum mengakhiri pembicaraan, ibu berpesan “Almarhum ayahmu sangat ingin nantinya anak semata wayangnya ini juga meneruskan perjuangan dan pemikiran Soe Hok Gie.”

Mendapat panggilan “Gie” di dalam kampus, Aku menjadi sorotan oleh mahasiswa-mahasiswa aktivis yang juga mengenali tokoh “Gie” melalui biografi-biografi tentangnya. Beberapa dari mereka seringkali mengajakku untuk berdiskusi mengenai perpolitikan baik di tataran kampus maupun tataran negara karena menurut mereka aku memiliki gagasan istimewa yang mahasiswa lain tidak memilikinya. Itu menurut mereka, bukan menurutku. Tapi saat itu, aku selalu menolak ajakan mereka untuk berdiskusi karena menurutku kurang menarik untuk dibahas dan it was not my basic. Di dunia kampus, saat sebelum aku mengenal dunia aktivis, aku adalah mahasiswa yang aktif untuk perkembangan dan pengembangan diriku sendiri karena saat itu, menurutku ini adalah bentuk kebebasan. Kalau kata mahasiswa sekarang “individualis-apatis”, yaitu mahasiswa yang abai dengan keadaan sekitar dan hanya focus pada perkembangan dan pengembangan diri sendiri. Di lain sisi, sebenarnya aku juga aktif dalam memperbarui pengetahuanku tentang perpolitikan di Indonesia waktu itu. Tapi hanya sebatas mengetahui, tidak untuk mengkritisi, bahkan sampai pada advokasi. Sampai pada suatu saat, ada seorang sahabatku, yang juga salah satu mahasiswa aktivis kala itu, memakiku secara halus, “Kamu tidak malu dengan namamu, Gie?” ujarnya padaku. “Kenapa harus malu? Aku justru bangga, ternyata banyak yang mengenali sejarah namaku.” Jawabku saat itu. Sungguh tidak dapat aku prediksi, ia justru menghantamku dengan cercaan halusnya. “Soe Hok Gie, dengan idealisnya berkontribusi meruntuhkan demokrasi terpimpin kala itu dan berlanjut mengkritisi kepemimpinan orde baru yang justru semakin seenaknya sendiri. Kamu tahu, Gie? Itu bentuk tanggungjawab yang dilakukan oleh Soe Hok Gie. Lihatlah dirimu, Gie! Apa yang kamu banggakan? Individualis yang katamu idealis? Kamu sudah melakukan apa, Gie sehingga kamu layak bangga atas nama agung yang kamu sandang? Ayolah, Gie! Tumbuhkan ghiroh perjuangan Soe Hok Gie dalam kalbumu. Jangan hanya simpan ide-ide cemerlangmu yang berkemaslahatan dalam tempurung otakmu saja, gemakan itu, Gie, banyak yang menanti akan itu. Terbukti di artikelmu dalam berita harian kala itu. Banyak orang yang tergairahkan oleh tulisan-tulisan magismu itu, Gie. Ingatlah,Gie! Kenapa orang tuamu memberi nama Gie untukmu.” Aku tertampar mendengarnya. Batin dan logika seakan dicerca reruntuhan batu besar, sehingga aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku membisu, tenggelam dalam kehampaan lamunanku sendiri. Tiba-tiba aku menjatuhkan ponsel yang aku pegang dan seketika itu aku tersadar bahwa sahabatku beranjak meninggalkanku.

Peristiwa itu sering membuatku melamun memikirkan kata-kata yang diucapkan sahabatku tentang diriku. Apa aku salah seperti ini? Toh aku tidak merugikan orang lain. Jika aku peduli, aku harus apa? Apa dan siapa yang harus aku perjuangkan? Untuk apa aku akan berjuang? Apa aku harus ikut bersamanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mencerca pikiranku setiap saat, sehingga terkadang aku lupa akan kebutuhan diriku sendiri bahkan ibuku sempat beberapa kali menegurku karena sering melamun akhir-akhir itu. Akhirnya aku berusaha bercerita pada ibu perihal sebab lamunanku akhir-akhir itu. “Gie.. Ibu yakin apa yang dikatakan sahabatmu itu adalah hal yang seharusnya pemuda sepertimu lakukan, Nak. Kamu jangan ragu. Ibumu merestuimu, Nak.” Jelas ibuku, sambil membenarkan perkataan sahabatku. “Lalu aku harus bagaimana, Bu?” tanyaku padanya. Belum sempat menjawab pertanyaanku, Ibu langsung beranjak ke kamarnya dan kembali membawa sebuah buku. “Baca ini, Gie! Kamu akan tahu, kamu harus apa?” ujarnya. “Catatan Seorang Demonstran.” Gumamku lirih membaca judul buku itu.

Butuh dua hari untuk aku menyelesaikan dan benar-benar memahami maksud dan amanat yang disampaikan Soe Hok Gie dalam bukunya. Menurutku ada dua hal yang dapat aku tangkap dari buku dan akan ku jadikan dasar, mengapa aku harus terjun. Pertama adalah tentang prinsip, sedangkan yang kedua adalah merdeka. Prinsipku adalah tetap berada dalam jalur menegakkan kebenaran dengan tanpa keberpihakan, kecuali terhadap kebenaran. Sedangkan merdeka adalah kebebasanku dalam memilih jalan, terjun atau tidak. Sedikit demi sedikti, ghiroh perjuanganku mulai tumbuh dan aku pun mulai aktif baik membaca berita, buku, dll maupun mengikuti seminar-seminar tentang kebangsaan. Hal ini aku lakukan, agar apapun yang nantinya aku lakukan tidak subjektif menurut perspektifku sendiri, melainkan berdasar dari beberapa referensi bahkan dasar hukum yang aku pelajari.

Minggu-minggu setelah itu, aku sudah mulai aktif menyumbang tulisan di berbagai berita harian. Tulisan sederhana, kritik yang aku kemas dalam bentuk anekdot. Siapa sangka? Tulisan seperti itu dalam minggu-minggu terakhir sedikit meledak dan banyak digandrungi baik oleh mahasiswa, dosen dan guru-guru tua muda yang peduli akan reformasi jilid II. Cukup memuaskan. Setelah banyak mendengar dan membaca keadaan yang semakin lama, semakin menjunjung namaku. Aku sejenak menghela nafas dan bertanya pada diriku sendiri “Setelah ini kamu mau bagaimana, Gie? Terus seperti ini atau lebih terus terang.” Sesuai prinsipku, aku hadir bersama prinsip menyuarakan kebenaran untuk negeriku tercinta.

Kondisi perpolitikan Indonesia kala itu memang sudah tidak karuan, terlebih ketika Presiden mewacanakan kebijakan perpanjangan struktural pemerintahan yang ketiga kalinya. Wacana itu semakin kuat dengan adanya pengklasifikasian ulang perkotaan dan proyek besar peralihan jantung ibu kota ke kota Gersang. Hal ini dilansir dari berbagai sumber, peralihan jantung ibukota dilakukan untuk eksploitasi besar-besaran terhadap kota tersebut, karena sebelumnya operasi yang ditawarkan pemerintah tidak menghasilkan apa-apa alias nihil.

Antara iya dan tidak. Meskipun kebijakan ini masih dilematis, wacana ini menjadi berita panas yang akan berkelanjutan dan menjadi bahan kajian dari berbagai golongan mahasiswa dan organisasi masyarakat yang khawatir akan terulangnya deteriorisasi tatanan kenegaraan di era 90-an. Menyikapi hal itu, beberapa kali aku diajak berdiskusi oleh berbagai golongan mahasiswa, kali ini aku terima karena aku sadar, aku juga mahasiswa. “Sebelum kita membahas lebih dalam, saya akan sedikit memberi pengantar diskusi untuk kita semua. Keakuratan hasil kajian harus menjadi point prioritas dalam kajian ini. Kedua, kematangan pemahaman untuk menganalisis dan merumuskan strategi-strategi sebagai bentuk perlawanan konkret yang berdasar, juga harus benar-benar menjadi pegangan berdialektika hari ini. Kita juga harus lebih mawas diri, karena lawan kita bukan hanya si pemerintah, tetapi juga media-media dan orang-orang serakah lainnya yang dipayungi oleh pemerintah. Kawan-kawanku semuanya, gerakan kita adalah penentu masa depan bangsa esok. Jika kita terhipnotis oleh kedigdayaan mereka hari ini, maka anak-anak kita akan teraniaya oleh sihir mereka. Sebagai mahasiswa, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu berada pada titik oposisi pemerintah, karena ini sebagai bentuk penyeimbangan sosial. Siapapun itu pemeimpinnya. Tetap pegang teguh ke-idealisan kita semua. Panjang umur hal-hal baik! Salam mahasiswa!!! Merdeka!!” Serentak keseluruhan menjawab”Merdeka!!”

Dengan kondisi yang semakin tidak jelas saat itu, hanya ada satu media pers yang menurutku paling independen dan pro terhadap rakyat, yaitu Nada Rakyat. Aku semakin sering mengirimkan tulisan-tulisan kritik untuk dipublikasikan ke khalayak. Hal ini aku tujukan agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat tersadarkan dan tidak terhegemoni oleh arus yang dibuat pemerintah. Tidak hanya melalui tulisan, aku juga menyatakan perlawanan melalui podcast milik bang Karni Ilyas, yang saat itu menjadi satu-satunya ruang yang tidak ditunggangi oleh kepentingan apapun, kecuali kebenaran. “tidak bisa dipungkiri, bang karni. Hari ini rakyat sudah dimonopoli oleh polemic yang secara sengaja dirancang se-eksotis mungkin oleh pemerintah, sehingga mampu menggiring arus pemikiran masyarakat. Meskipun ada beberapa yang tidak terpengaruh, tapi dengan terpaksa, mereka harus ikut dan menyetujui kebijakan karena ada ancaman dan jaminan mengenai sandang pangan mereka. Ok, hari ini kita ikut dan seakan dimanja oleh pemerintah. Tapi 4-5 tahun ke depan, kita semua akan menjadi kayu kering yang fungsinya kalau tidak dibuang ya menjadi bahan bakar. Se-rendah itu ya, Bang. Maka dengan ini, Bang. Atas nama rakyat Indonesia dan mahasiswa seluruh Indonesia, saya tidak akan diam dan akan terus melakukan perlawanan atas ke-kurangajaran pemerintah hari ini. Saya tidak akan berhenti sampai ini tuntas atau sebaliknya, saya yang dituntaskan” tukasku jelas, memberikan kecaman perlawanan kepada pemerintah.

Banyak yang mencariku kala itu. Beberapa media juga santer membicarakan tentangku. Melansir dari Nada Rakyat yang menulis berita tentangku berjudul “Gie, Pemuda Pelopor Pembaharuan Bangsa” dikatakan bahwa aku masuk nominasi salah satu dari 10 pelopor muda terkemuka di dunia. Dengan beberapa berita yang semakin mengangkat namaku, aku berpikiran bahwa ini akan semakin mudah menyadarkan masyarakat dari berbagai tataran untuk menarik barisan dari pemerintahan dan menyongsong barisan baru, yaitu barisan perlawanan. Di lain sisi, aku juga menjadi target utama pemerintah untuk dibumihanguskan. Sama sekali aku tidak takut. Semakin aku menyuarakan kebenaran, semakin aku siap untuk mati.

“Gie! Kamu pulanglah segera. Ada berita buruk!” tiba-tiba tanteku meneleponku dan menyuruhku pulang waktu itu. Aku terheran, dengan keadaan luar yang seperti ini, apa yang sedang terjadi di rumah? Aku pun bergegas pulang dari kampus, setelah melakukan pertemuan-pertemuan dengan aliansi mahasiswa seluruh Indonesia. Tiga hari sudah aku belum pulang sama sekali. Berkabar pada Ibu pun tidak.

Sesampainya di gang depan rumah, aku melihat keramaian di sekitar rumahku. Aku pun bertanya pada mereka yang berada di luar “ada apa ramai-ramai ya? Kenapa semua berkumpul disini?” Tidak ada yang menjawab. Suasana hening, perasaanku tidak lagi tenang. Seketika aku membuka pintu, aku melihat ibuku terkapar dengan beberapa titik di perutnya yang mengucurkan darah. “Tante!! Kenapa tidak segera dibawa ke rumah sakit?? Ayo cepat ke rumah sakit!” tanpa basa-basi, aku berusaha membopong ibuku keluar. Tapi ibuku menahannya dan berkata “Gie! Anakku! Kamu tidak berada di jalan yang salah, Nak. Teruskan apa yang kamu perjuangkan. Buat bangga ayah dan ibu ya, Nak. Ibu merestuimu hingga akhir hayat ibu.” Itu pesan terakhir dari ibuku. Aku harus kehilangan satu-satunya orang yang tersisa dari keluarga kecilku. Ibuku meninggal dibunuh oknum yang beberapa kali mencariku dan mengancam membunuhku karena menurutnya aku terlalu ikut campur dalam urusan pemerintahan.

Duka atas meninggalnya ibuku, tidak aku jadikan luka dan penyesalan berlarut-larut atas segala perjuanganku selama ini. Tidak juga mengurangi semangatku dalam melanjutkan perjuanganku, seperti apa yang diamanatkan ibu padaku. Semuanya memang terjadi di luar prediksi, inilah takdir Allah, kita tidak pernah tahu, kapan itu datang. Kini semuanya semakin terasa klimaks.

Tujuh hari pun usai sejak meninggalnya ibuku. Kemudian aku kembali melanjutkan aktifitas-aktifitasku sebelumnya yang sempat tertunda karena musibah yang sedang menimpa keluargaku. Aku menemui pimpinan redaksi Nada Rakyat untuk mengirimkan tulisan-tulisanku selama tujuh hari itu. “Gie, ini sedikit riskan. Aku bisa menerbitkan yang lainnya, tapi tidak dengan yang ini.” ujar pimpinan redaksi Nada Rakyat menolak satu tulisanku untuk diterbitkan kala itu. “Pak, saya mohon. Tolong ini diterbitkan. Ini yang akan membakar semangat rakyat dan ini yang akan membuat pemerintah semakin gelagapan. Saya mohon, Pak.” Pintaku sambil memohon-mohon padanya. “Baiklah. Tapi aku harus berkonsultasi pada pimpinan utama perusahaan ini. Jika dizinkan, aku akan melakukan. Tapi jika tidak, maaf, Gie aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Aku menyetujui permintaannya. Ia pun langsung menuju ruangan pimpinan utama Lembaga Pers Nada rakyat ini. Aku sedikit gelisah menunggu di luar karena khawatir ia tidak memberi izin ata ini. “Publish, Gie! Tunggu saja besok beritanya.” Ujarnya. “Terimakasih, pak.” Setelah menjabat tangannya, aku langsung keluar dan kembali menemui teman-teman aktivis yang lainnya.

Esoknya, seluruh tulisanku yang isinya kritik objektif telah terbit, hingga ini memunculkan petisi untuk melengserkan presiden beserta jajarannya kala itu. Menyikapi hal itu, presiden bersama lembaga legislative dan yudikatif lainnya tergesa-tergesa mengadakan rapat tertutup untuk mencari solusi atas petisi itu. Tepat pukul 02.00 pagi hasil rapat diputuskan dan dipublikasikan.

Keadaan di luar semakin carut-marut. Presiden resmi memperpanjang masa jabatannya hingga 2034 atau selama tiga tahun mendatang. Semuanya tidak terkontrol. Amarah rakyat sipil, mahasiswa, dan ormas lainnya pun semakin beringas, dan siap melakukan demonstrasi besar-besaran.

Dengan tegas dan tanpa membuang-buang waktu, kelompok mahasiswa melayangkan surat audiensi untuk berdialog dengan presiden kala itu. Namun apalah daya, jalan damai yang diajukan mahasiswa pun tidak digubris olehnya. Tanpa berpikir panjang, satu-satunya cara untuk meruntuhkan kedigdayaan presiden dan partai-partai yang berafiliasi padanya adalah demonstrasi besar-besaran.

Tanggal 20 Mei 2027, bertepatan dengan hari kebangkitan pancasila, rakyat sipil, ormas, dan golongan mahasiswa bersatu-padu melakukan demonstrasi besar-besaran di halaman istana presiden. Mereka semua semakin tidak terkontrol melakukan demonstrasi dimana-mana. Aparat polisi, tentara dan sejenisnya semakin sibuk menghalang dan menyetrilkan lapangan karena ulah ormas dan mahasiswa yang semakin menjadi-jadi. Demonstrasi akbar jilid III terkait keserakahan presiden pun terjadi. Gedung-gedung yang dibawah naungan pemerintahan hancur tidak karuan. Korban bergeletakan. Proyek-proyek yang menjadi alasan kenapa struktural pemerintahan harus diperpanjang dari tahun-tahun sebelumnya, kini semuanya diambil alih oleh ormas-ormas yang tidak sabar akan kelambatan-kelambatan yang secara sengaja direncanakan untuk memanifestasi ke-oligarkian Presiden dan partai kancil. “Negara ini milik rakyat, bukan milikmu, orang-orang bangsat!!!” makian salah seorang demonstran kala itu. Se-anarkis itu tragedy Mei 2027. Berkat rahmat Tuhan yang Esa dan diiringi spirit perjuangan persatuan, kala itu kami berhasil meruntuhkan kedigdayaan rezim partai kancil. Namun pasca itu, tepatnya sebelum era reformasi dimulai, ada tragedy penculikan terhadap mahasiswa-mahasiswa pelopor kala itu. Banyak dari kami yang tertangkap, termasuk aku, kemudian diasingkan. Pada akhirnya aku selamat dan dibebaskan, karena waktu itu kumpulanku di sel adalah orang-orang biasa, sehingga mereka tidak mungkin mau mencari tahu tentang kami. Aku akui, kami menang waktu itu, tapi terlalu banyak yang terkorbankan. Jasad-jasad mereka yang mereka yang terculik, sampai saat ini masih tidak ada wujudnya.

Sampai detik ini, aku tetap konsisten melakukan kririk pada tataran pemerintahan melalui karya-karya sastraku. Kebenaran tidak akan pernah mati dan akan terus hidup dan dihidupkan oleh peradaban.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Pentingkah Berorganisasi Bagi Mahasiswa ?

0 0
Read Time:1 Minute, 24 Second

OPINIPIJAR.COM – Mahasiswa adalah sebagai agent of change (agen perubahan). Julukan mahasiswa sering juga didefinisikan sebagai siswa yang agung, cerdas, dan seharusnya memiliki pengetahuan luas. Selayang pandang mahasiswa melewati perjalanan historis yang panjang mulai dari pra – kemerdekaan, orde baru, hingga saat ini era demokrasi.

Dunia kampus tidak dapat dimaknai secara sederhana, sama halnya seperti menjelajahi dunia dan seisinya. Kampus sebagai medan pengkaderan bagi calon pemimpin masa depan. Harapannya nanti kampus akan melahirkan para pengisi pos – pos strategis baik dibidang ekonomi, politik, intelektual, sosial maupun budaya.

Disadari atau tidak kampus hanya memfasilitasi dan menyiapkan kebutuhan mahasiswa pada kegiatan perkuliahan dalam meraih cita – cita yang di mimpikannya. Lebih dari itu mahasiswa harus mampu bertarung sendiri. Sehingga jalan untuk menjembatani dan bekal dalam meraih cita – cita tidak bisa hanya belajar di dalam kelas saja, namun ditunjang dengan ikut berorganisasi.

Aktif berorganisasi bagi mahasiswa tentunya akan mendapat banyak keuntungan, baik dari segi pengalaman, wawasan, relasi dan lain sebagainya. Organisasi tidak menawarkan sebuah pintu ajaib menuju Roma, tetapi organisasi memberikan cara untuk mencapainya walaupun harus melewati badai, hujan, dan jalan yang terjal. Memang benar kita tidak bisa mengukur dengan angka kebermanfaatan organisasi, namun bisa kita rasakan baik dalam perasaan dan perubahan diri. Dulunya kita gugup untuk tampil didepan publik tetapi diorganisasi kita akan belajar public speaking. Di organisasi kita juga dilatih untuk membangun jaringan baik luar maupun dalam.

Perlu dipahami bersama bahwasannya dalam berorganisasi harus memiliki komitmen yang tinggi dan loyal terhadap organisasi sehingga, berorganisasi tidak semata – mata sebagai ajang eksistensi dan beradu gengsi. Mahasiswa yang berorganisasi tentunya memberikan kontribusi dalam program pengembangan dan pembangunan masyarakat, sehingga kampus tidak beralih fungsi sebagai egoisme organisasi apalagi sebagai kapitalisasi kampus.

Penulis : Dwi Ilma Damayanti

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

MIMPI

0 0
Read Time:4 Minute, 21 Second

Oleh Erika Nanda

                Supri namanya, lelaki berpakaian lusuh dengan jaring ikan di punggung itu berjalan gontai menuju rumah di mana ia dan istrinya tinggal. Wajahnya tampak lesu syarat akan kesedihan. Hari ini, lagi dan lagi, Supri tak mendapat hasil tangkapan apapun. Ya, Supri adalah seorang nelayan di sebuah desa kecil di pinggir pantai. Memang, akhir-akhir ini cuaca sedang buruk sehingga banyak nelayan yang memutuskan tidak melaut. Namun, Supri tak punya pilihan lain, jika tidak bekerja maka ia dan istrinya tidak bisa makan. Supri dan istrinya hanya tinggal berdua karena mereka belum memiliki anak.

Setelah sampai di rumah, Supri bergegas membersihkan diri di sumur tua belakang rumahnya. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada istrinya bahwa hari ini ia tidak mendapatkan hasil tangkapan seperti hari-hari sebelumnya.

“Mir!” panggil Supri kepada istrinya.

Mirna, istri supri, bergegas menemui sang suami di kamar. Tadi, setelah mandi Supri memutuskan untuk tidur sejenak.

“Iya, Kang?” jawab Mirna.

“Maafkan Kakang, Mir.” dengan wajah sedih Supri mencoba menjelaskan. “Hari ini tidak ada ikan. Terpaksa kita tidak bisa membeli beras dan hanya makan singkong saja.”

Mirna diam, ia bingung harus menjawab seperti apa. Tentu Mirna sangat sedih karena beberapa bulan keuangan mereka sedang susah. Mencoba untuk tersenyum dan saling menguatkan, Mirna genggam tangan Supri.

“Tidak apa-apa, Kang. Mirna mengerti, kan cuaca memang sedang susah.” jawabnya sambil tersenyum.

“Lebih baik sekarang kita makan. Tadi Mirna sudah masak singkong rebus dan sedikit sayur bayam pemberian Budhe Wati kemarin.” ajaknya kepada sang suami.

Selepas makan, mereka berdua berbaring di atas kasur. Menit demi menit berlalu, namun Supri tidak bisa memejamkan matanya. Bahkan Mirna yang ada di sampingnya sudah terlelap sejak mereka berdua merebahkan diri di kasur. Kepala Supri dipenuhi oleh pikiran-pikiran bagaimana mendapatkan uang besok. Ia merasa kasihan kepada Mirna. Pasalnya, sejak dinikahi oleh Supri, Mirna jarang makan enak. Lama berpikir, akhirnya tanpa sadar ia terlelap.

Supri terbangun kala ia mendengar sayup-sayup orang memanggil namanya. Ia berkedip dan menolehkan kepala guna mencari asal suara tersebut. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kegelapan. Mencoba mengabaikan suara yang ia dengar, Supri kembali memejamkan mata. Di tengah tidurnya, Supri bermimpi bertemu dengan wanita cantik berkebaya hijau. Wanita tersebut mengatakan beberapa hal kepada Supri.

“Supri!” panggil wanita tersebut dalam mimpinya.

“Besok pergilah melaut, aku memiliki hadiah untukmu. Dan hadiah itu hanya bisa kau ambil saat kau ada di tengah lautan.” lanjutnya kepada Supri.

Tanpa terasa, hari sudah pagi. Supri bangun dan bersiap pergi melaut. Ia teringat akan mimpinya tadi malam. Dengan rasa penasaran yang besar, ia memutuskan untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh wanita dalam mimpinya semalam. Saat akan mengambil jaringnya, Mirna berteriak memanggil.

“Kang! Mau ke mana?”

“Aku akan pergi melaut dan mencoba peruntungan hari ini, Mir.” jawab Supri.

“Kang jangan!” Mirna melarang. “Ombak sedang tidak bersahabat, Kang. Anginnya juga kencang. Kakang di rumah saja hari ini. Ya, Kang?” Mirna menjelaskan sembari memohon kepada Supri agar ia tidak pergi melaut. Namun, Supri yang sudah kelewat penasaran dengan mimpinya semalam tetap bersikeras untuk pergi.

“Tidak, Mirna. Aku akan tetap pergi. Semalam aku bermimpi akan mendapat sesuatu yang mungkin saja bisa membantu perekonomian keluarga kita. Aku merasa gagal menjadi suami ketika tidak bisa membahagiakanmu. Jadi aku putuskan untuk tetap melaut.” Jelas Supri.

“Kang, Mirna tidak masalah kita hidup seperti ini terus asal tetap bersama Kakang. Mirna tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kang.” Mirna tetap berusaha membujuk Supri agar ia tidak pergi.

“Jangan khawatir, Mir. Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Lagipula hanya angin dan ombak, aku sudah terbiasa dengan itu sejak kecil.”

“Tapi Kang, Mirna hanya-“, ucapannya terpotong kala Supri kembali meyakinkan jika ia akan baik-baik saja.

“Mir, percaya pada Kakang. Setelah ini pasti hidup kita akan berubah. Kau hanya perlu menunggu dan mendoakanku di rumah. Aku berjanji akan pulang saat sudah dapat hasil tangkapan.” ucap Supri

“Baiklah, Kang. Mirna ijinkan Kakang untuk pergi tetapi berjanjilah untuk pulang. Dengan atau tanpa hasil tangkapan sekalipun,” jawab Mirna dengan sedikit tidak rela.

“Tentu,Mir. Aku berjanji padamu.”

Setelah kepergian Supri untuk melaut, Mirna melanjutkan membersihkan rumah. Hatinya sejak tadi tidak tenang. Namun, ia mencoba abai dan tetap bersikap biasa saja.

Menjelang petang, Mirna mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu menunggu kepulangan Supri. Ia menjadi lebih khawatir karena angin yang semakin kencang ditambah hujan turun dengan deras. Mirna takut hal buruk terjadi pada suaminya. Karena lelah menunggu, Mirna jatuh tertidur di kursi ruang tamu.

Pagi harinya, Supri tetap belum kembali. Dengan langkah tergesa Mirna meminta tolong kepada tetangganya untuk membantu mencari keberadaan Supri. Namun, pencarian berhari-hari itu tak membuahkan hasil. Supri seolah hilang ditelan bumi meninggalkan Mirna tanpa ucapan perpisahan. Sampai saat ini, tak seorangpun tau kemana perginya suami Mirna tersebut. Janji yang  Supri ucapkan kala itu untuk pulang ke rumah nyatanya tak bisa ia tepati.

Selepas kepergian Supri, Mirna seperti orang linglung. Kehilangan Supri menjadi pukulan yang besar untuknya. Ia sering berdiri di tepi laut berharap sang suami kembali dan pulang bersamanya. Mirna juga kerap kali menangis sendiri, seperti saat ini, dengan tersedu-sedu iya meminta kepada laut untuk mengembalikan Supri padanya.

“Kang, kau tega berbohong padaku. Kau berjanji untuk pulang. Kembalilah, Kang! Mirna rindu. Mirna tidak bisa hidup tanpamu, Kang.”

“LAUT, TOLONG KEMBALIKAN SUPRI PADAKU. JANGAN AMBIL DIA DARIKU!” teriaknya. Namun, laut seolah tuli akan permohonan Mirna.

TAMAT

 

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Serpihan Nafasku yang Pecah

0 0
Read Time:30 Second

 

Detik tak bergeming lagi dalam sunyi

Menambah senyap dalam hati

Memulai cerita baru dalam diri

Menghadirkan rasa bahagia jiwa ini

 

Hanya senyuman sebagai jembatan

Kita saling memahami dalam pikiran

Tanpa berpikir akan berakhir dengan singkat

Bahkan pikiran kita tak terjangkau ke sana

 

Perlahan, waktu mencoba untuk menyelinap pergi

Meninggalkan banyak coretan dan senyuman di sini

Entah kemana, detik itu sulit dihadirkan lagi

Waktu tetap tak bergeming pada keheningan ini

 

Aku lelah mengejar suara perdetik yang kita butuhkan

Biarkan saja waktu membawa banyak cerita

Aku tetap mengingatmu dalam hening malam

Terima kasih untuk waktu yang lama

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Beauty Standards

0 0
Read Time:1 Minute, 37 Second

Ketika kita berbicara tentang perempuan, salah satu hal yang terlintas dalam pikiran adalah Kecantikan. Seorang perempuan identik dengan kecantikan. Saat berbicara tentang kecantikan di Indonesia, banyak orang yang berfikir bahwa cantik itu memiliki proporsi tubuh 90-60-90, dengan kulit putih bersih, hidung mancung, bibir merah alami, rambut panjang, kaki panjang, wajah tirus dan masih banyak lagi kriteria khusus yang menggambarkan bagaimana perempuan di Indonesia dianggap cantik.

Istilah Beauty Standards sudah aja sejak dahulu dan terus berubah seiring waktu. Karena kemajuan jaman dan teknologi, standard kecantikan menjadi lebih variatif. Namun standar berkulit putih tetap menjadi Standar Kecantikan paling populer. Seperti sekarang banyak perempuan yang menghalalkan segala cara untuk menjadi “Putih” mulai dari memakai skincare aman hingga skincare yang mengandung bahan berbahaya dengan tujuan menjadi putih dengan cepat.

Banyaknya tekanan dari orang sekitar terutama keluarga, teman, bahkan sesama perempuan membuat banyak orang tertekan. Tak jarang perempuan yang menyalahkan dirinya sendiri karena penampilannya yang jauh dari standar kecantikan. Mereka mengesampingkan fakta bahwa mereka sudah berusaha keras untuk menjadi “Cantik” sesuai kriteria.

Tidakkah kita sadar bahwa kita memiliki apa yang kita miliki? Kita berusaha untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih cantik agar dihargai, tetapi seharusnya tidak seperti itu. Kita tidak harus mengubah segalanya tentang diri kita hanya untuk membuat orang lain terkesan dan menghormati kita. Bukankah setiap manusia harus saling menghormati? Bukankah ada banyak hal lain selain penampilan? Secara umum, masyarakat terobsesi dengan kecantikan.

Memiliki kulit bertekstur, jerawat, hidung pesek, berat badan lebih, stretchmark, dan lainnya bukan berarti kamu yang terburuk dan tidak pantas untuk dicintai. Bagaimana kita menilai diri kita tidak cantik apabila tidak melihat sisi terbaik kita. Cobalah temukan cara yang nyaman menurut diri sendiri. Temukan Personal Style kalian dan lakukan apapun yang membuatmu bahagia. They don’t deserve you if they don’t love you how the way you are. Jangan biarkan orang lain mengubah diri kita sendiri, semua perempuan luar biasa, semua perempuan cantik, dari dalam maupun dari luar.

IMA MATURRAMAH

Pendidikan Bahasa Inggris

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

PERMASALAHAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM SUNGAI

0 0
Read Time:6 Minute, 28 Second

OPINIPIJAR.COM Bumi terdiri dari bentangan alam yang luas dengan berbagai bentuk permukaan beserta isi yang terkandung di dalamnya. Bentuk-bentuk permukaan yang beragam membuat bumi terlihat sangat indah. Bumi semakin indah dengan adanya air yang memenuhi sebagian besar luasan permukaannya. Genangan air yang luas ini membentuk suatu ekosistem yang disebut dengan perairan. Ekosistem perairan dibedakan menjadi perairan tawar dan laut. Ekosistem perairan tawar merupakan genangan air yang ada di daratan. Salah satu jenis ekosistem perairan tawar adalah sungai.

Sebagai ekosistem, sungai memiliki komponen-komponen layaknya ekosistem lain. Komponen tersebut adalah komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah makhluk hidup yang berada dalam ekosistem. Beberapa komponen biotik tersebut antara lain ikan, lumut, rajungan, maupun tumbuhan dan hewan lain yang hidup di dalam sungai. Sedangkan komponen abiotik adalah benda-benda mati yang menyusun ekosistem.

Beberapa komponen abiotik tersebut antara lain air, pasir, batu, tanah, dan berbagai material yang ada di dalam sungai. Kedua komponen ini membentuk hubungan yang saling mempengaruhi. Komponen biotik memerlukan komponen abiotik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, komponen abiotik dapat dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan oleh komponen biotik (Priastomo dkk., 2021:12-15).

Sungai berbentuk aliran air yang panjang dan dapat bercabang. Cabang-cabang dari aliran sungai disebut dengan anak sungai. Sedangkan kawasan sepanjang aliran sungai beserta cabang-cabangnya disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau DAS. Daerah ini terdiri dari tiga bagian utama.

Bagian pertama adalah bagian pangkal atau hulu. Biasanya merupakan kawasan rimbun dengan berbagai jenis tumbuhan yang ada di dalamnya. Bagian kedua merupakan aliran sungai yang memanjang setelah hulu hingga ke ujung. Bagian ketiga adalah ujung atau hilir. Daerah hilir merupakan kawasan terendah dari aliran sungai sebelum bermuara ke danau atau laut. Kondisi daerah ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi hulu sungai (Ekawaty dkk., 2018).

Sungai menyimpan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Sungai dapat menjadi penyedia sumber daya yang berguna bagi manusia. Berbagai komponen biotik dan abiotik yang ada di dalamnya merupakan bahan yang bernilai bagi kehidupan manusia. Beragam jenis ikan dan tumbuhan yang hidup di dalam dan sekitar kawasan sungai dapat diolah menjadi bahan makanan maupun barang fungsi.

Contoh hasil ikan dan tumbuhan di sungai antara lain ikan gabus, ikan lemuru, ikan lele, pakis, dan kangkung. Material dalam sungai dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Material yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan adalah pasir dan batu. Sedangkan air sungai dimanfaatkan terutama untuk mengairi persawahan atau sebagai sistem irigasi. Pada beberapa perusahaan mengolah air sungai menjadi air bersih yang siap untuk digunakan, seperti yang dilakukan oleh PDAM (Soegianto, 2010:2).

Sementara dalam sistem ekologis, sungai berperan sebagai pengendali debit air yang turun setelah hujan. Daerah pangkal aliran sungai (hulu) dengan barbagai tumbuhan di dalamnya berfungsi untuk menyimpan dan menahan air. Air yang turun setelah hujan akan mengalir dari hulu. Sebagian air akan tersimpan di daerah hulu dan sebagian lain akan dialirkan ke hilir. Di bagian hilir air akan mengalir ke muara baik danau maupun laut (Ekawati dkk., 2018).

Manfaat yang begitu besar tidak menjadikan sungai tetap berada dalam kondisi yang baik. Sebagian besar ekosistem sungai di Indonesia telah mengalami kerusakan akibat perilaku manusia. Secara sederhana, indikasi kerusakan ekosistem sungai dapat dilihat dari air yang berwarna coklat dan keruh. Warna ini menunjukkan banyaknya material larut yang mencemari air sungai (Amalia dkk., 2019:137).

Selain itu, jumlah sampah yang terbuang ke sungai dan dangkalnya sungai juga menjadi indikasi bahwa ekosistem sungai telah mengalami kerusakan. Sampah berasal dari kegiatan manusia baik berupa rumah tangga maupun industri. Sedangkan dangkalnya sungai diakibatkan oleh terjadinya erosi.

Sungai di Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi yang baik. Hal ini diungkap oleh Firmansayah dkk. (2021) bahwa dari hasil kajian mereka didapatkan data seluruh sampel air sungai telah tercemar. Sungai-sungai yang menjadi sampel berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sungai-sungai tersebut antara lain berada di pulau jawa, pulau bali, dan pulau Kalimantan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran telah terjadi secara merata. Pencemaran banyak disebabkan oleh zat-zat kimia hasil aktivitas manusia. Zat-zat tersebut antara lain ammonia, fosfat, nitrat, nitrit, BOD, dan COD. Kondisi yang tidak berbeda juga terdapat pada struktur dan bagian aliran sungai.

Terjadinya kekeringan yang berkepanjangan, banjir, dan longsor berkaitan dengan rusaknya daerah sekitar aliran sungai. Penggundulan hutan di daerah hulu sungai berdampak terhadap hilangnya pohon-pohon atau tumbuhan yang selama ini menjaga kestabilan ekosistem sungai dan kehidupan di sekitarnya. Struktur akar tumbuhan terutama pepohonan memiliki kekuatan untuk mencengkram dan meningkatkan kepadatan tanah. Tumbuhan yang berkurang akan menyebabkan mudahnya terjadi erosi akibat struktur tanah menjadi lebih labil dan tidak kuat menahan air.

Hilangnya tumbuhan di daerah hulu juga mengakibatkan meningkatnya kecepatan aliran air hujan yang turun. Semakin cepatnya aliran air memicu kenaikan debit yang ditampung oleh sungai. Sehingga banjir sangat rentan terjadi di daerah hilir. Selain itu, tumbuhan yang hilang juga menurunkan daya simpan air di dalam tanah. Akar-akar tumbuhan yang sebelumnya dapat menyimpan cukup air, turut hilang bersama dengan terjadinya penggundulan hutan.

Akibatnya terjadi kekeringan di daerah sekitar sungai atau bahkan juga dapat berdampak hingga ke kawasan lain (Ekawaty dkk., 2018). Berbagai keadaan tersebut menunjukkan perlunya pengelolaan sungai di Indonesia dengan pendekatan yang lebih baik. Pengelolaan sungai dengan hanya memaksimalkan profesional dalam pelaksanaannya perlu diperbaharui. Pembaruan tersebut dapat dilakukan dengan pengadaan program yang melibatkan masyarakat secara nyata baik dalam perumusan langkah, penentuan tujuan, dan pelaksanaan pengelolaan sungai. Pelibatan masyarakat secara nyata akan menimbulkan tanggung jawab untuk menjaga di kemudian hari.

Pelibatan masyarakat juga akan memperbesar efektifitas dari program. Hal ini karena masyarakat merupakan subjek terdekat dengan lingkungan mereka. Sehingga pengetahuan masyarakat tentang lingkungan mereka akan mengantarkan pada terciptanya langkah yang tepat untuk pengelolaan sungai (Widodo, 2010).

Program yang dapat dilakukan antara lain pertanian terasering dan tumpang sari. Pertanian terasering telah banyak diterapkan di masyarakat. Daerah persawahan dalam sistem ini dibentuk berundak sehingga sudut kemiringan lahan dapat diperkecil. Dengan demikian aliran air menjadi lebih lambat sehingga erosi yang mengarah ke sungai dapat tercegah.

Sementara sistem tumpang sari adalah penanaman beraneka ragam jenis tumbuhan dalam satu lahan. Untuk mencegah terjadinya erosi, lahan juga ditanami dengan tumbuhan yang memiliki struktur akar yang kuat (Ekawaty dkk., 2018). Meski pelibatan masyarakat menjadi pendekatan yang sangat diperlukan untuk mengelola sungai di masa sekarang. Peran pemerintah tetap tidak dapat dielakkan.

Pemerintah merupakan perumus kebijakan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan sungai. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang menggantikan undang-undang lingkungan sebelumnya harus dijalankan secara nyata. Hal ini agar tercipta pengelolaan sungai yang terstruktur.

Jadi sungai merupakan salah satu bentuk ekosistem yang ada di bumi. Sungai menyimpan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, kondisi sungai di Indonesia tidak begitu baik. Pencemaran telah terjadi secara merata di sungai yang terdapat pada berbagai daerah di Indonesia.

Kerusakan struktur dan bagian sungai juga memperparah kondisi ini. Pengelolaan sungai dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat sangat diperlukan melalui pengadaan berbagai program. Selain itu peran pemerintah juga diperlukan untuk menyusun peraturan dasar bagi pelaksanaan pengelolaan sungai.

*)Mahasiswa Pendidikan Biologi

Sumber Referensi

Amalia, R. 2019. Perubahan tutupan lahan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit: dampak sosial, ekonomi dan ekologi. Jurnal Ilmu Lingkungan. 17(1):130-139.

Ekawaty, R., Yonariza, E. G. Ekaputra, dan A. Arbain. 2018. Telaahan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam pengelolaan kawasan daerah aliran sungai di Indonesia. Jurnal of Applied Agricultural Science and Technology. 2(2): 30-40.

Firmansyah, Y. W., O. Setyani, dan Y. H. Darundiati. 2021. Kondisi sungai di Indonesia ditinjau dari daya tampung beban pencemaran: studi literatur. Serambi Engineering. 6(2): 1879-1890.

Priastomo Y., E. Sitorus., D. Widodo, I. Marzuki, M. Ghazali, A. Onasis, M. C. M. Sari, J. S. Tangio, F. Mastutie. 2021. Ekologi Lingkungan. Edisi Pertama. Jakarta:Yayasan Kita Menulis.

Soegianto, A. 2010. Ekologi Perairan Air Tawar. Edisi Pertama. Surabaya: Airlangga University Press.

Widodo, B., R. Lupiyanto, dan D. Wijaya. 2010. Pengelolaan kawasan sungai code berbasis masyarakat. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 2(1): 7-20.

Penulis : Fendy Aji Wicaksono

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Aku, Sepi, dan Hujan

0 0
Read Time:30 Second

Aku, sepi, dan hujan

Mengapung sunyi pada jalanan yang berlubang

Mengatup sempurna pada petrikor yang saling bersulang

Menuangkan segenap suka dan duka yang akan segera mengambang

Menari dengan indah mengitari pelangi yang tak kunjung datang

Aku, sepi, dan hujan

Beteduh pada kasih yang telah usang

Berharap rintik kan segera mereda, lalu aku pergi pulang

Kembali pada segenap harap tuk selalu berjuang

Mengalirkan semangat tuk senantiasa menerjang

Segala macam bentuk lara yang kian menghadang

Aku, sepi,dan hujan

Sembari menanti pelangi yang akan datang

Kutiup perlahan, angin rindu yang kan tertuju pada sang pejuang

“Kuharap tersampaikan padamu, sayang”

Karya : Vikka Fatimatuz Zahro

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Cerita di Balik Tugu  

0 0
Read Time:4 Minute, 25 Second

                                          

OPINIPIJAR.COM – Perkenalkan, saya Amalu Binniyat Anti-korup, salah satu mahasiswa di Universitas Huru-Hara. Saya sebagai mahasiswa yang buta mata, akan sedikit mendongeng tentang kampusku yang katanya idaman para siswa-siswi di luar sana.

Selama ini kampusku yang katanya tercinta seakan berubah menjadi sebuah taman bermain yang esensinya hanyalah sebuah kesenangan belaka. Entah kesenangan siapa yang dipentingkan di sana? Mahasiswa, karyawan atau dosen yang mendapat amanah sebagai nahkoda – nahkoda perkapalan Universitas Huru-Hara.  Sebagai mahasiswa yang buta mata tapi tidak buta pemikiran perihal hal-hal seperti itu saya sedikit, tapi hampir banyak prihatin tentang kampusku yang menjadi taman bermain. Kampus yang seharusnya menjadi lembaga manifesto perubahan global, baik tatanan sikap, keterampilan, maupun pengetahuan justru menjadi ladang bercocok tanam bagi para bos petani yang merefleksikan ketidak etisan hakikat kampus sebagaimana mestinya.

 Sikap, dalam hal ini sikap yang dimaksud adalah etika warga kampus yang justru mencerminkan dirinya sebagai yang paling beretika (menurut mereka sendiri). Padahal berbicara penilaian etika adalah bagaimana orang lain menghargai seberapa murah atau seberapa mahal etika tersebut. Jika mahal, maka yang lebih murah akan tunduk padanya. Tapi jika murah dan justru melabeli dirinya sebagai yang paling mahal, jangan berharap semut yang kecil pun akan tunduk, justru akan beramai-ramai mengerumuni dirinya sambil menggigiti apapun yang manis dari dirinya, termasuk janji yang manisnya tiada tara. Dalam hal ini, sikap yang dihargai mahal akan menjadi panutan bagi mereka yang murah. Sehingga terciptanya kesetaraan sikap mahal yang akan menjadi identitas bahwa kampusku adalah kampus yang berlabel mahal. Dalam artian mahal bukan mahal luarnya saja, tapi dalamnya juga mahal sampai tidak ada yang lebih mahal atau lebih murah darinya.

Keterampilan, menurut Eiji Yoshikawa seorang novelis konvensional jepang mengatakan bahwa menurut satu aliran pemikiran, jika seseorang menguasai satu keterampilan, dia telah menguasai seluruh ilmu. Pertanyaannya adalah keterampilan seperti apa yang dimiliki dan diterapkan?. Keterampilan yang merugikan atau yang menguntungkan?. Maksudnya merugikan bagi orang lain atau menguntungkan bagi dirinya sendiri. Ternyata keduanya sama saja, sama-sama asik untuk ditelaah. Secara objektif, keterampilan yang dimaksud adalah bagaimana keterampilan yang dimiliki minoritas dapat berguna untuk mayoritas (kemaslahatan warga kampus atau beyond that). Sejauh ini, perbandingan individu yang memiliki keterampilan untuk maslahat sangat lebih sedikit daripada keterampilan individu yang diperuntukkan untuk golongannya sendiri dan bahkan dirinya sendiri. Jika diprosentasekan, maslahat 20%, golongan 45%, dan individu 35%. Entah aneh atau tidak aneh, tapi bisa dikatakan lumrah, hal ini juga dilakukan oleh beberapa dosen yang ternyata sangat berkepentingan dalam hal golongan maupun individu. Terlebih dosen yang fanatik dan sedang berada pada puncak kekuasaan golongannya. Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan juga ketika sedang berada pada puncak kekuasaan golongan, masih banyak yang memikirkan baik kemaslahatan masyarakat kampus maupun luar kampus. Sebenarnya keterampilan ini yang dibutuhkan dan dijadikan patron atas budaya kampus. Namun apalah daya dari 100% prosentase kebiasaan, kebaikan hanya kebagian 20%, sedangkan sisanya no comment. Ada yang bilang praktik seperti ini adalah bentuk pembelajaran bagi mahasiswa dalam masa perkuliahan. Cukup rasional jika dikaitkan dengan proses belajar bersosial. Tapi pertanyaannya adalah ketika itu dilakukan hingga menjadi kebiasaan oleh derajat yang lebih tinggi dari mahasiswa. Entah apa itu namanya, apakah itu hasil yang diharapkan dari yang katanya proses belajar bersosial ? Jika memang iya, berarti nantinya kurikulum. kampus harus menyantumkan indikator keberhasilan mahasiswa, yaitu terciptanya alumni yang pandai, cerdik, dan gesit dalam berkepentingan?.

Pengetahuan, setelah berkeluh kesah dengan sikap dan keterampilan ada juga yang menjadi salah satu ciri khas perkampusan sebagai manifesto perubahan global, yaitu pengetahuan. Dunia kampus sebenarnya hampir 80% selalu mencetak generasi-generasi yang berpengetahuan peradaban dalam hal apapun. Wawasan – wawasan seorang mahasiswa memang tidak perlu diragukan lagi. Dilihat dari segi manapun, seorang mahasiswa adalah cerminan intelektual suatu bangsa. Namun percaya atau tidak, terkadang intelektualitas (kritis dan transformatif) mahasiswa dibunuh oleh sistem hirarki dan birokrasi kampus. Bagaimana tidak, hari ini (entah yang dulu bagaimana) sistem kampus seakan subjektif dalam menilai seorang mahasiswa, sehingga ini benar-benar membunuh proses dan hak mahasiswa yang seharusnya diperoleh. Contoh kecil adalah kurangnya bentuk apresiasi terhadap mahasiswa yang berprestasi, entah dana pembinaan atau hal lain yang sifatnya penunjangan dan pengembangan. Jika hanya dibuatkan banner atau pamphlet untuk eksistensi semata, menurutku itu hanya sebuah formalitas untuk menunjukkan bahwa ini adalah mahasiswa yang berprestasi dan itu akan mengharumkan kampus. Nah pertanyaannya adalah bagaimana seharusnya kampus juga memberi wangi – wangian padanya agar tetap harum di luar sana?. Contoh lain adalah dalam registrasi atau pendelegasian untuk beasiswa ternama yang menekankan pada mahasiswa berprestasi. Jika si mahasiswa tidak mengenal atau mempunyai orang dalam tataran birokrat, se-pinter dan se – pandai apapun akan tetap kalah dari mahasiswa yang sudah akrab dengan birokrat. Tapi itu terkadang sih, tapi agar lebih mantap bisa dicoba. Memang masalah-masalah di atas adalah out put dari mahasiswa yang berpengetahuan. Tapi real, ini terjadi. Lagi-lagi subjektifitas seseorang dalam menilai seseorang menjadi sebuah permasalahan yang pelik. Ada yang bilang harus objektif ke semua orang, tapi nyatanya dia subjektif atas dasar golongan. Parah banget sih. Semoga semua segera disadarkan, termasuk yang sok-sok an menulis seperti ini.

In summary, beginilah kampusku. Kampus yang katanya menjunjung harmoni, justru menjunjung oligarki. Saranku sih, lebih baik kita diam kalau tidak melawan kedigdayaan oligarki tersebut. Tapi jika mampu, untuk mewujudkan kampus yang harmoni, ya harus memberantas oligarki. Kalau tidak bisa memberantas, ya mencubit satu per satu. Setidaknya ada perlawanan meski hanya sebatas satu cubitan.

*) Pimpinan Umum UKPM Pijar Pendidikan

Penulis : Anggota Pijar

Editor : Khoirunnisa Az Zahro

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penderitaan yang Berujung

0 0
Read Time:1 Minute, 7 Second

Hari dimana kita merasa lelah dan harus mengakhiri

Sama-sama berjalan ke arah yang berlawanan

Meyakinkan diri semua dapat kembali seperti terakhir kali

Entah pikiran ini akan ada hingga kapan

 

Aku melihat lorong yang sangat sunyi

Sebuah dorongan hati memaksa ku untuk melangkah

Gelap… tak ada satupun cahaya yang menyinari

Sesak… nafas ku seakan berhenti sejenak

 

Di sini sangat gelap, dingin dan juga sepi

Aku tak bisa merasakan kehadiranmu

Kemanakah aku harus pergi

Bisakah kamu mendengar suaraku

 

Apakah aku akan tenggelam dalam kegelapan

Tolong tarik keluar diriku dari sebuah penderitaan ini

Aku ingin melihat cahaya dari sebuah harapan

Biarkan diriku untuk mencobanya sekali lagi

 

Terus berlari… tapi hanya ada kegelapan tanpa akhir

Seakan ini memang tak ada jalan untuk kembali

Merasa lelah dan hanya bisa berharap ini akan berakhir

Apakah ada  mantra tau apapun itu untuk kembali

 

Jatuh… aku merasakan ada bagian tubuhku yang terluka

Rasa ingin menangis tak lagi dapat terbendung

Hari itu pun semua rasa yang ada menjadi satu

Hingga aku ada di titik merasa lebih tenang

 

Kembali ku buka mataku

Lorong itu memancarkan cahaya kecil yang bersinar

Aku kembali bangkit dan berlari sekuat tenagaku

Berlari ke ujung lorong yang bersinar

 

Seseorang telah menunggu

Uluran tangan dengan senyuman di wajahnya

Meyakinkan ku bahwa akan banyak hari indah

Ketika kita bersama

 

Oleh: Almira Budi Widyastuti

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

BEM FKIP UNEJ Keluarkan Surat Resmi Terkait Aksi Demo BEM Se-Jember

0 0
Read Time:1 Minute, 50 Second

PENAPIJAR.COM – Pada tanggal 11 April 2022, BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember secara resmi  mengeluarkan surat pemberitahuan terkait aksi demo pada 12 April yang diselenggarakan oleh Aliansi BEM Se-Jember. BEM FKIP menegaskan bahwasanya secara kelembagaan tidak ikut serta dalam aksi tersebut dikarenakan beberapa pertimbangan. Namun, pihak BEM tetap memberikan kebebasan kepada seluruh mahasiswa FKIP yang secara personal mempunyai keinginan untuk mengikuti aksi tersebut dan tentunya berada di luar tanggung jawab pihak BEM.

Di tengah ketidakhadiran dalam aksi ini, BEM FKIP tetap ikut meramaikan terkait isu yang diangkat dalam demo. Melalui instagram @bemfkipunej memaparkan isu-isu tersebut dengan diberi judul Literasi Wacana. Dalam literasi itu membahas dua hal, yang pertama Wacana Presiden 3 Periode. Berisi tentang kemunculan isu yang disebabkan adanya indikasi kepentingan dari suatu golongan untuk melanjutkan estafet oligarki kepemimpinan presiden. Terlihat dari sumber berita yang secara implisit menjelaskan adanya rezim yang tamak dengan kekuasaan dan tidak ingin oligarki yang sudah dibangun cukup kokoh untuk digantikan oleh pihak lain. Dijelaskan pula bahwasannya wacana ini memuat beberapa kepentingan besar yang sengaja diselimuti agar masyarakat tidak terfokuskan pada kepentingan-kepentingan tersebut. Kepentingan ini meliputi kenaikan harga BBM, kelangkaan minyak, keberlanjutan program Ibu Kota Nusantara dan yang paling menonjol yaitu wacana penundaan pemilu dan presiden tiga periode. Untuk informasi selanjutnya dapat diakes melalui link berikut https://unej.id/LiterasiWacana3Periode.

Wacana yang kedua mengenai Kenaikan Harga BBM. Berdasarkan data yang diperoleh, pihak BEM memaparkan bahwasannya kenaikan harga BBM sudah menjadi wacana jauh sebelumnya di mana hal ini sudah menjadi isu global beberapa tahun terakhir hingga puncaknya adalah hari ini, yaitu kenaikan BBM yang disebabkan oleh konflik invasi Rusia dan Ukraina. Hal ini berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng akibat tidak mampunya pemerintah dalam menangani persoalan tersebut menjadikan keadaan semakin pelik dan menandakan bahwa pemerintah tidak bisa membantu menyejahterakan masyarakat. Karena persoalan-persoalan tersebut, pihan BEM FKIP UNEJ berusaha untuk menyuarakan kebenaran-kebenaran melalui kajian-kajian edukasi literasi maupun kritik pemerintah. Informasi selanjutnya dapat diakses melalui https://unej.id/LiterasiWacanaKenaikanBBM.

 

Sumber :

Instagram BEM FKIP UNEJ https://instagram.com/bemfkipunej?igshid=YmMyMTA2M2Y=

https://unej.id/LiterasiWacana3Periode

https://unej.id/LiterasiWacanaKenaikanBBM

 

 

Pewarta : Miftahur Rofiah

Editor    : Khoirunnisa Az Zahro

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

BEM Se-Kabupaten Jember: Isi Tuntutan Demo 12 April 2022

0 0
Read Time:56 Second

 

 

Foto: Demo 12 April 2022 oleh Aliansi BEM se-Kabupaten Jember

 

Penapijar.com – Aliansi BEM se-Kabupaten Jember pada hari ini mengadakan demo di depan DPRD (12/04/2022). Menurut M. Yayan selaku koordinator aksi jumlah masa sekitar 600. Masa tersebut terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kabupaten Jember.

Koordinator masa aksi mengatakan bahwa mereka menuntut 4 poin. Berikut isi tuntutan dari aliansi BEM se-Kabupaten Jember

  1. Mendorong Ketua DPRD Kabupaten Jember dan perwakilan partai politik guna menandatangani pakta integritas dan mendesak agar Ketua DPR RI dan presiden secara tegas menolak penundaan pemilu 2024.
  2. Menuntut Ketua DPRD Kabupaten Jember untuk mendesak DPR RI dan MPR RI supaya tidak mengamademen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.
  3. Mendorong DPRD Kabupaten Jember agar mendesak presiden menyelesaikan harga persoalan tingginya harga minyak goreng dan meminta presiden untuk mereshuffle menteri perdagangan.
  4. Mendesak pemerintah untuk mencabut ketetapan pajak pertambahan nilai sebesar 11 persen sekarang.

“Kita sudah menyiapkan pakta integritas yang harus ditandatangani oleh ketua DPRD dan perwakilan fraksi Kabupaten Jember supaya disampaikan kepada DPR RI serta kepada presiden. Kita memberikan waktu sekitar 3 hari,” tegas M. Yayan.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Metode Aksi Antara BEM SI dan BEM Nusantara Berbeda

0 0
Read Time:2 Minute, 12 Second

 

OPINIPIJAR.COM – BEM SI mengadakan demo di depan Gedung DPR RI, Jakarta mulai pukul 10.00 WIB pada tanggal 11 April 2022. Organisasi ini kepanjangan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia. BEM SI ini merupakan aliansi dari sekitar 30 BEM dari Perguruan Tinggi di Indonesia yang berdiri pada 24 Desember 2007. Tuntutan dari BEM SI adalah sebagai berikut.

  1. Mendesak dan menuntut Presiden Jokowi untuk memberikan sikap terkait penundaan pemilu atau masa jabatan tiga periode.
  2. Meminta Jokowi menunda dan mengkaji ulang UU Ibu Kota Negara (UU IKN), termasuk pasal yang dianggap bermasalah karena bisa berdampak pada lingkungan, ekologi, dan kesejahteraan masyarakat.
  3. Mendesak dan menuntut Jokowi menjaga kestabilan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di pasaran.
  4. Mendesak dan menuntut Jokowi mengusut kasus mafia minyak goreng.
  5. Mendesak dan menuntut Jokowi menyelesaikan kasus konflik agraria di Indonesia.
  6. Mendesak dan menuntut Jokowi-Maruf Amin untuk menuntaskan janji-janji kampanye di sisa masa jabatan.

Sementara itu, dari aliansi BEM Nusantara tidak mengikuti aksi demo 11 April 2022. Aliansi ini berdiri lebih tua dari BEM SI yaitu pada tahun 2005. Dikutip dari tempo.co per 10 April 2022, Koordinator BEM Nusantara untuk pulau Jawa (Ahmad Marzuki) menyatakan bahwa BEM Nusantara lebih memilih jalur audiensi dengan pihak pemerintah untuk menyampaikan aspirasi.

BEM Nusantara sempat bertemu dengan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto pada hari Jumat tanggal 8 April 2022. Ia mengatakan bahwa pemerintah tidak melarang adanya demo akan tetapi anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini meminta terkait beberapa aspirasi dilakukan melalui jalur audiensi.

Perbedaan metode aksi yang dilakukan oleh BEM SI maupun BEM Nusantara pada hakikatnya isu yang diusung sama. Maka, perbedaan metode aksi yang dilakukan tidak boleh menyebabkan perpecahan maupun saling salah menyalahkan antar aliansi. Metode aksi yang dilakukan baik oleh BEM SI maupun BEM Nusantara pastinya sudah dilakukan kajian yang mendalam. Kedua aliansi BEM tersebut harus memaksimalkan metode aksi yang dilakukan supaya goal yang dituju tercapai.

 

*) Pimpinan Redaksi UKPM Pijar Pendidikan

 

Sumber Referensi:

  1. Putsanra, D. V. 2022. Apa Itu BEM SI: Bedanya dengan BEM Nusantara dan 6 Tuntutan Aksi. https://tirto.id/apa-itu-bem-si-bedanya-dengan-bem-nusantara-dan-6-tuntutan-aksi-gq65. [Diakses pada 11 April 2022].
  2. Nurita, D. 2022. Disebut Pecah 2 Kubu, BEM Nusantara: Keputusan Demo 11 April Ditentukan Wilayah. https://nasional.tempo.co/read/1580624/disebut-pecah-2-kubu-bem-nusantara-keputusan-demo-11-april-ditentukan-wilayah. [Diakses pada 11 April 2022].
  3. Indriani, R. M. D. 2022. Meskipun Usung Isu yang Sama, Ini 3 Perbedaan BEM SI dan BEM Nusantara. https://www.suara.com/news/2022/04/11/104123/meski-usung-isu-yang-sama-ini-3-perbedaan-bem-si-dan-bem-nusantara. [Diakses pada 11 April 2022].

 

Penulis: Khoirul Nizam Muhammad

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Negeriku Terkontaminasi

0 0
Read Time:37 Second

Negeriku perlahan  mulai berevolusi
Bergerak mengikuti perubahan globalisasi
Akankah ideologi pancasila akan terganti?
Dengan ideologi baru yang merasuk keji

Pemuda-pemudi diselimuti sifat apatis
Peduli, motivasi, dan emosinya terkikis
Pola hidup berangsur tak nasionalis
Pertanda kehidupan semakin krisis

Narasi basi mampu mengalahkan literasi
Sensasi mampu mengalahkan prestasi
Edukasi terganti dengan sinetron televisi
Bahkan inovasi sudah banyak dimanipulasi

Tiada beda kebaikan dan pencitraan
Semua perhatian tertuju pada hiburan
Terus berubah mengikuti perkembangan zaman
Merasuk, merambat, dan bergerak mematikan

Perlahan semua mulai pudar
Perselisihan dan pertikaian, miris dan nanar
Perdamaian tak hilang namun samar
Melambungkan nanar hingga tak sadar

Hingga aku lupa, siapa yang salah
Negeriku tak terasa sudah berubah
Bahagia yang ada sudah musnah
Berganti duka, lara, dan gelisah

 

Karya : Suci Kurnia Sari

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

MASA DEPAN

0 0
Read Time:30 Second

Aku memiliki sebuah harapan

Harapan yang sangat tinggi hingga membuatku ragu untuk menggapainya

Sebuah angan-angan yang terbesit secara tiba-tiba

Untuk menjadi orang yang berguna

 

Hari demi hariku lalui

Minggu demi Minggu

Bulan demi bulan

Hingga tahun demi tahun

 

Usiaku bertambah

Dengan seiring waktu yang berjalan

Seperti roda sepeda yang berputar

Rasa ragu yang duluku rasakan seolah kian bertambah

 

Aku yang sekarang

Adalah seorang remaja

yang sedang di buat bingung oleh keadaan

Seorang remaja yang bingung akan masa depan

 

Antara mengikuti harapan orang tua

Atau….

Harapan yang selama ini sudahku rancang sedemikian rupa

Karya : Nabilah Fatin Damayanti

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Kesehatan Pada Masa Pandemi

0 0
Read Time:2 Minute, 5 Second

 

 

OPINIPIJAR.COM – Kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan pada masa pandemi ini banyak masyarakat yang mengalami penurunan kesehatan jasmani dan rohani dapat di katakan bahwa masyarakat di Indonesia banyak yang terpapar covid-19 nah hal ini dapat mempengaruhi kesehatan. Orang-orang yang terpapar covid-19 tersebut bisa mengalami kesehatan yang kurang baik, sesak nafas, bahkan dapat juga menyebabkan kematian akibat terpapar covid-19.

Virus Covid-19 ini sendiri berasal dari Wuhan, Cina kemudian menyebar ke seluruh negara bahkan Indonesia sendiri merupakan negara Asean nomor 2 tertinggi dalam total covid-19 setelah singapura dengan 8.882 kasus.

Faktor-faktor penyebab kita terkena covid-19 yaitu antara lain seperti yang pertama kita tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 bersin atau batuk, kemudian yang kedua yaitu memegang mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh benda yang terkena droplet penderita COVID-19, misalnya uang atau gagang pintu, kemudian yang ketiga yaitu kontak jarak dekat (kurang dari 2 meter) dengan penderita COVID-19 tanpa mengenakan masker, kemudian WHO juga mengatakan penyebaran Covid-19 ini juga bisa melalui udara.

Covid-19 ini sangat beresiko untuk kesehatan tubuh dan hal ini sangat berbahaya, covid-19 ini menyerang orang lanjut usia, ibu hamil, perokok, penderita penyakit tertentu, dan orang yang daya tahan tubuhnya lemah, seperti penderita kanker. Penderita covid-19 ini biasanya mengalami gejala seperti flu, batuk, demam tinggi, dan juga sesak nafas.

Pada masa pandemi banyak kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah misalnya seperti vaksin nah vaksin ini dilakukan 2 kali. Vaksin ini berguna untuk menjaga imun tubuh kita agar tetap kebal dan dapat menjaga keseimbangan tubuh, vaksin ini wajib di lakukan oleh seluruh warga Indonesia, kemudian mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan sebelum memasuki ruangan atau kita juga bisa memakai handsaintazer. Dalam hal ini kita sebagai masyarakat Indonesia harus mematuhi kebijakan-kebijakan dari pemerintah karena dengan hal ini kita setidaknya bisa mengurangi covid-19.

Nah dengan adanya hal alangkah baiknya kita sebagai masyarakat yang taat akan pemerintah kita wajib mematuhinya hal ini bertujuan untuk kesehatan tubuh kita masing-masing.

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Referensi :

https://dinkes.bogorkab.go.id/links/apa-itu-kesehatan-2/#:~:text=kesehatan%20adalah%20keadaan%20sejahter%20a,perawatan%20termasuk%20kehamilan%20dan%20persalinan.

https://www.alodokter.com/covid-19

https://www.fkm.ui.ac.id/situasi-covid-19-di-asean-26-april-2020/

Penulis : Devi Ainur Rohmah

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Sukses Instan Itu Bullshit

0 0
Read Time:2 Minute, 31 Second

  

 OPINIPIJAR.COM – Menjadi sukses merupakan keinginan setiap orang, sukses bukan hanya sekedar membalik telapak tangan. Ada proses yang mengiringi langkah orang-orang sukses, bahkan jatuh bangun bisa dikatakan makanan sehari-hari oleh orang yang mempunyai keinginan kuat untuk sukses. Beberapa orang yang bisa kita sebut sukses atau bahkan menjadi orang terkaya di dunia pun mengatakan bahwa sukses tidak bisa diperoleh dengan waktu singkat. Salah satu orang terkaya di Indonesia yang bahkan pernah masuk ke dalam majalah Forbes yaitu Chairul Tanjung mengatakan “Saya hari ini masih bekerja lebih dari 14 jam sehari, jaman dulu saya bekerja 18 jam perhari dan tidak ada kata Sabtu Minggu, jadi tidak ada kata sukses seperti membalik telapak tangan, harus kerja keras, teliti, ulet, detail ,perfeksionis, tidak gampang menyerah. Itu adalah satu prasyarat yang wajib hukumnya untuk menjadi orang sukses sejati, dan gagal masalah biasa. Jangan jadi generasi galau”.

Soal gagal merupakan masalah umum yang pasti dialami oleh setiap orang, tinggal cara kita menyikapi kegagalan tersebut apakah ingin bangkit atau hanya terjebak dengan kegagalan tersebut. Sukses bukan hanya sekedar uang, sukses bisa berarti macam-macam seperti kata Bill Gates yang mengatakan bahwa sukses adalah memberi dengan sesama dan merubah kehidupan, bagi Bill Gates akan terasa menyenangkan ketika membuat perubahan seperti menemukan hal baru, membesarkan anak atau membantu orang yang membutuhkan.

Tolak ukur dari kesuksesan dilihat dari perspektif tiap individu bukan dari orang lain. Setiap individu mempunyai goal atau tujuan hidup. Dengan adanya tujuan hidup, orang mulai menciptakan suatu rencana atau peta dalam hidupnya. Tanpa rencana atau peta, orang tidak mungkin berjalan  sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam rencana itu tidak harus mulus, tidak apa jika sedikit berkelok karena dengan kita melewati masa tersebut maka akan muncul suatu hal yang tidak terduga di masa depan.

Kaya bisa instan tapi tidak dengan sukses , hal itulah yang harus kita pegang teguh. Kebanyakan orang sering rancu beranggapan bahwa orang yang kaya identik dengan orang yang sukses. Orang kaya dapat memperoleh kekayaannya dengan instan misal memperoleh warisan dari orang tua, hibah, lotre, merampok, menipu ataupun hasil korupsi. Seperti kasus di Indonesia yang baru saja viral yaitu Doni Salmanan dan Indra Kenz, disini kita bisa melihat bahwa mereka bisa memperoleh uang sebanyak itu dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan Doni Salmanan yang hanya lulusan SD bisa memperoleh penghasilan kurang lebih 5 M per bulan, bayangkan saja apakah mungkin hal tersebut terjadi? tentu kita sebagai orang awam bertanya-tanya pekerjaan apa yang dilakukan, bahkan pengusaha saja yang bekerja 16-18 jam perhari belum tentu mendapatkan uang sebanyak itu.

Dari sinilah kita dapat berpikir bahwa menjadi kaya bisa kita dapatkan dalam waktu singkat namun kenikmatannya pun singkat. Berbeda dengan sukses, mereka yang melewati proses untuk menjadi sukses adalah mereka yang bisa memaknai kata sukses itu apa dan sifatnya pun abadi karena perjalanan yang mereka lalui tidak singkat bahkan membutuhkan waktu puluhan tahun baru bisa dikatakan sukses.

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Referensi :

Tanaya, Ina. 2018. Kaya Bisa Instan, Sukses Tidak Bisa Instan. Diakses pada 15 Maret 2022, pukul 08.45

Penulis : Sevia Dwi Wijayanti

Editor : Miftahur Rofiah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Kesempatan

0 0
Read Time:16 Second

Dilangit cerah tempatmu menengadah

Dia terbang meninggi

Jika terus kau tatap

Akan terasa amat pedih

 

Namun saat terlepas

Hatimu begitu kesal

Dia yang tiada duanya

Dia yang pergi, tidak pernah kembali

 

Setiap saat menjauh

Tidak sanggup kau gapai

Bahkan, saat langit tidak berubah

Kamu tidak mendapatkannya lagi

 

Karya : Meita Puspa Kartika

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %