Menu

Mode Gelap
 

Uncategorized · 7 Agu 2023 20:44 WIB ·

Kehidupan Digital Untuk Lingkungan Alam


 Kehidupan Digital Untuk Lingkungan Alam Perbesar

Pena Pijar, Opini — Saat ini adalah era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia bergeser dari kehidupan konvensional ke kehidupan digital. Aktivitas riil menjadi aktivitas maya.  Berbagai kegiatan seperti percakapan, transaksi, pekerjaan, hingga pendidikan dapat dilakukan secara virtual. Komunitas-komunitas tercipta di ruang virtual seolah mengikis batas jarak dan fisik. Komunitas yang tak bertatap muka secara langsung, bahkan tidak saling mengenal. Peristiwa di dunia nyata pun dapat bermula dari aktivitas di dunia maya. Semua ini disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi atau Information and Communication Technology (ICT) adalah sebuah perangkat yang memudahkan aktivitas manusia untuk menjalin komunikasi atau bertukar informasi. Kemajuan perangkat ini menciptakan peredaran informasi yang cepat, masif, dan luas. Sehingga mendorong lahirnya masyarakat informasi. Masyarakat yang menggunakan teknologi untuk mengakses informasi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Sutopo(2012), informasi sendiri adalah rekaman dari suatu kejadian. Nilai dan manfaat dari informasi ini dapat mempengaruhi masyarakat.

Pengaruh informasi menjadi semakin kuat dengan munculnya aplikasi-aplikasi virtual. Mulai dari Facebook, WhatsApp, Twitter, Youtube, Instagram, Tiktok, hingga yang terbaru Threads. Berbagai aplikasi ini lazimnya disebut sebagai media sosial. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk saling berinteraksi dan berbagi informasi. Berbagai konten dan cuitan dimuat dan dibagikan secara mudah dan murah. Baik konten positif hingga konten negatif. Tak jarang, informasi yang beredar melalui media sosial menimbulkan reaksi dari para penggunanya. Reaksi tersebut dapat berupa tanggapan di media sosial ataupun tindakan di dunia nyata.

Tindakan atau aksi di dunia nyata sebagai respons informasi menunjukkan bahwa kehidupan digital dapat mempengaruhi kehidupan nyata. Pengaruh ini akan membawa dampak baik apabila dimanfaatkan dengan tepat. Apalagi saat ini terdapat istilah viral yang ditujukan untuk peristiwa atau konten di media sosial dengan penyebaran yang cepat dan luas. Istilah ini sebenarnya berasal dari kata “virus”, benda atau makhluk yang dapat menyebabkan penyakit dengan penyebaran yang cepat. Konten yang viral akan dengan mudah menimbulkan reaksi di antara pengguna media sosial.

Informasi di media sosial perlu dikelola agar mendorong reaksi positif dari penggunanya. Isu-isu terkini dapat diangkat sebagai cara mendapatkan dukungan dan penyelesaian dari para pengguna media sosial. Salah satu isu yang sedang hangat diperbincangkan adalah lingkungan. Baru-baru ini media sosial diramaikan dengan berita “Aksi bersih-bersih Pantai Sukaraja Lampung yang disebut terkotor kedua di Indonesia”. Aksi ini timbul setelah muncul informasi  bahwa pantai Sukaraja di Lampung adalah pantai terkotor kedua di Indonesia. Informasi ini dibuat dan disebarkan oleh kelompok peduli lingkungan yang menamai diri mereka dengan Pandawara. Tak berhenti dengan hanya menyebarkan informasi tersebut, pandawara juga mengajak pemerintah dan masyarakat sekitar untuk membersihkan Pantai Sukaraja.  Ternyata informasi dan ajakan tersebut mendapat tanggapan dan simpati dari masyarakat. Lebih dari 3 ribu orang turut serta membersihkan Pantai Sukaraja Lampung. Sekitar 300 ton sampah berhasil diangkut melalui aksi ini.

Selain aksi yang terjadi baru-baru ini, hal yang hampir serupa juga pernah terjadi 1 dekade yang lalu. Isu yang diangkat juga sama, yaitu Lingkungan. Aksi dilakukan oleh massa untuk menolak rencana reklamasi di Teluk Benoa, Bali. WALHI Bali menjadi inisiator aksi penolakan ini. WALHI memanfaatkan media sosial, yaitu Facebook dan Twitter, untuk menyuarakan gerakan Bali Tolak Reklamasi. Petisi online di www.change.org juga dibuat guna memperkuat informasi penolakan. Setelah beberapa waktu, informasi di media sosial berhasil mengundang reaksi masyarakat. Pada tanggal 17 Juni 2014, massa dengan jumlah ribuan melakukan Long-march menuju kantor Gubernur Bali. Setelah aksi ini, berbagai kegiatan sebagai wujud penolakan reklamasi dilakukan hingga  Tahun 2015.

Kedua aksi nyata tersebut menunjukkan bahwa media sosial sebagai bagian dari kehidupan digital dapat digunakan sebagai sarana untuk menjaga lingkungan. Informasi di media sosial dapat  menimbulkan gerakan massa yang besar. Gerakan ini tidak muncul begitu saja. Dibutuhkan inisiator yang siap menjadi pengawal dan penuntun gerakan seperti yang dilakukan oleh Pandawara dan WALHI Bali. Tanpa inisiator, isu hanya akan menjadi angin lalu di media sosial.

Lingkungan merupakan salah satu isu terkini yang penting. Apalagi Indonesia sebagai salah satu penyandang Megabiodiversity Country. Negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan bervariasi. Berbagai macam flora dan fauna dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari yang mudah dijumpai hingga yang berstatus langka atau terancam punah. Beragam hasil tambang seperti minyak bumi, batu bara, tembaga, emas, dan gas alam tersedia Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki keindahan alam yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hasil-hasil alam tersebut menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, isu mengenai lingkungan perlu menjadi perhatian dan terus diangkat ke media sosial.

Jumlah pengguna internet di Indonesia begitu besar. Dilansir dari laman KOMPAS, menurut laporan We Are Social dan Meltwater pada Januari 2023 terdapat 212,9 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini menjadi potensi yang baik untuk memberi dukungan dalam usaha pelestarian lingkungan melalui kampanye di media sosial. Selain itu, kesuksesan peluncuran satelit SATRIA-1 yang diharapkan akan memberikan pemerataan akses internet di daerah 3T turut membuka peluang bagi optimalnya usaha pelestarian lingkungan ini.

Kehidupan digital dapat berpengaruh positif terhadap lingkungan di dunia nyata. Media sosial sebagai bagian dari kehidupan digital menjadi sarana yang efektif dalam usaha pelestarian lingkungan. Kecepatan dan luasnya penyebaran informasi dapat mengundang reaksi dari para penggunanya. Kemudian timbullah aksi nyata guna memberikan perubahan yang baik bagi lingkungan. Dibutuhkan inisiator yang mampu menyuarakan dan mengawal isu lingkungan agar tidak tenggelam oleh isu-isu lain.

Penulis: Fendy Aji Wicaksono

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Antagonisme Politik dalam Persaingan Kekuasaan

14 Februari 2024 - 22:58 WIB

Civitas Academica Bergerak, Selamatkan Demokrasi Jelang Pemilu 2024

14 Februari 2024 - 10:28 WIB

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, FKIP Universitas Jember Gandeng Thailand dalam Program Asistensi Mengajar

8 Agustus 2023 - 17:27 WIB

UKM Teater Tiang Sukses Adakan Pementasan Teater “Titik-titik Hitam”

15 Mei 2023 - 12:23 WIB

Eratkan Sinergitas Antar HMP dan UKM, BEM FKIP Gelar Anjangsana Omawa

21 Maret 2023 - 12:28 WIB

TENTANG RASA

9 Maret 2022 - 13:12 WIB

Trending di Uncategorized