Menu

Mode Gelap
 

Artikel · 25 Feb 2023 13:40 WIB ·

Radiasi Media Sosial dalam Distraksi Pola Pikir


 Radiasi Media Sosial dalam Distraksi Pola Pikir Perbesar

Pena Pijar-Artikel, Media sosial berkembang sejak meningkat pesatnya teknologi, sehingga platform internet menjamur dalam bentuk lingkaran yang sangat memudahkan segala urusan manusia. Sisi positifnya, media sosial berhasil membantu manusia untuk menyelami dunia maya secara mudah, cepat, dan fleksibel. Semua memiliki hak untuk mendapatkan ruangnya masing-masing. Alhasil, manusia dapat meningkatkan kreatifitas, bebas membuka suara, berkarya, dan lancar mendapat atau berbagi informasi ke seluruh konsumen. Boom! Bak bom yang meledak, radiasi media sosial mulai beragam bentuknya. Namun, ada satu polemik yang membuat saya resah akhir-akhir ini, terkait bagaimana algoritma media sosial dapat merubah arus sejatinya arah hidup kita?

Saya menyadari hal ini ketika saya berada pada kondisi terpuruk dan terus-terusan mendapat beragam informasi dari tiktok, instagram, status whatsapp dengan durasi yang singkat dan tidak ada konteks yang menyeimbangkan. Berspekulasi tentang bagaimana sinyal internet membawa semua berita itu ke hadapan kita kapanpun kita mau, bahkan saat kita tidak membutuhkan berita itu. Faktanya dengan video durasi yang singkat membuat kita kehilangan fokus dan terus kecanduan. Kata Marissa Anita, dalam podcastnya di akun Youtube Fellexandro Ruby, ia menyebutkan bahwa jika kita sering berinteraksi dengan video yang berdurasi pendek maka otomatis kemampuan kita untuk fokus terhadap sesuatu menjadi pendek, dan itu menjadi problematik. Terdistraksi, ini konteks yang mewabah pada era ini. Lingkaran yang membuat kita tidak sepenuhnya menjadi apa yang sejatinya diri kita justru pada ketertarikan dan pola algoritma sosial media yang tertanam sedikit demi sedikit dalam pikiran kita. Pada akhirnya, kita akan bergerak menyesuaikan lingkaran algoritma ini.

Artinya media sosial memang membawa pengaruh baik pada kita, tetapi memungkinkan kita untuk terdistraksi dari apa yang seharusnya terjadi pada kita. Alih-alih membuat rasa malas dan tidak sabaran, kita menjadi lupa dengan makna yang terkandung dalam setiap informasi, bahkan menghindari interaksi sesama manusia secara nyata. Sebenarnya ini bukan lagi masalah yang baru, algoritma yang membaca konten yang kita senangi menjadikan kita kecanduan. Interaksi sosial terusik, akibatnya tak sedikit kasus kesehatan mental kian menjangkit.

Saya memiliki pengalaman 6 tahun sekolah di pesantren yang tidak memberikan akses gawai dan internet untuk media sosial. Segala informasi dan berita dunia luar pesantren hanya dapat diakses melalui koran dan interaksi dekat dengan guru sekolah, jadi santri sering mendapatkan berita gempa bumi di NTB misalnya, melalui informasi guru sekolah. Sehingga kami dituntut untuk fokus belajar dan mengaji di pesantren. Hal ini dapat saya bedakan setelah saya keluar pesantren untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri, segala akses media sosial tidak memiliki batasan penggunaan. Benar saja, saya mulai terdistraksi dengan video berdurasi pendek yang sangat menarik dan menghibur. Sangat umum terjadi memang, tapi poin pentingnya adalah radiasi media sosial yang mendistraksi idealitas yang telah kita pegang.

Hal ini terlihat seperti bekerja pada konteks: lebih baik kita tidak mengetahui segalanya, karena ketika kita tahu segalanya maka bahkan sebelum kita tahu kejadian yang akan terjadi kita memilih untuk enggan atau ingin mempercepatnya. Seperti konten “outfit cewek redflag”, kreator konten bisa mengungkapkan semua spekulasinya tentang gaya berpakaian wanita yang menurutnya tidak enak dipandang. Dampaknya ungkapan tersebut bisa saja merusak idealitas gaya berpakaian penonton. Akhirnya penonton berpersepsi bahwa aku tidak perlu menggunakan pakaian ini, karena sepertinya pakaian ini adalah “outfit cewe redflag”. Ironisnya, konten itu hanya pendapat relatif yang tidak perlu dianut. Tak hanya itu, konten “tanda-tanda cowok naksir ke cewek” dan konten ramalan kartu tarot, memiliki banyak sekali penontonnya.

Sesungguhnya konten seperti itu sah-sah saja, karena merupakan bentuk kreatifitas seseorang dan tentunya sangat menghibur. Namun, fokus kita menjadi terdistraksi, kita menjadi manusia yang sulit peka terhadap lingkungan sekitar, tidak percaya terhadap diri sendiri, hingga malas membaca situasi sekeliling. Bagi saya polemik ini menjadi sinyal untuk kita agar lebih hati-hati dan tetap memperhatikan batasan informasi yang kita tampung. Seperti yang diungkapkan oleh Sujiwo Tejo, belajarlah fokus pada jarum jam dinding, sampai kau tak sadar hal-hal yang bergerak disekelilingmu. Artinya kita boleh bermain media sosial dan menikmatinya sebagai hiburan, tapi kita tidak boleh lepas dari apa yang harusnya menjadi diri kita, dari sejatinya diri kita, dan percaya dengan apa yang kita miliki.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 172 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pentingnya Belajar Ilmu Mengasuh Anak Sejak Dini

29 Maret 2024 - 12:45 WIB

Untuk Apa Perempuan Sekolah Tinggi-Tinggi?

24 Maret 2024 - 11:08 WIB

Menakan Ekspor Biji Nikel dengan Hilirisasi

21 Maret 2024 - 21:23 WIB

Pernikahan Dini menurut Kaca Mata Feminisme

15 Maret 2024 - 14:24 WIB

Stop Merokok Saat Berkendara

15 Maret 2024 - 14:19 WIB

Pentingnya Peningkatan Literasi Digital pada Kalangan Mahasiswa

29 Februari 2024 - 21:25 WIB

Trending di Artikel