Menu

Mode Gelap
 

Anekdot · 8 Feb 2024 02:44 WIB ·

Siapa Suruh Jadi Kepala?


 Siapa Suruh Jadi Kepala? Perbesar

Pena Pijar, Anekdot – Di sebuah desa kecil di pinggiran kota di wilayah Jawa Timur, ada dua anak yang selalu bersama, hampir seperti saudara. Mereka adalah Aryo dan Joko. Keduanya berangkat ke sekolah bersama, pulang bersama, bermain bersama, mengerjakan tugas pun bersama-sama. Persahabatan mereka telah terjalin selama bertahun-tahun hingga mereka dewasa.

Akan tetapi, meskipun keduanya selalu bersama sejak kecil, ada perbedaan yang menonjol antara Aryo dan Joko. Sejak di sekolah dasar, Aryo selalu lebih unggul dalam bidang akademik maupun non-akademik dibandingkan dengan Joko. Aryo memiliki ambisi yang tinggi untuk menjadi seorang pemimpin dalam hal apapun. Sayangnya, di pekerjaannya saat ini, ia tidak leluasa menunjukkan kemampuan leadership yang dimilikinya karena jabatannya yang hanya sebagai karyawan kantor biasa.

“Ko, kamu nggak bosen apa, kerja dua tahun jadi karyawan biasa?” tanya Aryo suatu hari di jam istirahat kantor mereka.

Joko terdiam, berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab dengan gelengan. “Enggak, tuh, Yo. Memangnya kamu enggak betah sama kerjaan yang sekarang?”

Aryo mengangguk. “Di posisi ini aku enggak bisa bebas kasih ide, masukan, dan enggak bisa ngatur karyawan lain kayak dulu tiap kali kita dapat tugas kelompok di sekolah.” Aryo menyuarakan kejenuhannya. “Terus juga bayarannya dikit. Kamu enggak mau cari kerjaan yang lebih gede gitu bayarannya?”

Joko lagi-lagi diam sejenak sebelum menjawab dengan gelengan. “Selama bisa buat ngirim uang bulanan ke bapak ibu di rumah, aku udah alhamdulillah, Yo. Lha, kamu kenapa, to, kok suka banget dikasih kerjaan ngatur-ngatur orang?”

Aryo menegakkan duduknya, mendekat ke meja yang ada di antara mereka. “Itu namanya leadership skill, Ko. Itu kemampuan yang banyak dicari sekarang ini. Aku punya itu, jadi aku harus show off apa yang aku punya, to? Setuju ndak?”

Joko hanya mengangguk-angguk. Ia menyeruput kopi hitamnya dan bertanya pada Aryo. “Terus kamu mau apa sekarang, Yo?”

“Aku mau ngerantau ke Jakarta, biar gajinya gede,” jawab Aryo percaya diri.

“Wih, kalau itu bukannya pengeluarannya gede juga, Yo?” Joko tampak kurang setuju dengan rencana sahabatnya itu.

“Enggak masalah buat aku. Leadership itu enggak cuma buat orang lain. Kalau aku bisa nerapin kepemimpinan yang baik di keuangan pribadiku juga, malah aku bisa jadi orang sugih kalau balik kampung.”

“Memangnya posisi yang kamu incar apa to, Yo?” Joko yang masih khawatir dengan keputusan Aryo bertanya.

“Hmm … ya, minimal kepala divisi gitu, lah.”

Meskipun masih dengan keraguan dan kekhawatiran akan niat sahabatnya itu, Joko akhirnya hanya bisa berpesan. “Ya udah kalau memang kamu sanggup. Tapi, ingat, loh, ya, jadi orang yang punya posisi tinggi juga gak mudah. Banyak tanggungannya.”

“Ck, kayak baru kenal aku aja, Ko,” sahut Aryo dengan santai.

Rupanya rencana sahabatnya itu bukan sekadar gurauan atau curhatan saja. Terbukti, seminggu kemudian, setelah Aryo pergi ke ibu kota, ia mengumumkan keberhasilannya diterima di posisi kepala divisi pemasaran kepada Joko lewat pesan yang dikirimnya. Meskipun sekarang ia harus terpisah jauh dari sahabatnya, Joko ikut senang mendengar kabar itu. Ia pun mengirimkan sebuah paket kepada sahabatnya itu sebagai hadiah.

Anehnya, di kotak hadiah yang diberikan Joko itu tertempel tulisan “Dibuka kalau lagi banyak kerjaan aja.” Meskipun Aryo bingung, ia menuruti pesan itu dan tidak membukanya hingga ia sendiri lupa setelah berbulan-bulan kemudian.

Menjelang tahun baru, para pekerja di perusahaan tempat Aryo bekerja mendapat cuti selama satu minggu. Saat itu, enam bulan telah berjalan sejak pertama kali Aryo diterima kerja. Pria itu pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur.

Pagi itu, Aryo mengirim pesan kepada sahabatnya yang telah lama tidak ia temui untuk datang ke warung kopi kesukaan mereka. Akhirnya, setelah sepuluh menit menunggu, sebuah mobil berhenti di depan warkop tersebut dan seorang pria berkemeja batik turun dari sana. Pria itu menghampiri Aryo dengan senyum semringah yang dia rindukan.

“Weh, lama banget ndak ketemu, yo. Gimana, gimana? Ibu kota beneran sepanas kata orang-orang, to?” Joko menyapa Aryo dengan hangat.

“Betul, itu, Ko. Itu mobil siapa ngomong-ngomong? Gaya bener.” Aryo menunjuk mobil hitam yang tadi dinaiki Joko.

Pria itu tertawa kecil. Mengajak sahabatnya itu duduk terlebih dahulu dan memesan.

“Yang itu mobilku. Alhamdulillah, meskipun di posisi tetap, tapi sering dapat bonusan karyawan terbaik, hehe … nabung dikit-dikit, lah, biar Bapak sama Ibu ndak kepanasan kalau diajak jalan-jalan. Kamu sendiri gimana? Gajinya lebih gede pol, ya?” Joko menjawab dengan ekspresi malu-malu.

“Wedeh, deh, deh. Jadi malu aku. Kerja di sana emang gajinya gede, tapi bener kata kamu. Pengeluarannya gede juga.”

“Lho, jadi leadership keuanganmu ndak manjur, Yo?”

Aryo lantas tertawa. “Masih ingat aja kamu. Sebenarnya manjur aja, Ko. Tapi, ya gitu, kalau lagi kepepet, sebagai kepala divisi ya harus nambelin sana-sini, ditambah kalau ada pengeluaran darurat yang nggak disangka-sangka.”

Joko mengangguk-angguk. Pengeluaran darurat memang terkadang merusak rencana keuangan, ia pun beberapa kali mengalaminya juga. “Eh, tapi aman, to, kerjaannya?”

Aryo menghela napas dengan berat. “Berat, Ko, ternyata jadi kepala di dunia kerja. Enggak segampang bayanganku. Pusing banget ngurusin banyak project sama laporan.”

“Hehe …” Joko meringis. “Berarti udah waktunya kamu buka hadiah yang tak kasih di awal kamu kerja dulu.”

Aryo menegakkan punggungnya. “Oh, iya, ini kotaknya kubawa.” Pria itu lantas mengeluarkan kotak kecil yang masih terbungkus rapi dengan tulisan yang masih tertempel di penutupnya. Setelah diberi izin oleh Joko untuk membuka isi kotak itu, Aryo pun dengan semangat membuka perlahan-lahan kotak cokelat itu.

“Loh? Kok Cuma kertas? Apa maksudnya, Ko?” Aryo kebingungan melihat isi kotak tersebut yang hanya potongan kertas dengan tulisan kecil-kecil yang rapi.

“Coba dibaca yang keras tulisannya, Yo,” instruksi Joko tanpa menjatuhkan senyumannya.

“Oskadon, Bodrex, Mixagrip, Panadol extra, Pold- loh, loh, ini apa, sih, Ko?” Aryo semakin kebingungan.

“Itu list obat yang ampuh meredakan pusing. Jadi kepala pasti banyak pusingnya, namanya juga kepala. Kalau nggak mau pusing, ya, jadi kaki aja, palingan juga linu aja, hehe …”

Penulis: Aan Cahya

Penyunting: Riyanti

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kemerdekaan

7 Agustus 2023 - 22:27 WIB

Belas Kasih Pengemis

30 Juni 2023 - 10:44 WIB

Hukuman Potong Tangan

24 Maret 2023 - 07:38 WIB

Buta Baru Celik

21 Maret 2023 - 11:18 WIB

Zaman dan Kebudayaannya

8 Maret 2023 - 20:09 WIB

Pengganti

4 Maret 2023 - 17:12 WIB

Trending di Anekdot