pendidikan jember darurat  asusila

0 0
Read Time:1 Minute, 37 Second

Jember  (25/3). Peristiwa tindak asusila dalam dunia pendidikan jember sedang berada pada posisi darurat, selama periode awal tahun 2017 Polres Jember telah menangani 5 (lima) kasus tindak asusila, dari oknum guru sampai dengan tindakan asusila yang dilakukan siswa tersendiri.
maraknya kasus asusila oleh pelajar dan guru dijember tidak   terlepas dengan perkebangan zaman yang serba bebas,  dimana semua hal negatif dapat terakses begitu mudahnya, sementara guru serta orangtua selama ini kurang waspada dalam mengawasi perilaku menyimpang dari anak anak didik.  selama ini orang tua dan guru menganggap tanda tanda penyimpangan sebagai kondisi yang lumrah, karena mereka percaya bahwa anak telah dibekali pemahaman tentang ilmu agama sehingga diyakini tidak akan melakukan perbuatan asusila.

ajaran serta pemahaman nilai agama yang selama ini dianggap orang tua dan guru mampu  memagari anak dari perilaku tindak kejahatan nampaknya kurang berperan baik. dari sekian banyak pelaku kejahatan asusila justru dilakukan oleh mereka yang umumnya sudah fasih dalam mengaji dan mengerti antara hal baik serta tidak baik.

Senada dengan hal itu, Isa Mahdi DPRD Jember Komis D Meberikan pernyataanya melalui telvon ”

tindakan asusila yang dilakukan guru dan pelajar  di jember berada pada posisi warning lampu merah,  memprihatinkan Jember kedepan
ujar habib isa sapaan akrabnya.

Legislator dari partai Hanura ini menebahkan “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

selama ini banyak pelajar yang telah dibekali ilmu agama. salah satu contoh kasus yakni di Bangsalsari dimana para pelaku itu telah fasih dalam mengaji dan meraka mengerti salah baiknya dari prilaku, tapi mereka bertindak salah bukan karena kurangnya pemahaman nilai ajaran agama, tetapi kurangnya pengawasan dari guru dan orang tuanya.

 

diakhir tanggapnya habib isa menghimbau kepada seluruh stakeholder di Jember agar berperan aktif dalam menjaga kualitas pendidikan di Kabupaten Jember sehingga generasi muda dalam jangka waktu 10-20 tahun jember kedepan akan tumbuh menjadi insan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat,  tak lagi terjumus pada perilaku negatif dengan harapan supaya iklim sosial di Kabupaten Jember menjadi lebih tentram dan Kondusif (Anw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Syair Perjuangan,  tribute to ibu patmi

0 0
Read Time:36 Second

Senjakala menyingsing konflik di lahan agraria

Biduan petani-petani desa menyemai kesejahteraan

Ketika rinai-rinai hujan bercericit canda tawa

Sembari menanak rindu yang kian deras memaki keadilan
Di lahan pembebasan

Suaramu meradang juang dihadapan sorot kamera

Ketika perlahan barikade beton menindas habis sawahmu

Atas nama moncong penguasa yang dikulum janji tuan cukong
Nyanyian lukamu lantang terdengar menikam nyali penguasa

Syair dukamu tak kunjung letih menghantui seringai tuan cukong

Derai air matamu jatuh menangisi tanah kendeng

Dari urat nadi terdalam,  darahmu mengucurkan perlawanan
Sampai pada hari ini, ketika kau tlah gugur

Tuhan memanggilmu pulang,  di jalan kebenaran

Namun roda perjuangan akan terus berbicara

Melanjutkan harapanmu,  hingga tuntas!
Selamat jalan Ibu Patmi.

Dengan cinta

From UKM Pijar to Kendeng

Berpijarlah petani kendeng!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Dagelan Politik Kampus

0 0
Read Time:3 Minute, 43 Second

OPINI,

Mahasiswa secara historis memang tak akan pernah lepas dengan Citra sebagai Agent of Change,  suatu Citra yang tak terbantahkan lagi ketika di masa pra-kemerdekaan telah berkalang tanah di ranah organisasi membaur dengan rakyat sipil serta pejuang kemerdekaan untuk mengentaskan harkat bangsa ditangan bangsa penjajah.

Dan juga ketika memasuki masa Orde Baru,  dibawah rezim yang sangat represif justru mahasiswa dipaksa kembali ke kampus,  dilarang berorganisasi dengan beragam dalih semisal membahayakan stabilitas negara hingga tudingan pemberontakan PKI yang disinyalir akan bangkit lagi ketika itu, namun pada akhirnya bersama aktivis dari kalangan rakyat,  mahasiswa berhasil menumbangkan suatu rezim yang sangat represif tersebut,  yakni rezim Orde Baru Presiden Soeharto.

Namun lain zaman lain pula aral yang melintang.  Di era Konsolidasi Demokrasi saat ini justru iklim di ranah Mahasiswa seakan kembali ke Era Orde Baru, dimana Mahasiswa “back to campus”, namun kini motifnya bukan karena tekanan rezim pemerintahan yang represif,  melainkan terlena akan segala kemudahan yang ada saat ini sehingga secara tidak langsung telah membentuk pragmatisme mindset mahasiswa secara tidak langsung untuk “back to campus and reach your goal”. Benang merah dari kesamaan kondisi yang terjadi di iklim Mahasiswa saat ini adalah : Kurangnya kesadaran Mahasiswa akan pentingnya Berorganisasi.  Singkirkan sejenak alibi tentang hak-asasi,  karena disini kita akan berbicara tentang hakikat Mahasiswa yang sebenarnya,  melebihi arti daripada cita-cita pribadi Mahasiswa itu sendiri.

Di kampus manapun seantero nusantara, tentu sudah banyak organisasi mahasiswa intra kampus, sebagai wadah pengembangan potensi non-akademik mahasiswa. Dan juga ada organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek) dimana Di Indonesia sendiri terdapat banyak Ormek-Ormek yang sudah lama hidup dan berjuang mengawal sejarah pergolakan bangsa, dengan beragam Ideologi dan cita-cita yang diusung.

Sebut saja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan juga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lain-lain. Namun satu hal yang sepantasnya kita pahami, bahwa semua Ormek yang ada di kampus-kampus tersebut memiliki cita-cita besar yakni membangun Negara Indonesia menjadi lebih baik lagi, sesuai dengan yang tersemat pada UUD 1945. Melalui kader-kadernya,  sudah banyak lahir para tokoh-tokoh penting bangsa yang dulunya berkalang tanah belajar di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus.

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus sendiri hampir selalu mewarnai konstelasi panggung politik di kampus, melalui perwakilan kader-kadernya untuk duduk di pos-pos Leading Sektor. Hal ini dikarenakan kampus merupakan miniatur kehidupan berbangsa dan bernegara, maka dari situlah Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus tampil sebagai wadah untuk mencetak Mahasiswa yang tidak hanya berkompeten secara Akademik saja, melainkan Multi-Kompeten.  Analoginya,  Mahasiswa seharusnya bisa hidup di Air,  di Gurun,  di Darat dan di Udara.  Artinya,  Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus mendidik Mahasiswa sebagai wadah untuk menempa diri menjadi Insan yang Multi-Kompeten, untuk menginterpretasikan Citra Mahasiswa sebagai Agent of Change..
Namun, kini keberadaan organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus tampak kurang diminati, bahkan keberadaanya dipandang sinis dengan beragam alasan Klise,  terlalu politis! misalnya.

Hal ini bisa kita pahami karena sejalan dengan masifnya pemberitaan di berbagai media cetak maupun elektronik terkait kiprah para politisi yang terjerat berbagai kasus korupsi dan lain sebagainya,  hal tersebut sangat efektif dalam membentuk opini mahasiswa secara umum supaya menjadi antipati terhadap nilai tawar dari proses belajar Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus.

Mahasiswa yang bersikap antipati untuk belajar berorganisasi di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus biasanya disebut sebagai Mahasiswa “Netral”. Suatu sikap yang bisa dipahami sebagai pilihan hak pribadi dan tentu tidak bisa kita salahkan.
Namun yang sangat disayangkan, akhir-akhir ini sepertinya mulai menyebar virus “anti-ormek” yang konon kabarnya dihembuskan oleh para Mahasiswa “Netral” kepada para Mahasiswa Baru dengan menebar isu-isu yang tidak benar tentang Ormek, supaya para Maba enggan untuk berproses di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus. Terlepas dari benar atau tidaknya isu tersebut,  tentu sangat disayangkan jika benar terjadi dan jelas sangat merugikan merugikan bagi setiap Ormek dalam hal Pengkaderan. Jika Ormek dituduh terlalu politis oleh sekelompok mahasiswa “netral anti-politis” maka justru sesungguhnya para mahasiswa itu tengah berpolitik,  supaya tujuannya tercapai,  yakni mempengaruhi mahasiswa untuk tidak berproses di Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus. Karena Politik sendiri dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan/kepentingan.  Sama saja kan?
Pada akhirnya, sebagai sesama Mahasiswa yang masih satu warna almamater maka sudah sepantasnya untuk saling menjunjung aspek profesionalitas dalam belajar dan berproses. Tak perlu lah kiranya untuk menjatuhkan ataupun menjegal mahasiswa/i lain untuk berproses di Ormek dengan cara-cara yang kurang baik. Sejatinya,  Ormek juga menghormati Mahasiswa yang memilih untuk tidak beproses di Ormek.  Jadi,  marilah kita saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing.  Karena ketika sudah berada di dalam kampus,  kita semua adalah sama.  Salam Mahasiswa! (RQN)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Organisasi Butuh Loyalitas dan Komitmen

0 0
Read Time:1 Minute, 12 Second

Pijar (15/3) Serah terima jabatan (sertijab) adalah salah satu agenda yang sangat sakral dan sangat penting dilaksanakan, karena agenda ini bertujuan untuk meneruskan estapet kepengurusan dari kepengurusan sebelumnya terhadap kepengurusan selanjutnya. Hal ini disampaikan oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember Farhan Azis saat ditemui disela-sela acara sertijab di gedung PGSD FKIP UNEJ.

ya, tujuan dari sertijab ini adalah sebuah prosesi yang begitu sakral yang dilakukan oleh kepengurusan sebelumnya terhadap kepengurusan selanjutnya”, ujar Farhan.

Farhan menambahkan bahwa, untuk membawa sebuah organisasi dibutuhkan sebuah komitmen dan loyalitas yang tinggi dari seluruh elemen untuk mencapai visi misi organisasi. “Kalau untuk membawa organisasi kita harus bisa punya komitmen dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi dan harus bisa sinergi dengan seluruh organisasi yang ada di Fkip”, tegasnya.

Farhan juga menjelaskan bahwa, dalam melaksanakan agenda ini dilaksanakan oleh seluruh kepengurusan sebelumnya terhadap kepengurusan selanjutnya. “Ya, saya berharap untuk kepengurusan selanjutnya lebih baik dan bisa bersenergi dengan birokrasi dan Ormawa seuniversitas, khususnya birokrasi dan Ormawa Fkip Unej”, lengkapnya.

Hal senada disampaikan oleh ketua BEM preode 2016 Bobi Prawono Mshadi saat dimintai keterangan disela-sela acara. “Seremonial untuk memberikan jabatan dari kepengurusan BEM sebelumnya terhada BEM seterusnya dan saya berharap untuk kepengurusan BEM selanjutnya harus bisa lebih baik dari pada kepengurusan yang saya pimpin sebelumnya”, ungkapnya.

Selama pemantauan pewarta PIJAR dilokasi acara tersebut di hadiri oleh Ormawa se FKIP dan pengurus 2016 dan seluruh pengurus BEM 2017.(pul)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Selayang kabar Muskot PPMI ke X 

0 0
Read Time:1 Minute, 23 Second

UIJE (10/3) acara Musyawarah Kota yang digelar oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia telah resmi dibuka sejak jum’at pagi, bertempat di Aula Universitas Islam Jember. acara yang melibatkan seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Jember tersebut akan diawali dengan acara pelatihan menulis Analisis Sosial pada hari pertama, pelatihan menulis Features di hari kedua serta sidang pemilihan Sekjen PPMI Kota Jember di hari ketiga.

Dengan mengusung tema “Meningkatkan Solidaritas dan Integritas Dalam Mengawal Isu Lokal”, acara Musyawarah Kota tersebut tampak meriah saat ketua panitia, kawan Agung dari LPM Manifest memberikan sambutan. Tak ketinggalan pula Sekjen PPMI Kota Jember yakni kawan Joko Cahyono yang notabene mantan Pimpinan Umum Manifest juga memberikan sambutan, hingga sambutan Sekjen Nasional PPMI kawan Vito yang datang jauh dari Makassar juga turut hadir memberikan sambutan, seakan membumbungkan optimisme peserta akan masa depan PPMI Kota Jember.

Dalam sambutannya, Kawan Joko Cahyono selaku Sekjen PPMI Kota Jember menekankan akan pentingnya berjejaring bagi kawan-kawan Pers Mahasiswa di setiap kota untuk saling menguatkan. “berjejaring itu sangat perlu, kekuatan persma di organisasinya ini adalah pada jaringan ujarnya. Hal tersebut juga diamini oleh kawan Vito selaku Sekjen Nasional PPMI. “besar harapan kami, kawan-kawan LPM atau kota tetap berkoordinasi dengan kami, agar bisa mengetahui kondisi atau perkembangan kawan-kawan di setiap kota atau LPM nya”ujarnya.

Di akhir sambutannya, kawan Vito juga menambahkan “program kami kedepan dari PPMI Nasional akan berusaha menjamin kebebasan kawan-kawan baik di lingkup kampus, eksternal dalam karya-karya jurnalistik”. Hal tersebut nampaknya kian menguatkan upaya LPM-LPM se Indonesia supaya bisa lebih produktif dalam melahirkan karya-karya Jurnalistik serta giat dalam berjejaring sesama LPM guna mengawal isu-isu lokal, semoga. Salam Persma! (Ulriz Tielman)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Hijrah

0 0
Read Time:26 Second

dalam hampa dia memandang  kalbu.

mencoba berbicara pada hatinya yg beku.

namun kalbu tak mau menjadi guru

sebab sudah lama dia merasa tak pernah dirayu

fikirannya pun begitu

mencoba menelaah yg lalu.

dikala langkah yg dia lalui dulu.

menjadi cermin yg kelabu.

bodohnya si pemalas itu.

fikirannya hanya kesenangan yg semu.

tak pernah peduli nasehat sang guru.

di terlena oleh barang haram yg namanya sabu.

ditengah gejolak hati yg begitu besar.

dia menadahkan tangan yg gemetar.

dia mengucap tak bir allahuakbar.

ampunilah aku tuhan yang maha besar.(ndi)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Dekan FKIP UNEJ: KKMT GOES TO THAILAND

0 0
Read Time:1 Minute, 54 Second

Jember (23/02). Menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)  sebagai terbukanya pintu gerbang pasar bebas dan segala bentuk investasi maupun kerja-sama diantara seluruh negara-negara serta masyarakat di kawasan ASEAN nampaknya juga telah berimbas pada bidang pendidikan, khususnya di Perguruan Tinggi. Baru-baru ini Universitas Jember melalui salah satu Fakultasnya telah menyepakati suatu program kerjasama brilian dengan negara sahabat di ASEAN yakni Thailand.  Dimana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan bekerja-sama dengan EIS (English for Integrated School) Thailand yang dikepalai oleh Mr. Surapong Ngamsong.

Bentuk dari program Kerjasama tersebut meliputi pengiriman Mahasiswa/i FKIP unej ke Thailand dalam Program KKMT selama sebulan yang setiap tahunnya dibagi dalam 2 periode yakni pada bulan Mei dan Oktober mendatang. Setiap prodi memiliki jatah slot 3 mahasiswa yang terpilih melalui proses seleksi kemampuan berbahasa inggris serta keterampilan non-akademik untuk melaksanakan program KKMT ke Thailand, dengan jumah 11 prodi maka dalam satu periode ada total 66 Mahasiswa/i FKIP  yang akan diberangkatkan. Adapun selama satu bulan, biaya hidup di Thailand ditanggung sepenunya oleh Pemerintah Thailand,  Mahasiswa terpilih hanya akan diperkenankan menanggung tiket penerbangan secara mandiri ke Negeri Gajah Putih.

Prof. Dafik. M,Sc  P,hD selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ketika dimintai keterangan oleh awak LPM Pijar terkait sifat dari program KKMT Thailand menuturkan bahwa Program tersebut tidaklah mewajibkan seluruh mahasiswa untuk mengikutinya. “hanya yang mampu dan berminat saja”  ujarnya. Karena output dari Program KKMT Thailand sendiri berupa tergugurkannya kewajiban mahasiswa menempuh KKMT di semester 7, beserta Outcome yang yang tidak kalah berharganya bagi Mahasiswa, yakni kemampuan serta pengalaman mengajar di kelas yang sarat akan keberagaman (Multikultural).

Program KKMT Thailand sendiri seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dafik. M,Sc  P,hd, dirasa sangat perlu karena Universitas Jember sendiri tengah menuju asean university network, dalam konteks Masyarakat Ekonomi Asean, pembekalan mahasiswa melalui program KKMT ke Thailand sebagai modal bersaing dan juga untuk mengantisipasi minimnya stok tenaga pengajar bertaraf internasional di bidang pendidikan. “Memfasilitasi yang bertalenta untuk dibimbing ke negara lain” ujarnya.

Dengan demikian, program kerjasama dengan EIS ( English for Integrated Study) Thailand bukanlah suatu pogram yang memberatkan mahasiswa/i FKIP secara umum, karena tujuan dari program tersebut benar-benar murni untuk pengembangan Sumber Daya Manusia para mahasiswa di FKIP dalam menyambut MEA serta mengejar ketertinggalan kualitas Negara Indonesia dalam bidang Pendidikan. (Tielman)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

SKPI NILAI TAMBAH BAGI MAHASISWA

0 0
Read Time:1 Minute, 56 Second

Jember (27/2) Surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) akan segera diterapkan untuk para lulusan Universitas sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomer 81 tahun 2014. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember Prof., Drs. Dafik M.Sc., Ph.D. saat ditemui di gedung III FKIP UNEJ. “Mulai lulusan bulan juni 2017 akan diberlakukan atau diterapkan SKPI (Surat keteranagn pedamping ijazah RED), ujar Dafik panggilan akrabnya.

Dafik juga menambahkan bahwa, SKPI menjadi nilai tambah bagi mahasiswa. Ada 8 item keunggulan SKPI yaitu Lulusan juga memiliki nilai tambah dibidangnya,  Lulusan juga memiliki nilai tambah di luar bidangnya yang terkait ketrampilan dan sikap dalam kewirausahaan, Lulusan juga memiliki ketrampilan dan sikap adaptif terhadap perubahan, sadar lingkungan dan lingkungan social, pembelajar reflektif dan sebagai problem solver yang bertanggung jawab, Lulusan juga memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan mendorong orang lain agar bekerja keras dalam mencapai suatu tujuan, Lulusan juga memiliki kemampuan menyampaikan pendapat/ gagasan yang efektif baik secara lisan maupun tulisan sesuai dengan kaidah komunikasi, Lulusan juga memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain secara kooperatif dan menjadi bagian dari kelompok untuk menyelesaikan tugas atau tujuan tertentu, Lulusan juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah, Lulusan juga memiliki komitmen yang tinggi, dan mampu bertahan dalam menghadapi hambatan dan rintangan dalam mencapai tujuan.

“mahasiswa yang lulus tidak hanya mendapatkan ijazah dan transkip nilai melainkan juga SKPI yang berupa sertifikat dan SKPI memiliki delapan keuntungan bagi mahasiswa yang lulus dari Universitas khususnya lulusan dari FKIP”, lengkapnya.

Dan saaat dimintai keterangan masalah siapa yang terkait dalam pengawasan mengenai SKPI didalam intra kampus Dafik menerangkan bahwa pihak prodi untuk mengontrol secara penuh. “sedangkan untuk ekstra kampus ketua organisasi harus profesional dan akan di awasi juga dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sendiri akan memfasilitasi SKPI yang berkualitas, salah satunya KKMT ke Thailand” tegasnya.

Dafik juga menambahkan bahwa, untuk mekanisme mengumpulkan serifikat dan mengaploadnya ke sister dan akan di verifikasi oleh operator fakultas, lalu kaprodi atau kajur,dan tingkat Fakultas atau PD3 (Pembantu dekan) yang memvalidasi.”Secara substansial item-item yang ada didalam SKPI terkait dengan kegiatan tambahan pengembangan soft skill mahasiswa, terbagi antara skill khusus dan umum. Skill khusus misalnya dari lulusan bahasa Indonesia mempunyai sertifikat lomba pidato dan sebagainya. Skill umum sifatnya terkait organisasi yang diikuti baik intra maupun ekstra”, lengkapnya.(AR)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

MUSHOLA BARU , HARAPAN BARU

0 0
Read Time:1 Minute, 48 Second

Jember (23/02) Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) melaksanakan kegiatan tasakuran untuk mengukuhkan Mushola. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah memupuk rasa spiritual mahasiswa agar bisa lebih dekat dengan Sang pencipta dan munculnya rasa kepedulian terhadap pendidikan.Hal ini disampaikan oleh ketua Ta’mir FKIP Dr. Sukidin,M.Pd saat dimintai keterangan oleh reporter Pijar di Mushola FKIP.

Kegian kali ini bertujuan untuk melaksanakan kegiatan tasakuran Mushola Ki Hajar Dewantara. Dan kenapa Mushola ini diberi nama Ki Hajar Dewantara? Karena kami berharap dari mushola ini ada semangat proses pendidikan sesuai dengan fakultas kita yakni fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Dan kita tahu Ki Hajar Dewantara ini adalah tokoh pendidikan di Indonesia bahkan dunia, dan saya berharap untuk mahasiswa FKIP tidak hanya belajar masalah duniawi saja melainkan bisa memupuk rasa cinta terhadap Sang Pencipta”, ujar pak Kidin panggilan akrab beliau.

Pak Kidin juga menambahkan bahwa, Mushola ini tidak hanya sebagai bangunan yang berdiri tanpa penghuni melainkan sebagai sarana untuk tarbiyah maupun tempat dimana tempat belajar. “saya berharap, untuk mahasiswa FKIP khususnya, agar bisa memupuk semangat dan menjaga mushola ini, dan sebagai sarana tarbiyah ataupun pendidikan, baik pendidikan informal maupun non formal”, lengkapnya.

Dosen Pendidikan Ekonomi ini juga menyampaiakan, kegiatan di mushola ini sendiri, selain sholat berjamaah akan ada rutinan sholawat serta pembacaan surat yasin dan juga pengajian bulanan. “ yang paling dekat ini adalah peringatan Isro’ mi’roj  yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 18 april di muhola ki hajar dewantara ini yang insyaallah akan mendatangkan ketua PCNU jember KH. Samsul Arifin”, tegasnya.

Pak Kidin juga menyampaiakan bahwa  pembangunan mushola ini merupakan inisiatif dari keluarga alumni FKIP ketika reuni, dimana para alumni ini ingin memberikan kontribusi terhadap FKIP. “pembangunan mushola Ki hajar dewantara menelan biaya hampir 150 juta rupiah yang didapat dari para donatur alumni FKIP, civitas akademi FKIP, maupun masyarakat luar”,lengkapnya.

  • Dan selama pengamatan reporter PIJAR dilokasi, acara tersebut dihadiri oleh kalangan civitas akademik FKIP dan Ormawa (organisasi mahasiswa) yang ada di FKIP. Dan dari informasi yang didapatkan oleh reporter PIJAR bahwa pembanguna mushola ini didirikan pada bulan September 2016 dan telah diresmikan pada akhir Desember 2016  kemarin oleh Prof. Dafik, .M.sc, P.hd selaku dekan FKIP.(mh)
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

“Posko Advokasi ” Memperdekat Mahasiswa Dengan Birokrasi

0 0
Read Time:1 Minute, 9 Second

FKIP UNEJ (11/02), Badan eksekutif mahasiswa (BEM) FKIP unej merilis bedirinya posko advokasi mahasiswa. Posko  yang beranggotakan para pengurus BEM dari bidang advokasi ini berfungsi  menampung segala bentuk aspirasi dan permasalahan  mahasiswa, semisal keluh kesah UKT (Uang Kuliah Tunggal) hingga melingkupi permasalah akademik serta oramawa.

hal ini disampaikan secara langsung oleh Joni Wibowo selaku anggota bidang advokasi BEM FKIP saat dimintai keterangan di gedung 1FKIP Unej. “kami dari BEM berusaha memperdekat hubungan teman-teman mahasiswa dengan kami, salah satu caranya kita bentuk adanya  wadah aspirasi ini yang akan membantu setidaknya permasalahan yang ada pada temen-temen seperti tahun kemarin banyaknya mahasiswa yang dibingungkan permasalah UKT“. ujar Joni pangilan akrabnya.

  • pengurus BEM dari Pendidikan Sejarah tersebut juga menambahkan, bahwa posko advokasi yang didirikan itu juga membantu mahasiswa untuk lebih mengenal para pejabat birokrasi di Unej khususnya di FKIP, mengenal fungsi dan tugasnya serta mendekatkan mahasiswa dengan alur sistem birokrasi.

Dari hasil pantaun reporter pijar di posko advokasi yang bermarkas di sekretariat BEM ini direspon postif oleh kalangan mahasiswa FKIP “saya cukup terbantu sama mas-mas di posko ini permasalah pengarapan TOR pengajuan anggaran yang saya kurang pahami sama mas masnya diberikan pendampingan dalam penggarapanya“. ujar dyah permatasari salah satu mahasiswa FKIP.

Sementara itu dalam mekanisme kerja posko advokasi, setiap mahasiswa bebas menyapaikan permasalahannya pada BEM dan selajutnya akan dilakukan pendampingan untuk penyelesaian masalah dalam koridor pengawasan Badan Perwakilan Mahasiswa(BPM). (anw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Mangkraknya LPJ BEM 2016 Menghambat Kinerja BEM Baru

0 0
Read Time:1 Minute, 19 Second

Kemahasiswaan FKIP (21/02), Proses keberlangsungan masa kerja ormawa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ) akan mengalami kemuduran karena adanya kendala, yakni belum dilaksanakannya proses LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) oleh pengurus BEM Periode 2016 berdasarkan surat edaran dari pihak kemahasiswaan. bahwasanya hasil LPJ dari semua oramawa FKIP seharusnya diserahkan paling lambat pada saat pelantikan pengurus BEM (Badan Eksekutiv Mahasiswa) periode 2017, namun hal ini nampaknya belum disikapi secara profesional dan transparan oleh pengurus BEM 2016.

Kemahasiwaan selaku penanggung jawab ormawa  yang diwakili bapak marzuki membenarkan adanya masalah tersebut “ BEM sampai saat ini belum memberikan LPJ padahal kami selaku kemahasiswaan jauh jauh hari kemarin telah memberikan surat edaran tentang batasan akhir LPJ pada semua ormawa namun kurang direspon oleh BEM “.

bapak marzuki juga menambahkan “kami sebenarnya sudah memberi keringnganan pada pengurus BEM kemarin karena ada kemunduran acara p2maba namun setalah satu bulan p2maba terlaksana BEM belum ada etikat bait untuk memberikan hasil LPJ nya padahal ormawa ormawa dibawahnya telah selesai melaksanakan “.

Sesuai dengan mekanisme yang berlaku di FKIP, bahwa setiap ormawa yang telah berakhir masa kepengurusannya diwajibkan untuk menyerahkan hasil LPJ selama satu tahun periode pengurusannya, sebagai suatu bahan evaluasi kepengurusan dengan cara menyampaikan hasil LPJ kepada BPM selaku lembaga Legeslatif, selanjutnya hasil LPJ tersebut digunakan sebagai sarat pengajuan RAB (Rencana Anggaran Belanja ) kepengurusan ormawa pada periode selanjutnya.Munculnya kendala seperti ini menimbulkan persepsi skeptis di kalangan mahasiswa FKIP secara umun, ada apa dengan BEM dan BPM 2016? (eksekutif dan legeslatif) sebagai lembaga koordinatif, seharusnya BPM yang mempunyai fungsi kontrol terhadap lembaga eksekutifnya mampu menjalankan tugasnya sehingga tidak muncul polemik semacam ini. (jw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Pahlawanku

0 0
Read Time:21 Second

Wahai pahlawan indonesia

Tentulah hari ini kau mendengarkan beribu-beribu insan mengenang jasamu

Insan-insan kecil mulai diperkenalkan namamu

Harum namamu akan slalu abadi

Hingga celah pada benang tak bisa menghilangkan namamu

 

Telah gugur pahlawanku

Tunai sudah janji bakti, tanah air jaya sakti

Gugur bungaku ditaman hati

Dihari baan pertiwi

Harum semerbak benang-benang sari

Semoga darahmu terus mengalir di tubuh cucumu

Darah perjuangan

Darah keabadian

Darah Indonesia

(Ang)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Titik Kisar Perjalanan Ki Hajar Dewantara

0 0
Read Time:1 Minute, 12 Second

Peristiwa perlawanan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan pada 10 Nopember 1945 merupakan tragedi besar yang saat ini terefleksikan menjadi hari pahlawan. Pahlawan merupakan lambang perjuangan yang dilakukan oleh orang-orang untuk kemaslahatan, salah satu contohnya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889, yang terkenal dengan sebutan Bapak Pendidikan. Pahlawan pendidikan yang terkenal  dengan  karyanya “Tut Wuri Handayani” ini terbukti berjasa bagi Indonesia, di mana atas propaganda dan semangatnya mempersatukan dan membawa Indonesia pada kedudukan yang lebih mulia.

Di masa penjajahan termasuk Soewardi menulis “Een Voor Allen Naar Ook Allen Voor Een” atau “Satu Untuk Semua”, dimana tulisan tersebut dimaksudkan untuk melakukan penarikan dana sebagai perayaan kemerdekaan Belanda. Karena keaktifan dan kekritisannya tersebut, Ki Hajar Dewantara dianggap membahayakan bagi pemerintahan belanda dan akhirnya pemerintah belanda mencoba meredam semangat aktivitas Ki Hajar Dewantara  dengan mengasingkannya ke luar negeri.

Akhir 1919 Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia. Pengalaman dalam dunia pendidikan membuat Ki Hajar Dewantara aktif di dunia pengajaran pada masyarakat, sehingga pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara berhasil mendirikan National Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Peninggalan Ki Hajar Dewantara bukan hanya perguruan tinggi, namun masih ada nilai semangat yang masih dilandaskan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan pada masa ini yang berbunyi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ng Ngarsa Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dibelakang memberi dorongan). Selamat Hari Pahlawan!!! (An)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

International Office Universitas Jember Kembali Mengadakan Workshop

0 0
Read Time:1 Minute, 57 Second

International Office Universitas Jember menggelar Workshop Sosialisasi Pemanfaatan Media Sosial Untuk Meningkatkan Komunikasi Akademik pada tanggal 09 Nopember 2016 di gedung Soerahman lantai 3. Berbagai peserta yang hadir berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Jurusan/Prodi se-Universitas Jember, Dekan se-Universitas Jember, pejabat UPP, pejabat UPT, dan sebagainya. Dalam workshop ini, menghadirkan pemateri yakni Drs. Zukfikar, Ph. D (Wakil Rektor 1), Rizki Fadilla (Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi sekaligus penggagas We Love Unej) dan Irwan Fahmi (Penggagas Info Jember). Dalam workshop ini, antusias peserta begitu tinggi, dibuktikan dengan hampir penuhnya tempat duduk yang tersedia di ruangan workshop. Selain itu, media sosial adalah salah satu bagian penting dalam era ini yang tak terbantahkan, sehingga tema kali ini mendapat sambutan baik dari para undangan peserta workshop.

Hal yang melatarbelakangi adanya gagasan pemanfaatan media sosial untuk peningkatan komunikasi akademik, menurut Wakil Rektor 1, hampir semua mahasiswa Universitas Jember mempunyai Smartphone yang didukung oleh media sosial. Tak hanya itu, pada saat Penawaran Mata Kuliah, sebagian besar mahasiswa menggunakan handphone seluler, sehingga hal tersebut memicu adanya sebuah gagasan untuk meningkatkan komunikasi dengan mengikuti alur perkembangan zaman dengan pemanfaatan media sosial dan sekaligus membenahi pola komunikasi yang kurang optimal. Tak hanya itu, media sosial yang harapkan Wakil Rektor 1, juga dapat dimanfaatkan sebagai media sosialisasi kegiatan di setiap sudut-sudut Universitas Jember dan sebagai sarana promosi produk-produk Tri Dharma Universitas Jember. Harapan tersebut didukung juga oleh ulasan-ulasan yang berasal dari penggagas We Love Unej dan Info Jember yang kabarnya mampu mengalahkan Official Universitas Jember bahwa karya yang mereka ciptakan telah menjadi sebuah media mahasiswa atau masyarakat umum untuk mengetahui informasi seputar Universitas Jember. Tak hanya itu, penggagas tersebut juga berbagi pengetahuan tentang media sosial dan manfaat yang dapat digunakan oleh pihak universitas untuk memperbaiki komunikasi akademik yang kurang optimal tersebut.

Tindak lanjut dari Workshop Sosialisasi Pemanfaatan Media Sosial Untuk Peningkatan Komunikasi Akademik yang disampaikan oleh Wakil Rektor 1 adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi produk-produk Tri Dharma Universitas Jember, pengembangan event-event kemahasiswaan dan selanjutnya akan tersambungkan pada link Web Universitas Jember, Perpustakaan Pusat, dan Web Fakultas, sosialisasi intensif baik official maupun voluenter, dan pengembangan E-Learning. Semoga dari workshop pemanfaatan media sosial untuk peningkatan komunikasi akademik akan mendoorng sekaligus membangun Universitas Jember menjadi lebih baik dan membentuk mahasiswa digital yang kemudian akan menjadi suplemen pendidikan digital yang baik.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %