Sabtu, 4 Desember 2021 gunung Semeru yang akrab kita sapa sebagai atapnya Pulau Jawa mengalami erupsi. Menggugurkan awan panas sejauh 45 kilometer. Menutupi indahnya rona sore hari dengan gelap langit seakan memasuki bentangan malam. Menumpahkan duka di atas ketenangan warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Termasuk desa Curah Kobokan, Kamar Kajang, Kebondeli Utara, Kamar A, Kajar Kuning, dan masih banyak desa lainnya yang harus menanggung luka akibat guguran awan panas yang diluapkan oleh gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

         Manusia baik dari berbagai penjuru daerah menciptakan hiruk – pikuk dengan berebut laku kebaikan. Tetapi, terdapat salah seorang relawan yang hingga kini masih dengan semangat yang sama untuk menanam benih – benih kemanusiaan dan terus melukiskan senyum kebahagiaan di hati para korban bencana erupsi ini. Beliau adalah Kakak Risma Velayati, perempuan dewasa berusia 30 tahun ini adalah koordinator posko 9 yang berada di Kecamatan Pasirian. Beliau dengan tim yang bertitle RealOne Community ini adalah relawan yang hingga detik ini masih bergerak melakukan aksi peduli korban erupsi Semeru.

       Di antara para tenda relawan yang kini usai didedahkan karena sudah memasuki hari kerja dan habis masa kontrak, Kak Risma dan tim malah memindahkan posko relawan dari posko 9 di SMPN 2 Pasirian ke rumah pribadi beliau di desa Pasirian. Hal itu dilakukan agar tidak terhentinya langkah kebaikan yang ingin terus mereka galakkan demi segores lengkung senyuman di bibir para korban yang kebahagiannya hampir dimusnahkan oleh sang Mahameru. Hanya besarnya jiwa kemanusiaan yang membuat mereka terpanggil untuk terus menjembatani para korban yang terlihat begitu takut dengan kehidupan yang telah merenggut segala ceria, menuju peripenghidupan baru yang dipenuhi dengan serumpun harapan untuk masa depan.para korban yang terlihat begitu takut dengan kehidupan yang telah merenggut segala ceria, menuju peripenghidupan baru yang dipenuhi dengan serumpun harapan untuk masa depan.

        Sampai pada pertengahan bulan Januari, salah seorang relawan BPBD yang begitu akrab dan dekat dengan RealOne Community tutup usia dikala ingin mengubah status dari penghuni tenda menjadi penghuni rumah. Mas Taufik, beliau mengalami kecelakaan di saat melewati angin puting beliung di perjalanan pulang. Hanya untaian doa dan rangkaian kisah sendu yang sanggup diutarakan untuk mengenang kebaikan hati mas Taufik. Semoga setiap detak jantung dan getar yang ia langkahkan di desa ini menjadi penolong yang utuh saat ia berjalan menuju sang Illahi.

      Hingga kini, 4 Februari 2022 RealOne Community masih menyambangi daerah terdampak. Bekerja bakti menanam pohon Sengon untuk membantu menebus kerugian warga. Sebab, hal itu sangat berdampak pada perekonomian desa. Mereka juga membersihkan dan merenovasi masjid yang tertimpa beratnya abu vulkanik agar bisa digunakan kembali untuk beribadah oleh para relawan serta aparat yang masih berlalu lalang memantau kondisi desa. Ada beberapa tempat ibadah yang masih berdiri kokoh tetapi warga desa telah dihimbau untuk meninggalkan lingkungannya dan energi listrik pun telah ditiadakan. Hal ini dilakukan karena desa tersebut sudah dinyatakan sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB).

       Berbagai macam risiko ditempuh demi mengibarkan bendera kemanusiaan. Cuaca di Desa Sumberwuluh yang dikategorikan ekstrim sempat menyiutkan nyali mereka untuk kembali ke daerah terdampak. Langit yang mulai muram, hujan angin serta dinginnya udara yang tajam menusuk kulit ditambah lagi dengan awan panas guguran (APG) yang kerap kali dimuntahkan sedikit oleh Mahameru membuat para relawan ketakutan. Tetapi, ada ratusan juta doa yang tiada hentinya dikumandangkan menyentuh bumi dan terbang jauh menuju langit. Membuat mereka bisa menghidupkan kembali api semangat yang memang sejak lama bermukim dalam diri.

      Semoga tumpukan waktu dan tenaga yang telah mereka timbun di sana dapat menjadi semangat baru bagi para korban dan menyadarkan bahwa sejatinya kita tidak mungkin hidup dan memikul beratnya beban ini sendirian. Kita punya banyak saudara yang lahir dari rahim berbeda. Mereka dibentuk dalam wujud relawan – relawan hebat ini. Semoga lekas usai segala ingar – bingar yang terjadi di desa yang terdampak. Semoga scercah harapan segera mengayun dalam desauan angin yang beriring doa dari hati setiap manusia yang sempat terluka.

 

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris

 

Penulis: Hanifah Dwi Nur Abibah

Editor  : Khoirul Nizam Muhammad